Penembakan Masal AS: Trump Bilang Akibat Sakit Mental, Para Dokter Tidak Setuju

Internasional
Share the knowledge

Seorang pria meletakkan bunga di lokasi penembakan massal diEl Passo, Texas, AS, yang menewaskan sedikitnya 20 orang (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=0deO4BY2_yk
Seorang pria meletakkan bunga di lokasi penembakan massal diEl Passo, Texas, AS, yang menewaskan sedikitnya 20 orang (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=0deO4BY2_yk)

Dalam pidatonya kenegaraannya, Senin (5/8/2019), Presiden AS, Donald Trump, memiliki penjelasan untuk penembakan massal yang mengguncang AS dalam satu pekan ini. “Penyakit mental dan kebencian menarik pelatuknya,” kata Trump. Namun para dokter tidak setuju.

Pernyataan di atas merupakan respon awal Trump di Twitter-nya terhadap tragedi di Dayton; Ohio, dan El Paso; Texas, yang mewakili komentar anggota parlemen dan tokoh publik lainnya yang menyalahkan penembakan itu –kasus-kasus sebelumnya– kepada penyakit mental.

Para dokter dari seluruh spesialisasi frustrasi dengan framing tersebut, dan berdebat untuk fokus yang lebih kuat pada kontrol senjata terhadap kesehatan mental. “Ini benar-benar hanya mengambinghitamkan orang dengan masalah kesehatan mental,” kata Dr. Seth Trueger, asisten profesor kedokteran darurat di Universitas Northwestern, dilansir TIME.

Sementara tingkat kondisi kesehatan mental seperti depresi, kecemasan dan perilaku bunuh diri memang mengalami peningkatan di Amerika Serikat (AS), Trueger mengatakan negara-negara lain juga memiliki masalah yang sama, namun mengalami peristiwa penembakan massal yang jauh lebih sedikit.

“Negara-negara lain memiliki masalah kesehatan mental yang sama dengan yang kita miliki, jenis video game kekerasan yang sama dengan yang kita miliki, religiusitas yang sama dengan yang kita miliki. Semua hal itu hanyalah selingan dari perlunya kontrol senjata yang lebih baik,” katanya.

Studi menunjukkan bahwa sebagian kecil kejahatan dengan kekerasan yang diabadikan, dilakukan orang-orang yang didiagnosis memiliki masalah kesehatan mental, dan bahwa akses senjata –bukan gejala kesehatan mental– adalah prediktor utama kekerasan senjata api.

Postcomended   Slank Pasang "Jurus Tandur" Tolak Hak Angket KPK

Akibatnya, kader dokter-dokter vokal yang semakin besar, telah berargumen selama bertahun-tahun bahwa kekerasan senjata lebih merupakan masalah akses dan regulasi (terhadap senjata) daripada kesehatan mental.

Salahkan pada Penyakit Mental, Tidak Berdasar

Kelompok-kelompok termasuk American Academy of Pediatrics dan American Medication Association (APA) aktif dalam mengadvokasi undang-undang senjata yang lebih kuat dan program pencegahan kekerasan yang lebih luas, dan American Psychological Association secara teratur memperingatkan agar tidak menyalahkan penembakan massal pada kesehatan mental.

“Secara rutin menyalahkan penembakan massal pada penyakit mental tidak berdasar dan menstigmatisasi,” demikian bunyi pernyataan yang dikeluarkan APA pada 4 Agustus 2019, setelah tragedi Dayton.

“Tingkat penyakit mental kira-kira sama di seluruh dunia, namun negara-negara lain tidak mengalami peristiwa traumatis ini sesering yang kita hadapi. Salah satu faktor penting adalah akses ke –dan mematikannya– senjata yang digunakan dalam kejahatan ini. Menambahkan rasisme, intoleransi dan kefanatikan dalam campuran adalah resep untuk bencana.”

Jennifer Gunter, dokter kandungan/ginekolog yang berpusat di San Francisco dan pengelola akun Twitter medis yang blak-blakan, adalah salah satu dari banyak dokter yang menyuarakan perasaan itu secara online, dalam upaya, katanya, untuk memperkuat suara profesional kesehatan mental dan dokter pengobatan darurat di garis depan.

Setelah penembakan, profesional kesehatan mental di media sosial juga menarik perbedaan antara supremasi kulit putih –motif yang tampak untuk penembakan Texas– dan penyakit mental. Meskipun mudah untuk mereduksi motif apa pun atas perilaku mengerikan sebagai penyakit mental, dokter mengatakan itu bisa menjadi penyederhanaan berlebihan.

Postcomended   Natalie Portman Sebut Mantan Teman Kuliahnya Ini “Penjahat Super”

Sebaliknya, kata mereka, pembuat kebijakan harus fokus pada menghilangkan senjata api yang memungkinkan individu untuk menindaklanjuti rencana mereka. Trueger mengatakan, peraturan dan kebijakan senjata api yang lebih baik seharusnya menjadi keprihatinan yang lebih mendesak, bersama dengan peningkatan kemampuan para ilmuwan untuk melakukan penelitian tentang kekerasan senjata sebagai masalah kesehatan masyarakat dan strategi yang dapat mencegah tragedi ini.

Itu saat ini sulit, karena Amandemen Dickey 1996 melarang penggunaan dana federal untuk mempromosikan kontrol senjata. “Analogi yang sempurna adalah kendaraan bermotor. Mengemudi telah menjadi jauh lebih aman selama beberapa dekade terakhir, karena kami telah mempelajarinya, kami mendanai penelitian untuk itu dan kami telah menemukan kebijakan berbasis bukti untuk membuat mobil dan jalan lebih aman,” kata Trueger. “(Kekerasan senjata api) membutuhkan pendekatan yang sama.”

Sedikitnya 29 Tewas

Setidaknya 29 orang tewas dalam dua insiden penembakan massal di kota perbatasan dengan Meksiko, El Paso, Texas, dan di Dayton, Ohio, AS. Jumlah luka-luka di dua penembakan massal ini lebih dari 52 orang.
Dalam penembakan di El Paso, 20 orang meninggal dunia dan aparat penegak hukum setempat mengatakan pelakukanya akan dihukum mati.

Polisi telah menahan seorang pria 21 tahun. Tersangka adalah penduduk kota Allen di wilayah Dallas, sekitar 1046 km timur dari El Paso. Media AS melaporkan nama pria itu adalah Patrick Crusius. Kepada polisi, dia mengaku beraksi sendiri.

Postcomended   Terungkap Lebih dari 61 Data Statistik Mengerikan untuk Smartphone Sampai Tahun 2020

Sementara itu, pada penembakan yang terjadi di Dayton, Ohio, Minggu (4/8/2019) dini hari, beberapa belas jam setelah penembakan di El Paso, sembilan orang dinyatakan tewas, termasuk adik perempuan pelaku. Connor Betts (24), yang diidentifikasi sebagai pelaku penembakan, melangsungkan aksinya menggunakan senapan serbu sambil mengenakan pelindung tubuh di luar klub malam setempat, Ned Peppers.

Hingga kini, motifnya belum diketahui. Namun, polisi tidak menemukan adanya indikasi “motif bias” terhadap kelompok tertentu dalam penembakan tersebut. Pelaku tewas ditembak polisi saat mencoba menerobos masuk ke dalam klub malam itu.***


Share the knowledge

Leave a Reply