Blackberry dan Jaguar Land Rover Sepakat Rancang Perangkat Lunak Mobil Jawa Pos BlackBerry, BlackBerry Jaguar Land Rover

Blackberry dan Jaguar Land Rover Sepakat Rancang Perangkat Lunak Mobil Jawa Pos BlackBerry, BlackBerry Jaguar Land Rover

Akibat volume penjualan yang menurun, perusahaan mobil Jaguar Land Rover (JLR) terpaksa memangkas 1.000 pekerja, bahkan disebut telah mengoptimalkan kerja staf permanen di pabriknya. Para pekerja meninggalkan JLR pada Mei dan Juni, seiring perusahaan yang tidak memperbarui kontrak staf agen di pabrik Solihull yang membangun XE dan XF saloons (sedan berukuran lebih besar untuk pasar menengah atas), dan mobil sport.

Sebanyak 350 staf permanen dipindahkan dari pabrik Castle Bromwich ke Solihull, Inggris. Dalam sebuah pernyataan, JLR –yang telah berkembang pesat selama beberapa tahun– mengatakan langkah itu adalah bagian dari “tinjauan rutin jadwal produksi untuk memastikan permintaan pasar seimbang secara global”.

Dipahami bahwa staf agensi dioptimalkan untuk membantu mengelola apa yang disebut narasumber sebagai “puncak dan palung” permintaan, seiring perusahaan –yang memiliki sekitar 40.000 staf Inggris– memperkenalkan model-model baru.

Pemangkasan staf tersebut disalahkan atas kombinasi beberapa faktor penyebab. Ini termasuk apa yang disebut “demonisasi” diesel di Inggris akibat pemerintah menggunakan pajak baru untuk mencoba menghalangi pengendara membeli mobil yang diberdayakan oleh bahan bakar (solar). Kementerian terkait mengatakan, bahan bakar diesel menghasilkan lebih banyak polusi daripada menggunakan bensin. Sekitar 90pc dari mobil yang dijual JLR di Inggris didukung oleh diesel.

Postcomended   Lumba-lumba Militer Ukraina Dikabarkan Mati Kelaparan

Jatuhnya kepercayaan konsumen terkait ketidakpastian ekonomi menjelang Brexit telah membuat pengendara kurang tertarik untuk melakukan pembelian besar, sementara mobil sedan juga menjadi kurang populer, yang merupakan faktor penyebab lainnya dalam langkah JLR.

Pihak perusahaan mengungkapkan, “Mengingat angin yang terus menerus berdampak pada industri mobil, kami membuat beberapa penyesuaian untuk jadwal produksi kami dan tingkat staf agensi.” Namun JLR mengaku “tetap berkomitmen untuk pabrik di Inggris”.

Januari 2018 lalu, JLR mengatakan akan memperlambat laju produksi di pabrik Halewood. Alasannya karena ketidakpastian ekonomi dan kekhawatiran atas masa depan solar memukul produsen mobil terbesar di Inggris ini.

Pada saat itu dikhawatirkan akan ada pemutusan hubungan kerja di fasilitas Merseyside, yang membangun Range Rover Discovery Sport dan model Evoque yang lebih kecil, karena bergerak dari sistem tiga-shift ke dua shift sehari.

Postcomended   Lomba Video Destinasi atau Atraksi Wisata di Sulawesi Selatan

Penjualan global mobil JLR tahun lalu naik 7pc ke rekor 621.100, meskipun permintaan di Inggris datar pada 118.200. Namun dalam beberapa bulan pertama 2018, penjualan mereka diperkirakan menurun.

Penolakan terhadap diesel dan skandal emisi Volkswagen atas penggunaan bahan bakar solar, telah berdampak pada penjualan JLR. Seperti ramai diberitakan pada September 2015, Environmental Protection Agency (EPA/dinas perlindungan lingkungan) Amerika Serikat, menemukan bahwa piranti lunak yang terdapat pada sejumlah model VW, menggunakan bahan bakar solar. Hal ini disebut bisa memanipulasi uji emisi.

Angka-angka di seluruh industri menunjukkan bahwa bahan bakar solar kehilangan popularitas. Pada 2017, kendaraan berbahan bakar solar mencapai 42pc dari pasar mobil baru di Inggris, turun dari 47,7pc tahun sebelumnya. Data industri terbaru dari Maret menunjukkan pangsa pasar 37,2%.

Profesor David Bailey, seorang ahli industri otomotif di Universitas Aston menyebut penurunan ini tidak mengejutkan setelah penutupan JLR diperpanjang awal tahun ini. “Penjualan JLR turun di Inggris memiliki efek gabungan dari Brexit dan berbalik melawan diesel. Perusahaan ini terutama terekspos pada yang terakhir dengan penjualan Inggris didominasi oleh diesel,” ujar Bailey.

Postcomended   Geliat Wisata Sumba Lewat Festival Pasola 2018

Seperti diketahui, keluarnya Inggris dari Uni Eropa yang dikenal dengan istilah Britain Exit alias Brexit, disusul jatuhnya nilai poudsterling. Harga-harga naik, inflasi tak terkendali. National Institute for Economic and Social Research (NIESR) mengestimasi, akibat Brexit pendapatan riil per kapita di Inggris akan turun 0,5 persen pada tahun 2017.(***/telegraph/businessinsider)