Internasional

Perdana Menteri Kanada Minta Maaf atas Peristiwa Penolakan 900 Yahudi Berdekade Silam #HariAyahNasional

Share the knowledge

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau memberikan permintaan maaf resmi tentang nasib MS St. Louis dan penumpangnya, di House of Commons di Parliament Hill di Ottawa, Ontario, Kanada 7 November 2018. (REUTERS/Chris Wattie)

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau memberikan permintaan maaf resmi tentang nasib MS St. Louis dan penumpangnya, di House of Commons di Parliament Hill di Ottawa, Ontario, Kanada 7 November 2018. (REUTERS / Chris Wattie)

Pada Juni 1939, kapal Jerman M.S. St. Louis pergi ke Havana, Kuba, membawa lebih dari 900 pengungsi Yahudi yang melarikan diri dari Nazi. Ketika mereka tiba, harapan mereka hancur saat pemerintah Kuba menolak mereka masuk, meskipun mereka memiliki visa. Kapal lalu diarahkan ke Kanada dan Amerika Serikat (AS).

Kedua negara ini pun menolak membuka pelabuhan bagi ratusan pengungsi termasuk banyak anak-anak. Kapal itu dipaksa kembali ke Eropa. Banyak dari mereka kemudian tewas kelaparan, dibakar di krematorium, dan digas di kamp konsentrasi Nazi.

Atas dasar peristiwa ini, Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, Rabu (7/11/2018), mengorbankan dirinya untuk  memintakan maaf atas peran negeri itu hampir delapan dekade lalu dalam menyingkirkan ratusan pengungsi Yahudi yang melarikan diri dari kejaran Nazi Jerman.

Postcomended   Beijing dan Berlin Bangkangi AS, Namun Perusahaan-perusahaan Eropa Goyah

“Kami meminta maaf kepada para ibu dan ayah yang anaknya tidak kami selamatkan. Kami menolak membantu mereka ketika kami bisa,” kata Trudeau, seperti dilaporkan laman Newsweek. Menurutnya, Kanada berkontribusi menyegel nasib kejam yang banyak terjadi di tempat-tempat seperti Auschwitz, Treblinka, dan Belzec.

Keputusan untuk mengusir pengungsi (Yahudi) kitu dulu telah dilakukan di bawah Partai Liberal, yang saat ini dipimpin oleh Trudeau. Pemimpin Kanada ini mengatakan, kebencian terhadap orang Yahudi “diabadikan” dalam kebijakan Kanada. Antara 1933 dan 1945, Kanada membuka pintunya bagi lebih sedikit pengungsi Yahudi daripada negara Barat lainnya.

Pada masanya, kaum Yahudi memang mengalami situasi tanpa tanah dan terusir dari mana-mana. Ketika Inggris memberikan sepetak tanah di Palestina, sebagian Yahudi menganggapnya sebagai tanah yang dijanjikan Tuhan sesuai keyakinan yang mereka anut, meskipun secara de facto tanah itu “diberikan” oleh Inggris.

Postcomended   Jelang Olimpiade 2020, Jepang Uji Coba Kereta Peluru Tercepat di Dunia

Trudeau mengatakan permintaan maaf itu “sudah lama tertunda” seraya menambahkan bahwa dia menyesal Kanada tidak meminta maaf lebih cepat. Permintaan maaf perdana menteri Kanada ini kurang dari dua minggu setelah peristiwa penembakan di sinagog Tree of Life, di Pittsburgh, dengan korban selain sejumlah umat Yahudi meninggal juga seorang wanita Kanada.

Upaya Trudeau untuk menebus kesalahan Kanada, dengan beberapa menganggapnya hanya sebagai “lips service”,   menyambut permintaan maaf perdana menteri itu sebagai isyarat simbolis. Tahun lalu, Trudeau menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat pribumi Kanada (Indian), menegaskan bahwa “mereka adalah korban dari pemerintah yang mencari sejarah unik mereka, warisan mereka dan budaya mereka, dengan memaksakan tradisi dan cara hidup kolonial.”

Postcomended   FDA Peringatkan Jasa yang Tawarkan Prosedur Pemulihan Organ Intim

Meskipun ada permintaan maaf, pemerintah Kanada telah menghadapi kritik dari kelompok pribumi itu tentang keputusannya untuk menyinari proyek-proyek pipa kontroversial, serta kurangnya kemajuan dalam menyampaikan janji Trudeau tersebut untuk mengatasi kekhawatiran lama yang disuarakan oleh masyarakat adat di negara tersebut.***

 


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top