Internasional

Penindasan Muslim Uighur: Antara Kenyataan dan Kompleksitas Masalahnya (1)

Share the knowledge

 

Aydin Anwar, aktivis Uyghur (gambar dari: https://nowthisnews.com/videos/politics/activist-aydin-anwar-on-chinese-internment-of-muslims)

Aydin Anwar, aktivis Uighur (gambar dari: nowthisnews.com)

Sosok perempuan bernama Aydin Anwar mendadak kondang di kalangan warganet Muslim belakangan ini. Dalam satu video yang menyebar di berbagai jejaring sosial, selain mengisahkan kekejaman rezim Xi Jinping, perempuan berjilbab ini menyeru Muslim dimanapun untuk melakukan aksi protes. Bersamaan dengan tersebarnya video ini, banyak juga postingan yang menyebutkan bahwa etnis Uighur berkecenderungan radikal, selain juga terkait masalah penguasaan sumber daya alam.

Di jejaring sosial Facebook, tautan videonya disandingkan dengan banyak gambar yang menunjukkan kitab suci Alquran yang ditumpuk-tumpuk di tanah, atau Muslim yang tampak seperti sedang ditindas petugas yang membawa senjata.

Jika ditelusuri di internet, perempuan yang fasih berbahasa Inggris ini adalah aktivis Uighur-Amerika yang menurut laman TRT World sedang mempelajari Studi Komparatif Internasional dan Kesehatan Global di Universitas Duke, di Carolina Utara, Amerika Serikat (AS).

Pernyataan Aydin dalam video ini sejalan dengan pemberitaan di sejumlah media internasional bahwa Cina diduga menahan sekitar sejuta warga etnis Uighur di kamp-kamp konsentrasi. PBB melalui para ahli hak asasi manusia (HAM)-nya, Agustus silam (13/8/2018) mengumumkan, mereka yakin Cina telah menahan hingga satu juta anggota kelompok minoritas Muslim Uighur di kamp penjara rahasia Xinjiang.

Namun Cina telah membantah. Media Cina menyebut Beijing hanya tak ingin Xinjiang menjadi Suriah atau Libya-nya Cina. “Muslim Uighur menikmati hak penuh, tetapi ‘mereka yang ditipu oleh ekstremisme agama harus dibantu dengan pemukiman kembali dan pendidikan,” kata para pejabat Beijing, seperti dikutip BBC.

Postcomended   Berlomba ke Bulan: Sisi Terjauh Bulan Kini "Milik" Cina

Meskipun tetap bernada membantah, namun pengakuan mengenai perlakukan pemerintah Cina terhadap etnis Uighur ini dianggap jarang dilakukan Beijing. Beijing biasanya memilih diam.

Dalam video yang diberi tajuk “Cina menempatkan jutaan muslim di kamp-kamp konsentrasi, mengapa dunia memilih diam?” Aydin menyebutkan bahwa saat ini Cina menahan lebih dari satu juta muslim Uighur dan etnis Turk lainnya di kamp-kamp konsentrasi.

Dia mengatakan, mereka dipaksa mencela Islam, mengadopsi ateisme, dan berjanji untuk setia kepada negara Cina.
Di sel-sel yang penuh dan sesak, kata Aydin, mereka dipaksa menghabiskan waktu berjam-jam mengulang-ulang perkataan: “tidak ada yang namanya agama!”, “hidup negara Cina!”, atau “hidup presiden Cina, Xi Jinping!”.

“Jika para tahanan ini menolak atau melawan, siksaan akan diberikan: kuku ditarik, gigi dicopot, mereka bahkan mengunakan ular untuk menginterogasi. Mereka dipukuli hingga tewas, dan disterilisasi; satu metode yang digunakan dalam genosida (pembersihan etnis). Mereka juga dipaksa duduk di kursi yang diberi nama “kursi harimau”, dimana mereka dicecar selama berjam-jam dan terkadang dikurung seorang diri.”

