Internasional

PM Singapura Isyaratkan Asia Akan Dipaksa Pilih Amerika atau Cina

Foto bersama peserta KTT ASEAN di Singapura 15 November 2018, yang juga dihadiri Presiden Rusia dan Wakil Presiden AS (Edgar Su, Reuters)

Foto bersama peserta KTT ASEAN di Singapura 15 November 2018, yang juga dihadiri Presiden Rusia dan Wakil Presiden AS (Edgar Su, Reuters)

Meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Cina, akan memaksa negara-negara di Asia untuk memilih, apakah akan mempertahankan hubungan dengan AS atau Cina. Hal ini diisyaratkan Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, Rabu (14/11/2018), saat hari terakhir pertemuan tahunan negara-negara ASEAN di negaranya.

“Sangat diinginkan bagi kami untuk tidak harus memihak antara Cina dan AS. Saya berharap itu tidak segera datang,” kata Lee kepada peserta konferensi, seperti dilansir laman South China Morning Post (SCMP) dan Newsweek. Wakil Presiden AS, Mike Pence, hadir di konferensi itu atas nama pemerintahan Donald Trump.

Singapura adalah anggota ASEAN bersama Indonesia, Thailand, Malaysia, Filipina, Vietnam, Myanmar, Kamboja, Brunei dan Laos, sejak didirikan pada tahun 1967. Sementara negara-negara mempertahankan hubungan yang signifikan dengan AS, mereka juga memiliki hubungan bilateral dengan pusat kekuatan regional Asia, Cina.

Postcomended   Bayi Diculik Seekor Monyet, Mayatnya Ditemukan di Sumur

Di sisi lain, beberapa negara memiliki masalah dan perselisihan mereka sendiri dengan manuver regional Beijing.  Malaysia, Filipina, Brunei dan Vietnam misalnya memiliki kekhawatiran tentang klaim teritorial Cina di Laut Cina Selatan yang disengketakan.

Presiden Donald Trump telah meningkatkan ketegangan perdagangan dengan Beijing tahun ini, dengan menampar tarif pada 250 miliar dollar AS pada impor Cina. Cina lalu membalasnya dengan ungutan yang menargetkan 110 miliar dollar AS barang AS. Wakil Presiden Mike Pence menegaskan minggu ini bahwa administrasi Trump tidak akan melunak dalam sengketa ini; menunjukkan AS bakal sama keras kepalanya dengan Cina.

Pejabat intelijen dan militer memperingatkan bahwa Cina merupakan ancaman global yang paling signifikan terhadap AS. “Saya akan mengatakan kepada Anda bahwa Cina dalam banyak hal merupakan ancaman kontra intelijen paling luas, paling rumit, dan paling lama yang kita hadapi,” kata Direktur FBI Christopher Wray. saat bersaksi di depan Senat Komite Keamanan Dalam Negeri pada awal Oktober silam.

Postcomended   Praktik Pagan Meningkat di AS Seiring Kristen yang Makin Ditinggalkan

Presiden Cina, Xi Jinping, dan Trump diharapkan bertemu di Argentina pada akhir bulan untuk membahas ketegangan perdagangan yang sedang berlangsung.

Terlepas dari hubungan yang kian memanas ini, Trump telah berulang kali memuji hubungan pribadinya yang positif dengan Xi sambil secara konsisten bersikeras bahwa dia tidak akan membiarkan Beijing memperlakukan AS dengan tidak adil. ***

Postcomended   Siswa SMA Amerika Bagi-bagikan Kue yang Diduga Mengandung Abu Neneknya

 

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top