Keluarga

Pria 81 Tahun yang Cekik “Istrinya” yang Sakit Hingga Tewas, Dibebaskan

Share the knowledge

 

https://www.scmp.com/news/hong-kong/law-and-crime/article/2181234/hong-kong-man-81-who-killed-sick-wife-end-her-misery-be

Wong Kok saat dalam proses pengadilan (gambar dari: scmp.com)

Dengan alasan mengakhiri penderitaannya, seorang lelaki berusia 81 tahun terpaksa mencekik teman hidupnya yang sakit keras hingga tewas. Atas perbuatannya itu yang terjadi di Hong Kong, lelaki ini dihukum penjara dua tahun. Namun hakim akan membebaskannya sebelum masa tahannanya berakhir.

Hakim mengatakan Selasa (8/1/2019) bahwa dia akan melunakkan hukuman dengan alasan belas kasihan. Mengekspresikan simpati, sang Hakim, Judianna Barnes Wai-ling, yang menghukum Wong Kok-man –yang ditahan pada tahun 2017– dengan hukuman penjara dua tahun, menetapkan pembebasannya dalam waktu sekitar satu bulan.

Keputusan ini didasarkan pada lamanya waktu yang telah dia habiskan dalam penahanan, dan pengurangan lebih lanjut karena perilaku yang baik. “Ini memang kasus yang tragis,” kata Barnes sebelum menjatuhkan hukuman penjara.

Wong, seorang pensiunan pekerja reparasi bus, menderita gangguan depresi berat dan mencekik Lem Mae-kim (76), pasangan hidupnya selama 30 tahun, dengan menekan batang bambu ke lehernya saat dia tidur di rumah susun mereka, Shau Kei Wan, pada 6 Juni 2017. Dia mengaku bersalah.

Dalam masa persidangan, terungkap bahwa pasangan itu memiliki seorang putra yang bunuh diri pada usia 24. Lem sakit dan kesakitan, dan telah kehilangan penglihatannya, indra perasa, dan minatnya pada kehidupan di hari-hari terakhirnya.

Postcomended   Mantan Karyawan Apple Asal Cina Dituduh Curi Rahasia Dagang Apple

Barnes mencatat mereka berdua mengalami kesulitan hidup di usia lanjut mereka. “Bagi sang istri, ada rasa sakit dan penderitaan serta penghinaan karena mengandalkan suaminya dalam semua aspek kehidupan sehari-hari,” kata Barnes.

Lem dan Wong tidak menikah secara resmi, tetapi Lem adalah istri de facto-nya, setelah tinggal bersama di satu  rumah. Barnes menyatakan simpati kepada Wong, mengatakan dia bekerja keras untuk menjaga Lem dan menanggung kesedihan emosional.

Hakim mengatakan, masalah mental Wong akhirnya membuatnya percaya bahwa mengambil nyawa pasangannya akan menjadi tindakan belas kasihan dan melegakan bagi mereka berdua, karena mereka berdua juga tidak dalam kondisi kesehatan yang baik.

“Saya berpandangan bahwa pengadilan harus meredam keadilan dengan belas kasihan ketika mempertimbangkan hukuman yang tepat,” kata Barnes. Pengadilan juga mendengar Wong tidak lagi terpengaruh oleh kondisi mentalnya dan karena itu tidak akan menimbulkan ancaman bagi masyarakat.

Postcomended   "Pembantaian Tiananmen" Akan Disensor dari Mbah Google Versi Cina #suruhgoogleaja

Dihadiri 11 Adiknya

Namun Wong ternyata tak sebatangkara. Dia memiliki 11 adik yang muncul di pengadilan untuk memberikan dukungan. Mereka berjanji akan merawat orang tua itu dengan lebih baik. Saudara Wong, Chi-keung mengatakan bahwa mereka akan membawanya keluar untuk makan setelah menjemputnya dari Pusat Penerimaan Lai Chi Kok.

“Kami akan mengunjunginya lebih lanjut,” dia bersumpah di luar pengadilan. Pengadilan mendengar bahwa Wong memperlakukan Lem sebagai istri keduanya, setelah meninggalkan istri pertamanya. Mereka memiliki seorang putra bersama yang menderita kanker usus besar, dan bunuh diri sekitar satu dekade lalu ketika Wong berusia 70 tahun.

Keadaan terus menurun ketika Lem menderita stroke pada 2015, yang membuat sisi kanan tubuhnya lumpuh. Dia juga menderita rheumatoid arthritis dan hipotiroidisme.

Pengadilan sebelumnya mendengar bahwa pada 2017, Wong menjadikan rencana yang telah direnungkannya berkali-kali ke dalam tindakan, menyusul keluhan kesehatan Lem yang terus-menerus. Dia digambarkan oleh tetangganya sebagai “suami yang peduli”.

Postcomended   Dunia Balas Tarif AS, Donald Trump kepada Petani AS: Sabar Sedikit!

Anggota parlemen Partai Buruh, Fernando Cheung Chiu-hung, yang mengunjungi Wong tiga kali, mengenangnya dan mengatakan bahwa “masalah-masalah sosial (semacam) ini adalah jalan yang harus ditempuh orang miskin”. Cheung mengecam pemerintah karena perencanaan yang tidak mencukupi, yang mengakibatkan kurangnya layanan dukungan publik bagi para lansia.***

 


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top