Menurut Aydin dalam video itu, mereka dikirim ke kamp-kamp dengan alasan tak jelas, salah satu di antaranya (hanya) karena menghubungi seseorang di luar negeri, karena mempunyai keluarga di luar negeri, atau karena taat beragama.

“Jika anda beribadah, menyebut kata ‘Tuhan’ saat berbicara, berpuasa, dan segala indikasi Anda melakukan ibadah, itu cukup membuat Anda dikirim ke kamp. Ribuan telah ditransfer dari kamp ini ke penjara,” tutur Aydin. Dia juga mengaku bahwa keluarganya menjadi korban; banyak yang tidak diketahui apakah masih hidup atau sudah mati. Kremasi, kata Aydin, menjadi salah satu cara Cina menghilangkan bukti jika ada tahanan yang meninggal.

Postcomended   Harta Korupsi Djoko Susilo yang Belum Disita Rp 51 Miliar

“Anak-anak para tahanan dikirim ke penampungan-penampungan yang dikelola negara dan juga sekolah-sekolah, dimana mereka diajarkan membenci agama dan identitas mereka sendiri, dan dipaksa berbahasa Cina… Para orang tua tidak tahu dimana anak-anak mereka berada.”

“Mayoritas kota dan desa di Turkistan timur (Xinjiang) hampir-hampir kosong. Sekitar 70-80 persen penduduknya telah dibawa pergi. Sekolah-sekolah dan pabrik-pabrik diubah menjadi kamp konsentrasi. Keseluruhan wilayah Turkistan timur menjadi penjara bagi penduduknya sendiri,” kata Aydin.

Cina, kata Aydin, memonitor setiap aktivitas warga Uighur, bahkan di rumah sekalipun. Ada jutaan pegawai pemerintah dari etnis Han yang tinggal di rumah-rumah milik Uighur, untuk memastikan mereka tidak melakukan praktik agama dan untuk menilai pandangan politik mereka.

“Menjalankan agama Islam sangat terlarang. Bagi kami, hanya sekadar mengatakan ‘insyaallah’ terlarang karena menyebut kata Tuhan. Menggunakan nama islami adalah kejahatan. Anda harus mengubah nama seperti Muhammad atau Fatima menjadi nama etnis Han. Ribuan wanita Uighur juga dipaksa menikahi pria dan etnis Han. Ini adalah cara lain menghapuskan generasi Uighur selanjutna,” papar Aydin. Etnis Han adalah etnis mayoritas di Cina.

Wilayah Kaya Mineral
Mengapa Cina melakukan tindakan zalim pada muslim Uighur dan Turk secara khusus? Dikatakan Aydin, Turkistan timur adalah wilayah kaya mineral dan sumber daya alam. Cina berupaya mempertahankan kontrol ketat di wilayah tersebut, dengan menempatkan penduduknya di dalam kamp-kamp dan melakukan pembersihan etnis.

Aydin lalu menganggap bahwa dunia bungkam atas penindasan Muslim Uighur. Menurutnya, ini bisa jadi karena antara lain kuatnya tekanan Cina terhadap negara-negara lain yang memiliki keterikatan srategis di bidang ekonomi dengan Cina, selain karena media yang dikontrol ketat.

Postcomended   Cina Legalkan Produk Harimau dan Badak, Surat Kematian Bagi Kedua Spesies

Di ujung video, Aydin menyarankan pada siapapun yang menonton videonya agar mendesak pemimpin negara masing-masing melakukan aksi protes. “Bergabunglah. Lakukan aksi protes di depan kedutaan besar Cina dan lembaga-lembaga lainnya, yang bisa bergerak menentang pembersihan etnis Uighur,” sebut Aydin.

Terlepas dari berhasilnya imbauan melakukan aksi protes ini, di Indonesia, menyusul beredarnya video ini, Jumat lalu (21/12/2018), massa Muslim seusai salat Jumat, menggelar aksi damai. Di Bandung, aksi digelar di depan Gedung Sate. Di Jakarta, juga seusai salat Jumat, aksi digelar di depan kedubes Cina.(***/bersambung)

 


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top