Karbondioksida alias CO2 yang berlebihan, diketahui telah merusak lapisan ozon. Kini, satu perusahaan di Kanada yang didukung Bill Gates, mengaku telah mencapai ambang penting pengembangan teknologi yang dapat menghilangkan CO2 dari udara, bahkan seraya mendapatkan bahan bakar terbarukan dari prosesnya.

Carbon Engineering telah memublikasikan studi penelaahan sejawat (peer-review) yang menunjukkan bahwa mereka dapat mengikat karbon dengan biaya di bawah 100 dolar per ton. Ini akan menjadi kemajuan besar pada harga saat ini sekitar 600 dolar per ton.

Perusahaan mengatakan, tujuan utama mereka sebenarnya adalah untuk memproduksi bahan bakar cair sintetis yang terbuat dari karbon dan energi terbarukan. Namun, rencana untuk menangkap CO2 secara langsung dari udara dianggap lebih penting, yang pada dasarnya seperti membantu tugas pohon.

Ide ini pertama kali dikembangkan oleh seorang ilmuwan bernama Klaus Lackner pada pertengahan 1990-an. Sejak itu, sejumlah kecil perusahaan teknologi telah membuat prototipe alat penghapus karbon, namun biayanya mahal.

Carbon Engineering mengaku telah menemukan cara untuk memotong biaya ekstraksi udara langsung. Sejak dibentuk pada 2009 dengan pendanaan dari Bill Gates dan pemodal pasir minyak Kanada, Norman Murray Edwards, pabrik percontohan yang telah berjalan sejak 2015 ini mengaku telah menangkap sekitar satu ton CO2 per hari.

Proses ini bekerja dengan menghisap udara ke dalam menara pendingin yang dimodifikasi dengan kipas, di mana ia bersentuhan dengan cairan yang bereaksi dengan CO2. Setelah beberapa langkah pemrosesan, aliran CO2 yang lebih murni diekstraksi dan cairan yang ditangkap dikembalikan ke kontaktor udara.

Studi sebelumnya yang dilakukan American Physical Society pada 2011 menunjukkan bahwa biaya per ton penangkapan udara langsung akan menjadi sekitar 600 dolar AS. Tapi Carbon Engineering mengatakan bahwa dengan mengadaptasi teknologi yang ada, mereka mampu memangkas secara signifikan.

Prof David Keith dari Universitas Harvard, dan pendiri Carbon Engineering kepada BBC News mengatakan, inovasi ini tidak hanya menghisap karbon dari udara tetapi menggunakan gas yang diekstrak itu sebagai bahan baku utama untuk bahan bakar cair sintetis.

Perusahaan saat ini membuat sekitar satu barel bahan bakar cair sintetis per hari dengan menggabungkan CO2 murni dengan hidrogen yang berasal dari air, menggunakan energi terbarukan.

“Apa yang diambil oleh Carbon Engineering adalah terutama semua bahan bakar karbon netral, dalam arti bahwa kami hanyalah teknologi pemotongan emisi, tidak ada penghapusan bersih dari atmosfer,” katanya.

Perusahaan percaya bahwa pendekatan ini untuk bahan bakar cair memiliki keunggulan besar dibandingkan biofuel karena menggunakan lebih sedikit tanah dan air. Studi ini telah diterbitkan dalam jurnal Joule.(***/BBCnews)

Sumber foto: The Express Tribune

Share the knowledge