Internasional

Populasi Menua, Jepang Turunkan Usia Dewasa dari 20 Menjadi 18

Coming of Age Day (Asahi Nihongo)

Pemerintah Jepang memberlakukan RUU yang menurunkan usia dewasa dari 20 menjadi 18. Peraturan baru ini terkait dengan kecemasan Jepang pada populasi warganya yang menua. Akan tetapi, usia hukum minum alkohol akan tetap 20.

Jika sudah disahkan, ini akan memungkinkan orang Jepang menikah tanpa persetujuan orang tua Sebelum pemberlakukan undang-undang (UU) ini, pria berusia 18 dan wanita berusia 16 tahun dapat menikah tetapi harus terlebih dahulu mendapat izin orang tua.

Perubahan untuk pertama kalinya dalam 142 tahun ini juga akan memungkinkan anak-anak berusia 18 tahun untuk mengambil kartu kredit dan pinjaman dan mengajukan permohonan paspor yang berlaku selama 10 tahun dari sebelumnya hanya lima tahun.

Undang-undang ini akan mulai berlaku pada 1 April 2022, namun tidak akan mengubah usia legal untuk minum alkohol, merokok, atau judi, yang dikaitkan dengan masalah kesehatan.
Populasi Menua

Kombinasi dari angka kelahiran yang menurun dan peningkatan harapan hidup di seluruh Jepang telah menghasilkan penyusutan populasi yang progresif sekaligus menua.

Menurut proyeksi Kementerian Kesehatan Jepang, populasi negara ini pada 2060 diperkirakan menurun menjadi 86,74 juta dari total saat ini 126,26 juta.

Kondisi ini diperparah dengan makin sedikit pekerja yang membayar pajak, yang berarti akan lebih sedikit dana untuk mendukung pertumbuhan populasi usia lanjut yang membutuhkan dana pensiun dan layanan kesehatan.

“Mengingat penuaan masyarakat Jepang dan meningkatnya defisit anggaran, ada kebutuhan bagi kaum muda untuk meningkatkan pembayaran pajak,” kata Jeff Kingston, direktur Studi Asia di Universitas Temple Jepang.

“Menurunkan usia dewasa bisa menjadi cara untuk meyakinkan bahwa mereka memiliki saham dan suara di masyarakat,” tambahnya.

Pemerintah Jepang sebenanya telah mengubah usia pemilih dari 20 menjadi 18 sejak 2015. Namun langkah ini ditambah revisi terbaru yang diumumkan Rabu (13/6/2018). Ini menunjukkan meningkatnya upaya pemerintah untuk membuat kaum muda lebih sadar akan tanggung jawab mereka.

“Tingkat voting tidak begitu tinggi di Jepang sehingga ini bisa menjadi langkah kehumasan dan cara bagi pemerintah untuk merayu orang-orang muda untuk memikirkan peran mereka dalam percakapan politik,” kata Kingston.

Eiko Yonaha, seorang peneliti di Meio University di Okinawa, Jepang, kepada CNN mengatakan, dia takut bahwa orang “dewasa” muda di Jepang tidak cukup dewasa untuk mempertimbangkan implikasi politik suara mereka, dan dapat dengan mudah terpengaruh oleh agenda pemerintah.

Namun, di Twitter, pengguna tampak lebih khawatir bahwa efek revisi ini akan memengaruhi “Hari Kedatangan Masa Dewasa Jepang”; hari libur yang diadakan setiap Januari di mana anak-anak berusia 20 tahun berdandan dalam kimono tradisional untuk merayakan masa dewasa.

“Semuanya sangat mahal ketika Anda berusia 18 tahun, tidak mungkin memiliki kimono (di usia itu),” kata seorang pengguna Twitter.(***/CNN)

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top