Woman dies after being embalmed ALIVE after blundering doctors ... Daily Mirror Woman dies after being embalmed ALIVE after blundering doctors gave her a formaldehyde drip instead of saline - Mirror Online

Woman dies after being embalmed ALIVE after blundering doctors … Daily Mirror Woman dies after being embalmed ALIVE after blundering doctors gave her a formaldehyde drip instead of saline – Mirror Online

Mimpi buruk yang akrab bagi banyak orang adalah menjadi korban kesalahan medis, dan ini harus dialami Ekaterina Fedyaeva (28). Fedyaeva bahkan tak sempat bermimpi untuk menuntut kesalahan tersebut, karena dia meninggal.

Fedyaeva diagnosis kista ovarium, kantung berisi cairan kecil yang biasanya tidak berbahaya, tidak menimbulkan gejala, dan bisa menghilang dengan sendirinya. Namun, beberapa wanita memerlukan operasi untuk menghapusnya.

Menurut laporan dari kantor berita negara Rusia TASS dan RT, jaringan televisi milik pemerintah Rusia, dokter yang menangani Fedyaeva merasa bahwa dengan pengangkatan kistanya akan lebih baik untuk persiapan kehamilannya.

Sang dokter lalu menjadwalkan prosedur laparoskopi rutin pada 15 Maret 2018 di Pusat Medis dan Unit Kesehatan Klinis Tengah di wilayah Ulyanovsk. Ulyanovsk adalah suatu daerah dengan populasi sekitar 1,25 juta, yang dilalui Sungai Volga di bagian tenggara dari Rusia bagian Eropa.

Setelah operasi, perawat rupanya keliru memberi Fedyaeva solusi yang mengandung formalin. Formalin adalah zat yang mengandung senyawa formaldehida; bahan kimia tak berwarna yang biasanya digunakan untuk membalsem mayat.

Nikolas P. Lemos, ketua bagian toksikologi dari American Academy of Forensic Sciences mengatakan, pada suhu kamar formaldehida adalah gas, tetapi ketika digunakan dalam larutan 37% dengan air senyawa ini lebih dikenal sebagai formalin. Formaldehida, kata Nikolas, adalah senyawa yang berpotensi sangat beracun.

Postcomended   Fisikawan Kondang ini Terima Tantangan Bercanda Ihwal Zayn Malik

Begitu formalin masuk tubuh Fedyaeva, suhu tubuhnya melonjak dan dia mengeluh menderita sakit perut yang parah. Tim medis pun telah mengakui kesalahan itu. TASS mengungkapkan, untuk menyelamatkannya dari proses mumifikasi, mereka mencoba membersihkan rongga perutnya.

Ketika Fedyaeva terbangun, dia berbisik kepada Valentina Fedyaeva, ibu mertuanya, “Saya sekarat.” Sang mertua, menurut RT, sempat menganggap itu hanya keluhan yang dibesar-besarkan.

Keesokan harinya, Fedyaeva dipindahkan ke Rumah Sakit Klinik Regional Ulyanovsk, di mana dia sudah koma. Selanjutnya, dia dipindahkan lagi ke pusat medis federal di Moskow, A.I. Pusat Medis dan Biofisika Federal Burnazya Rusia, yang dipercaya para dokter akan menjadi proses pengobatan yang lebih efektif. Ketika organ Fedyaeva mulai gagal, dokter menghubungkannya dengan mesin untuk membuatnya tetap hidup.

Rashid Abdulov, Menteri Kesehatan, Keluarga dan Kesejahteraan Sosial untuk Distrik Ulyanovsk, mengatakan dalam sebuah pernyataan, bahwa para dokter di A.I. Pusat Medis dan Biofisika Federal Burnazya telah “melakukan segalanya” untuk menyelamatkan Fedyaeva. “Sayangnya, itu tidak berhasil menyelamatkannya,” kata Abdulov. Tiga minggu setelah upaya penyelamatannya, Fedyaeva meninggal.

Postcomended   Asyik Instagraman? Seseorang Mungkin Telah Menjadi Korban “Phubbing”

Lemos, yang juga Profesor di Universitas California, San Francisco, mengatakan, contoh lain dari konsumsi formaldehida yang menyebabkan kematian adalah ketika lambung dan usus kecil mengalami kerusakan korosif yang sangat parah, lalu diikuti keruntuhan sistem peredaran darah dan kerusakan ginjal.

Lemos mengisahkan kasus seorang wanita yang minum 10% formaldehida, dengan segera mengembangkan sakit perut yang parah dan mengalami syok. “Dia diobati dengan (minum) susu dan berbagai obat emetic (obat untuk muntah), dan dia akhirnya cukup pulih untuk meninggalkan rumah sakit.” Namun formalin kata Lemos, juga dapat menjadi alat yang hebat dalam pengobatan dan patologi.

Ditanya mengapa formaldehida bisa berada di ruang operasi, Lemos mencatat bahwa memang ada penggunaan bedah formaldehida yang terdokumentasi untuk mengendalikan perdarahan dan mengubah sifat sel tumor.

Namun, kata Lemos, bahkan dengan alasan penggunaan medis pun, beberapa pasien mengalami efek toksik yang serius, termasuk tekanan darah rendah, detak jantung yang cepat, gagal ginjal, dan bahkan kematian.

Gubernur Ulyanovsk, Sergey Morozov, mengatakan kepada TASS bahwa pemerintah daerah akan membayar semua biaya pemakaman untuk Fedyaeva dan memberikan bantuan dan dukungan psikologis kepada kerabat terdekatnya. “Perawat yang melakukan kesalahan ini telah diberhentikan,” kata Morozov.

Sementara itu Abdulov mengatakan kepada TASS, bahwa kasus masih diselidiki. Pada hari kematian Fedyaeva, Abdulov menulis di akun Twitter-nya, mendesak rekan-rekannya dan staf lembaga medis di mana-mana untuk menunjukkan kepedulian lebih saat memberikan perawatan. “Tidak ada yang seperti ini lagi yang harus terjadi,” tulisnya.

Postcomended   Laboratrium Independen: Mantan Mata-mata Rusia Diracun Pakai Novicok, Agen Saraf Kelas Militer

Secara global, lebih dari 240 juta prosedur bedah dilakukan setiap tahun, menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia baru-baru ini. Tidak ada registri global untuk melacak frekuensi penyebab penyakit (dan mungkin kematian) yang disebabkan oleh operasi.

Tetapi otoritas kesehatan memperkirakan, setiap tahun jutaan pasien di seluruh dunia mendapatkan infeksi selama operasi. Studi Johns Hopkins baru-baru ini memperkirakan, lebih dari 250.000 orang Amerika meninggal setiap tahun karena kesalahan medis.(***/CNN)

Share the knowledge