Tanpa bermaksud meniru Presiden Filipina, Presiden Indonesia pada Juli 2017, menginstruksikan aparat menembak di tempat bandar narkoba. Belum genap dua pekan instruksi itu disampaikan, aparat menembak mati seorang terduga bandar narkoba asal Malaysia. Sejak Manila bersikap kejam terhadap pengedar narkoba di negerinya, ada dugaan mereka kini menyasar Indonesia.

Dilansir BBC Indonesia, setelah Presiden Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), menginstruksikan agar aparat menembak pedagang narkoba, khususnya yang berkewarganegaraan asing, petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) menembak mati terduga bandar narkoba asal Malaysia.

Cheng Kheng Hoe alias Ahoi, warga negara Malaysia, terduga penyelundupan 17 kg sabu, ditembak mati Minggu (6/8/2017), karena dianggap melawan petugas saat akan ditangkap. Peristiwa terjadi di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

Instruksi tembak mati kepada bandar narkoba asing juga diaminkan Kapolri, Jendral Tito Karnavian, mengingat Indonesia menjadi pasar baru para pengedar narkoba “pelarian” Filipina.

Postcomended   Taylor Swift dan The Beatles pun Menyerah kepada Spotify

Pada pertengahan Juli 2017, aparat berhasil menggagalkan penyelundupan narkoba jenis sabu di Anyer, Banten, sebanyak satu ton. Seorang terduga asal Taiwan, tewas ditembak ditempat. Alasannya sama, melawan saat akan ditangkap.Instruksi Jokowi menembak di tempat bandar narkoba ini disampaikan dalam pidato acara Mukernas PPP di Jakarta, Jumat (21/7/2017). “Pengedar-pengedar narkoba asing yang masuk dan sedikit melawan, sudah… langsung ditembak saja. Jangan diberi ampun,” ujar Jokowi.

 

Para peserta Mukernas pun bersorak mendukung. Rupanya instruksi Jokowi ini disampaikan setelah sesaat sebelumnya, Ketua PPP, Romahurmuziy, meminta agar pemerintah menindak tegas pelanggar UU Narkoba.

Pada 13 Juli lalu, Kepala BNN, Komjen Budi Waseso (Buwas), menilai kebijakan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, membuat jaringan narkoba pindah ke Indonesia. Duterte dinilai Buwas telah membuat takut bandar narkoba di Filipina.

“Ini hanya satu jaringan yang mengirim satu ton. Kita belum tahu apakah ini jaringan lama atau baru,” ujar Buwas. Lebih lanjut kata Buwas, dampak penegakan hukum di Filipina yang sangat drastis, membuat jaringan-jaringan di Filipina pindah ke Indonesia. “Pasar di Filipina dilempar ke Indonesia,” ujar Buwas, 13 Juli 2017.

Postcomended   Kali Temi Kini Super Bersih Bagai Cheonggyecheon-nya Lumajang

Pernyataan Buwas sejalan dengan yang disampaikan Kepala Badan Pengawas Obat Filipina (PDEA), Isidro Lapena. Lapena mengatakan, perang Duterte terhadap pengedar narkoba berhasil.

Lapena mengatakan, pemerintahan Duterte “telah melakukan banyak hal” dalam waktu satu tahun memimpin ketimbang pemerintahan sebelumnya. Sejak Duterte berkuasa, ujarnya, 2.246 ton obat-obatan terlarang senilai 12.62 miliar peso, telah disita dalam berbagai operasi.

Itu sama dengan 198 persen lebih, kata Lapena, bila dibandingkan dengan volume obat-obatan terlarang yang disita selama tahun terakhir pemerintahan Presiden Benigno Aquino.

Dia mengatakan, sampai saat ini 1.308.078 tersangka narkoba telah menyerah. Kini operasi pemberantasan tersebut mulai dialihkan ke desa-desa untuk pencegahan. ***(ra)

Postcomended   Presiden Jokowi Masuk 20 Besar Muslim Berpengaruh, SBY Pernah di 10 Besar