Beritacenter.com - Heboh Fenomena Flakka, BNN : PCC di Kendari ... Beritacenter.com650 × 365Search by image Beritacenter.com - Heboh Fenomena Flakka, BNN : PCC di Kendari Beda Dengan Flakka

Beritacenter.com – Heboh Fenomena Flakka, BNN : PCC di Kendari … Beritacenter.com650 × 365Search by image Beritacenter.com – Heboh Fenomena Flakka, BNN : PCC di Kendari Beda Dengan Flakka

Sebanyak 50 remaja Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Rabu (13/9/2017) dilarikan ke rumah sakit. Mereka diduga mengalami overdosis akibat mengonsumsi pil bertuliskan PCC. Satu orang dinyatakan meninggal. Beberapa diketahui dalam keadaan tidak sadar namun mengamuk sehingga harus diikat. Kondisi ini sempat memunculkan dugaan bahwa mereka mengonsumsi flakka. Oknum pengedar obat ini diduga seorang ibu rumah tangga.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kendari, Hj Murniati, seperti dilansir Antara, menyebutkan, para korban mengalami gejala seperti orang tidak waras: mengamuk, memberontak, dan berbicara tidak karuan, sehingga sebagian harus diikat.

Menurut korban yang sudah sadar, kata Murniati, mereka mendapatkan obat itu dari oknum yang tidak dikenal. Obat tersebut ada yang cair dan juga tablet.

Kepala RSJ Kendari, dr Abdul Rasak, menyebutkan, para korban mengalami gangguan mental dan kejiwaan, bahkan ada yang membentur-benturkan kepala.

Postcomended   Narkoba Zombie Sudah Masuk Indonesia #Flakka #highasfuck

Seorang korban mengatakan dia mengonsumsi tiga obat berbeda, yakni Tramadol, Somadril, dan PCC. Ketiga jenis obat itu kata dia, dicampur lalu diminum bersamaan menggunakan air putih.

Ahli kimia farmasi BNN, Kombes Pol Drs Mufti Djusnir, MSi, Apt, mengatakan, dengan dicampurkan, obat-obatan itu menjadi bekerja searah, menghantam saraf pusat otak, dan akan menimbulkan ketidakseimbangan.

Menurutnya, obat tersebut sebagian sudah tidak dijual karena sudah ditarik dari peredaran, seperti Somadril. Sementara Tramadol resmi tapi harus dengan resep dokter.

Mengenai obat bertuliskan PCC, ternyata merupakan kependekan dari paracetamol, caffein, dan carisoprodol. Obat ini berfungsi mengatasi nyeri dan ketegangan otot.

Deputi Bidang Pemberantasan BNN, Irjen Arman Depari, mengatakan, PCC biasanya digunakan sebagai penghilang rasa sakit dan untuk obat sakit jantung, namun harus dengan resep dokter. Arman juga mengatakan, PCC sementara ini bukan merupakan narkotik, dan juga bukan Flakka.

Sementara itu, seperti dilaporkan Liputan6, oknum pelaku yang diduga mengedarkan obat PCC tersebut sudah ditahan di Mapolsek Mandonga Kendari, yakni seorang ibu rumah tangga berinisial “ST” (39).***

Share the knowledge