Loading...
Internasional

Pohon Joshua Diprediksi Bakal Punah pada Akhir Abad ke-19

Share the knowledge

Pohon Joshua, endemik gurun Mojave, California, AS. (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=_O47NinnJNA)

Pohon Joshua, endemik gurun Mojave, California, AS. (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=_O47NinnJNA)

Pohon Joshua, spesies ikonik dari barat daya Amerika Serikat yang gersang, mungkin benar-benar hilang pada akhir abad ini karena perubahan iklim, menurut sebuah penelitian baru. Tahun lalu (2018), pohon baobab kuno dilaporkan juga dalam keadaan sekarat.

Satu tim dari University of California di Riverside menggunakan data dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim untuk menilai dampak pemanasan global pada distribusi pohon Joshua (Yucca brevifolia) di Taman Nasional Joshua Tree.

Taman ini, yang mengangkangi gurun Colorado dan Mojave di California selatan, Amerika Serikat (AS), adalah rumah bagi konsentrasi terbesar spesies ini, yang sebenarnya bukan pohon sama sekali tetapi anggota keluarga agave yang kadang-kadang dapat tampak seperti pohon.

Menurut pemodelan tim, dalam skenario optimistis di mana umat manusia dapat membatasi emisi rumah kaca sampai tingkat tertentu, tutupan pohon ini akan mundur sekitar 80 persen pada akhir abad ke-21.

Postcomended   Lima Peristiwa Kepunahan Massal Telah Sebabkan Sekitar 75% Spesies Hilang

Tetapi di bawah skenario “business as usual”, pemodelan menunjukkan terjadinya penghapusan lengkap spesies yang berasal dari era Pleistosen ini.

Lynn Sweet, penulis utama studi itu mengatakan kepada Los Angeles Times yang diteruskan AFP, di bawah skenario pesimistis mereka taman ini dapat melihat suhu panas rata-rata di musim panas naik sekitar 5-9 derajat Fahrenheit (2,8 hingga 5 derajat Celsius) dan 3-7 inci (7,5 hingga 18 sentimeter) lebih sedikit curah hujan.

Nama Pemberian Kelompok Mormon

“Jika pohon Joshua bisa selamat dari kondisi itu, mereka sudah berada di sana,” kata Sweet. Pohon Joshua –juga nama album U2 seminalis– dikatakan dinamai oleh sekelompok pelancong Mormon yang melintasi Gurun Mojave pada abad ke-19.

Mereka memberikan nama itu karena mengingatkan mereka pada tokoh Alkitab, Yosua, yang mengangkat tangannya ke atas dalam doa.

Postcomended   1 September dalam Sejarah: Seorang Kapten Tentara 27 Tahun, Gulingkan Raja Libya

Perubahan iklim juga diduga mejadi penyebab sekaratnya pohon-pohon langka Baobab di Afrika. Tahun lalu (2018), sejumlah pohon Baoab kuno, beberapa di antaranya telah berusia hingga 3.000 tahun, dilaporkan dalam keadaan sekarat.

Sebelumnya, satu studi ilmiah yang diterbitkan jurnal Nature Plants, melaporkan, pohon kehidupan kuno Afrika ini disebut sedang sekarat akibat meningkatnya suhu global. Ini diperparah laporan bahwa spesies hewan besar yang bertanggung jawab membawa benih, mungkin juga telah punah

Para peneliti menemukan bahwa sembilan dari 13 pohon baobab tertua dan lima dari enam pohon terbesar telah mati sebagian atau seluruhnya dalam 12 tahun terakhir, dilansir laman Daily Mail. “Kami menduga kematian baobab yang monumental ini dapat dikaitkan setidaknya sebagian.

Stephan Woodborne, seorang ilmuwan senior di laboratorium iThemba di Johannesburg, Afrika Selatan, mengatakan masih belum pasti apa penyebab kematian baobab. Tetapi Woodborne percaya bahwa perubahan iklim adalah penyebab utama.***

Postcomended   20 Februari dalam Sejarah: Uni Soviet Luncurkan Stasiun Mir ke Orbit di Sekitar Bumi
Loading...


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Loading...
To Top