Perusahaan Jasa Pager Terakhir di Jepang Menyatakan Pamit

Ekonomi
Share the knowledge

 

https://www.cna.com.tw/news/afe/201809020085.aspx
Pager, teknologi yang tergusur kehadiran ponsel. (gambar dari: cna.com.tw)

Jika kita berpikir bahwa teknologi pager telah punah sejak lama, ternyata di Jepang layanan alat komunikasi yang ngetren di awal 2000-an ini masih ada, namun telah mengumumkan bahwa mereka akan mengakhirinya tahun depan. Ini berdekade-dekade setelah teknologi ini menjadi usang gara-gara kehadiran ponsel. 

Tokyo Telemessage, satu-satunya perusahaan telekomunikasi yang masih mengoperasikan layanan itu, mengatakan akan mengakhiri penawaran pager-nya pada September 2019. Alasannya, permintaan semakin berkurang.

Perusahaan mengatakan jumlah pengguna telah turun hingga di bawah 1.500 dari puncaknya pada 1996 yang mencapai 1,2 pelanggan, meskipun fakta bahwa peralatan aktualnya berhenti diproduksi adalah sejak 20 tahun yang lalu.

Postcomended   6 September dalam Sejarah: 18 dari 260 Awak Kapal Magellan Tiba di Spanyol, Tanpa Sang Tuan

Pager populer di Jepang dan seluruh dunia pada 1990-an, sebelum ponsel menjadi tersedia secara luas untuk umum. Bagi mereka yang terlalu muda untuk pernah menggunakannya, pager adalah perangkat radio pribadi yang digunakan untuk menerima pesan yang dikirim melalui switchboard.

Baik pengirim maupun penerima pesan, tak akan bisa lepas dari komunikasi via telepon, karena pesan dikirim dengan menelepon operator pager. Ketika pager berbunyi atau berdengung, akan muncul pesan teks pada monitor pager, namun penerima pesan jika ingin merespon pesan harus mencari sambungan telepon. Dengan segera teknologi dan bisnis pager hancur dengan adanya SMS via ponsel.

Tidak jelas siapa yang masih menggunakan pager hari ini, tetapi menurut Japan Times, pager populer di kalangan pekerja di rumah sakit karena alat ini tidak memancarkan gelombang elektromagnetik (yang dapat merusak peralatan kedokteran).

Postcomended   Korea Selatan Negara Pertama yang Luncurkan Jaringan Super-Cepat 5G

Keengganan untuk berpisah dengan teknologi lama ini mungkin juga karena populasi yang menua di Jepang. Negara ini dianggap sebagai negara “super-tua”, yang didefinisikan sebagai negara tempat lebih dari 20% penduduk berusia di atas 65 tahun. Tahun ini angka pemerintah baru menunjukkan jumlah anak-anak jatuh di Jepang selama 37 tahun berturut-turut.***

 


Share the knowledge

Leave a Reply