Neraca Ekonomi menunjukkan warga kota Blitar Boros - Mayangkara News Mayangkara News800 × 445Search by image Neraca Ekonomi menunjukkan warga kota Blitar Boros

Neraca Ekonomi menunjukkan warga kota Blitar Boros – Mayangkara News Mayangkara News800 × 445Search by image Neraca Ekonomi menunjukkan warga kota Blitar Boros

Seusai Idul Fitri 2017, berbagai pihak ramai membahas turunnya daya beli. Ini mengherankan karena seharusnya Lebaran mendorong masyarakat boros. Giliran pemerintah garuk-garuk kepala. Fondasi sektor riil memang membaik dibanding zaman krismon, tapi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih disokong sektor konsumsi.

 Dengan kata lain, warga harus boros supaya ekonomi negeri tetap tumbuh; berputar. Kecemasan ini diperkuat rontoknya sejumlah toko ritel offline. Sebelumnya, pusat perbelanjaan elektronik Glodok, juga dilaporkan lesu darah. Banyak gerai tutup. Kabar terbaru, pemerintah tak yakin target pertumbuhan ekonomi 2017 sebesar 5,2% akan tercapai.

Tahun ini saja sudah dua toko ritel besar di Jakarta gulung tikar: Matahari dan Ramayana. Lotus Departemen Store dilaporkan akan menyusul mereka, bahkan beberapa gerainya. Menurut Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Tutum Rahanta, biang rontoknya gerai-gerai toko ritel ini adalah biaya operasional toko yang terus naik (sewa tempat dan gaji pegawai) di tengah persaingan dengan sesama toko konvensional dan juga dengan toko online.

Anehnya, boss Tokopedia, William Tanuwijaya, membuktikan bahwa tak ada pelarian konsumen toko nyata ke toko online. Sekilas, kata dia, perkembangan e-commerce memang terlihat sangat pesat. Namun jika melihat hasil riset PwC, transaksi e-commerce di Indonesia kata William, baru satu persen dari total transaksi jual beli sektor ritel keseluruhan di Indonesia.

Postcomended   Eropa Terancam Kehilangan Konsep Ayah, Ibu, Suami, dan Istri

“Artinya, di Indonesia hanya 1 dari 100 transaksi yang dilakukan secara online,” ujar Wiliam, pertengahan Oktober silam. Lalu, kemana perginya daya beli masyarakat ini? Apakah masyarakat kini rajin menabung?

Kabar terbaru, pemerintah tak yakin Indonesia bisa mencapai target pertumbuhan ekonomi 2017 sebesar 5,2 persen. Komponen penyumbang pertumbuhan ekonomi, antara lain konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, penjualan ritel, disebut tidak mendukung.

“Pertumbuhan ekonomi 5,2 persen itu yang berat, karena di tiga triwulan selama ini, profil angkanya masih di bawah 5,1 persen,” ujar Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro, Senin (13/11/2017).

 

Arzia Tiffany Wargadiredja, seorang penulis muda, memiliki pandangan menarik yang dimuat di situs Vice. Dia heran kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang “menuduh” generasi milenial (mungkin) kurang boros. Pernyataan Sri ini dikaitkan isu anomali konsumsi 2017 yang dilempar Bloomberg.

Meski di satu sisi generasi milenial (generasi yang lahir pada tahun 1980 ke atas) terkesan boros; ketika belanja cukup dengan duduk manis di rumah sambil ngoprek ponsel pintar, kenyataannya masyarakat tahun ini diduga sedang “wait and see”.

Postcomended   Eropa Terancam Kehilangan Konsep Ayah, Ibu, Suami, dan Istri

Padahal kata Sri Mulyani dikutip dari Bloomberg, seperti ditulis Arzia, semua prasyarat yang mendukung peningkatan konsumsi sudah terpenuhi, seperti lapangan kerja baru di seluruh Indonesia, gaji pegawai rata-rata meningkat lebih dari dua digit di berbagai sektor, inflasi stabil, dan tingkat suku bunga rendah.

Turki Imbau Warga Agar Tak Boros Selama Ramadan News - KlikPositif.com670 × 370Search by image

Turki Imbau Warga Agar Tak Boros Selama Ramadan News – KlikPositif.com670 × 370Search by image

Menkeu juga mengaku tidak habis pikir menyaksikan keanehan karakter belanja milenial. “Mereka tidak suka gonta-ganti baju,” kata Sri Mulyani. “Mungkin mereka cuma punya dua baju, intinya mereka tidak lagi belanja baju.”

Kenapa ini bisa terjadi? Arzia antara lain mewacanakan ihwal generasi milenial yang lebih suka bahkan tergila-gila pada jalan-jalan. Dia mengungkap survei yang dilakukan Airbnb pada 2016 di Amerika Serikat, Inggris, dan Cina, yang menunjukkan bahwa mayoritas milenial lebih memprioritaskan traveling daripada beli rumah atau bayar cicilan barang.

Generasi milenial kata Arzia lagi, tidak tertarik pada tawaran kredit mobil atau motor metik. Mereka lebih suka ke tempat kerja naik sepeda fixie atau memilih naik ojek atau taksi online. Ini juga terkait karakter mereka yang suka ikut gerakan sosial, percaya global warming, di samping alasan bensin mahal dan lahan parkir makin sempit.

Postcomended   Eropa Terancam Kehilangan Konsep Ayah, Ibu, Suami, dan Istri

Gaji generasi milenial juga, menurut Arzia, tak cukup buat beli rumah yang layak. “Begitulah. Beli rumah enggak ada duit, kalau pengin nikah biayanya mahal banget, sementara gaji mepet cuma buat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Terus kami masih diminta belanja sama pemerintah, diminta lebih boros dari sekarang? Sori-sori deh.”(***/dari berbagai sumber)

Ini Bahaya Pola Hidup Boros | Republika Online Republika830 × 556Search by image

Ini Bahaya Pola Hidup Boros | Republika Online Republika830 × 556Search by image