Pohon Kuno Afrika Berusia Ribuan Tahun Dilaporkan dalam Kondisi Sekarat

Internasional
Share the knowledge

 

Pohon baobab (gambar dari: https://www.mylittleadventure.nl/best-things/antananarivo/tours/baobab-avenue-express-tour-from-antananarivo-5-day-tour-tFSQvzafA5)
Pohon baobab (gambar dari: mylittleadventure.nl)

Sejumlah pohon baoab kuno, beberapa di antaranya berusia hingga 3.000 tahun, kini dalam keadaan sekarat. Satu studi ilmiah yang diterbitkan jurnal Nature Plants baru-baru ini melaporkan, pohon kehidupan kuno Afrika ini disebut sedang terbunuh akibat meningkatnya suhu global. Ini diperparah spesies hewan besar yang bertanggung jawab membawa benih yang mungkin juga telah punah 

Para peneliti menemukan bahwa sembilan dari 13 pohon baobab tertua dan lima dari enam pohon terbesar telah mati sebagian atau seluruhnya dalam 12 tahun terakhir, dilansir laman Daily Mail.

“Kami menduga kematian baobab yang monumental ini dapat dikaitkan setidaknya sebagian dengan modifikasi signifikan kondisi iklim yang memengaruhi Afrika selatan khususnya,” para penulis laporan 2018 menyatakan. Namun kata mereka, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mendukung atau membantah anggapan ini.

Stephan Woodborne, seorang ilmuwan senior di laboratorium iThemba di Johannesburg, Afrika Selatan, mengatakan, “Dari pohon-pohon tertua yang pernah kita lihat di Afrika Selatan, tiga pohon yang lebih tua dari 2.000 tahun, dalam 10 tahun terakhir, mereka semua sudah mati. Begitu juga 11 pohon yang berusia 1.000 hingga 2.000 tahun, enam di antaranya telah mati.

Masih belum pasti apa yang menyebabkan kematian baobab. Tetapi Woodborne percaya bahwa perubahan iklim adalah penyebab utama.

Postcomended   10 Juni dalam Sejarah: Paten “Ballpoint” Pertama Diberikan ke Perusahaan Bic

Pohon-pohon yang luar biasa ini, yang dapat tumbuh selebar bus, memiliki batang berongga dan telah digunakan di masa lalu sebagai gudang penyimpanan, penjara, dan bahkan pub. Di Limpopo, baobab Globoe dianggap sebagai baobab hidup terbesar. Batangnya yang besar berukuran lebih dari 154 kaki hingga terbelah pada 2009.

Dilaporkan laman The Guardian, ada sembilan spesies baobab di dunia. Madagaskar, salah satu hotspot keanekaragaman hayati dunia, adalah rumah bagi enam spesies. Daratan Afrika dan semenanjung Arab memiliki dua, dan Australia memiliki satu. Spesies Afrika yang paling terkenal adalah Adansonia digitata, dinamai dari ahli botani Prancis Michel Adanson, yang melakukan eksplorasi di Senegal pada abad ke-18.

Adanson tinggal di sana selama lima tahun dan berkontribusi pada publikasi Natural History of Senegal tahun 1757. Beberapa pohon baopbab yang paling mengesankan dari masa lalu masih ada, terutama dari Madagaskar: misalnya, Adansonia grandidieri, atau baobab raksasa, yang dapat mencapai ketinggian 30 meter.

Ini tetap menjadi spesies baobab paling terkenal di Madagaskar. Spesies baobab yang paling langka di Madagaskar adalah Adansonia perrieri dan Adansonia suarezensis.

Ketiga spesies ini terancam dan berada dalam Daftar Merah Spesies Terancam Punah IUCN, dan penilaian baru-baru ini menunjukkan bahwa kedua spesies terakhir ini akan diklasifikasi ulang sebagai sangat terancam punah.

Postcomended   Paket Met Ditemukan di Dalam Rektum Tiga Penyelundup Narkoba di Bali

Habitat Adansonia perrieri sedang hilang karena pertanian dan pembangunan, sedangkan ancaman terbesar Adansonia suarezensis untuk bertahan hidup adalah petir, genangan air, jamur hitam, dan kekeringan. Lebih buruk lagi, spesies hewan besar yang bertanggung jawab membawa benih mungkin telah punah dan karenanya mengurangi distribusi spesies tanaman yang lebih luas.

Mengapa Disebut Pohon Kehidupan?
Pohon baobab dihormati di Afrika. Pohon ini telah membantu mempertahankan kehidupan penduduk setempat selama berabad-abad, sehingga kelangsungan hidupnya penting bagi orang-orang yang tinggal di sana. Senyawa obat dapat diekstrak dari daunnya, sedangkan buahnya kaya vitamin C yang digunakan untuk makanan, sedangkan bijinya dapat menghasilkan minyak.

Saking sangat pentingnya keberadaan pohon ini bagi warga dimana pohon ini tumbuh, di Togo ada pepatah: “Kebijaksanaan itu seperti pohon baobab: tidak ada orang yang bisa memeluknya.” Dalam banyak budaya Afrika, pohon ini disakralkan, tak hanya karena khasiat bagian-bagian dari pohonnya melainkan juga secara budaya.

The Guardian dalam laporannya menyebutkan, baobab membentuk bagian integral dalam mata pencaharian masyarakat. Di Afrika barat, baobab juga disebut “pohon palaver” karena fungsi sosialnya: ketika ada masalah di masyarakat, pertemuan di bawah pohon baobab dengan kepala atau suku akan identik dengan mencoba mencari solusi.

Postcomended   22 Juli dalam Sejarah: Fragmen Al-Quran Tertua Ditemukan di Universitas Birmingham

Simbolisasi ini semakin memperkuat kepercayaan dan rasa hormat di antara anggota masyarakat. Karenanya, kepunahannya bukan sekadar tragedi lingkungan.

Baobab tumbuh dalam kondisi yang sangat keras tetapi sepenuhnya disesuaikan dengan lingkungannya. Pohon ini merontokkan daunnya selama musim kemarau untuk mengurangi kehilangan air. Dia memiliki sistem akar keran yang cukup untuk mempertahankan kelembapan atau bahkan menahan air. Kulitnya yang tebal melindunginya dari kebakaran semak. Dari sudut pandang ilmiah, pohon baobab benar-benar tanaman lengkap.***


Share the knowledge

Leave a Reply