Nawaz Sharif (http://cdn-blogs.tribune.com.pk/2017/07/52976-nawazjpg-1499762549-162-640×480.jpg)

Perdana Menteri Pakistan, Nawaz Sharif, mengundurkan diri setelah didiskualifikasi oleh Mahkamah Agung (MA) terkait penyelidikan dugaan korupsi yang melibatkan keluarganya. Sebelumnya, nama Sharif disebut dalam daftar Panama Papers yang dirilis tahun lalu (2016), yang juga menyebut sejumlah nama pejabat Indonesia antara lain Luhut Panjaitan, Sandiaga Uno, dan Hary Azhar Aziz.

Panama Papers adalah bocoran dokumen dari firma hukum Mossack Fonseca. Kantor pengacara yang berbasis di Panama ini terkenal memiliki spesialisasi membuat perusahaan offshore rahasia di kawasan suaka pajak seperti British Virgin Islands. Dokumen Mossack Fonseca bocor pada awal 2015 yang dimuat surat kabar Jerman, Suddeustsche Zeitung.

Nama-nama yang disebut dalam dokumen itu diduga menyimpan uang atas kejahatan keuangan, seperti pengemplangan pajak dan pencucian uang.

Dalam putusannya pada Jumat (28/7/17), salah satu hakim MAl, Ejaz Afzal Khan, mengatakan, Sharif tidak lagi “memenuhi syarat sebagai anggota parlemen yang jujur”.

Seorang juru bicara Sharif dalam pernyataan yang dikeluarkan pada hari yang sama mengatakan, “Menyusul putusan itu, Nawaz Sharif telah mengundurkan diri sebagai perdana menteri.”

Postcomended   SUDIRMAN STREET

Putusan Mahkamah Agung ini diambil terkait penyelidikan harta kekayaan keluarga Sharif yang dilakukan menyusul bocornya dokumen Panama Papers pada 2016.

Dalam dokumen itu disebutkan, tiga anak Sharif mempunyai perusahaan cangkang (shell company) di negara-negara bebas pajak dan membeli sejumlah properti mahal di London. Sharif dan anggota keluarganya berkali-kali mengaku tidak melakukan kesalahan.

Sebelum Sharif, korban bocornya dokumen Panama Papers lainnya yang diketahui mengundurkan diri adalah PM Islandia, Sigmundur Gunnlaugsson. (http://www.bbc.com/indonesia/dunia-40753602).(lihat: Daftar Pemimpin Dunia dalam Skandal Pajak Panama Papers)

Rupanya, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Harry Azhar Azis, yang namanya nongol di Panama Papers juga lengser dari jabatannya itu. Tapi berbeda dengan Sharif dan Gunnlaugsson, alih-alih mundur, Harry menyangkal dia lengser karena terkait skandal Panama Papers.

Bahkan penggantinya, Moermahadi Soerja Djanegara, membantu menjelaskan bahwa pergantian posisi pimpinan BPK adalah hasil evaluasi kepemimpin Harry Azhar Azis selama dua setengah tahun periodenya, bukan keputusan dadakan.

Harry sendiri mengatakan, perkara Panama Papers yang menyebut namanya, telah selesai dan Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak menyatakan dia tak melanggar undang-undang perpajakan. (http://m.solopos.com/2017/04/26/ketua-bpk-bantah-harry-azhar-aziz-lengser-karena-panama-papers-812604).

Postcomended   Samsung, Perkasa di Tengah "Tradisi" Skandal Keluarga

Harry tak menyangkal namanya di Panama Papers namun berdalih bahwa pendirian offshore company dilarang jika berupaya menggelapkan pajak. “Saya kan belum melakukan kegiatan apa pun,” ujarnya. Hal itu dikatakan untuk menanggapi desakan agar dia lengser dari posisi Ketua BPK.

Dua nama lainnya yang sedang eksis di kancah perpolitikan Indonesia dan namanya disebut dalam Panama Papers adalah Luhut Binsar Panjaitan (kala itu masi menjabat Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan), serta Sandiaga Uno, pengusaha yang kala itu tengah sibuk menggelar karpet merah menuju DKI I.

Penelusuran tim investigasi Majalah Tempo menemukan nama Luhut tercantum sebagai Direktur Mayfair International Ltd. Perusahaan offshore ini didirikan pada 29 Juni 2006. Ketika ditemui, Luhut mengaku tak mengenal perusahaan bernama Mayfair.

Sementara itu Sandiaga Uno mempersilakan media mempublikasikan nama-nama perusahaan offshore miliknya. Dia menyatakan, tidak ada bukti dia menggunakan perusahaannya untuk tujuan tak terpuji.

Postcomended   Anggota Separatis Papua Satu demi Satu Menyerahkan Diri

Nama lainnya yang terseret Panama Papers adalah Riza Chalid dan Djoko Soegiarto Tjandra. Riza Chalid pernah terlibat dugaan kasus “papa minta saham”, sedangkan Djoko Soegiarto merupakan buronan kasus cessie (hak tagih) Bank Bali yang melibatkan nama Setya Novanto. ***(ra)

Share the knowledge