Is Twitter Censoring Positive Replies to Donald Trump's Tweets ... Infowars800 × 420Search by image Is Twitter Censoring Positive Replies to Donald Trump's Tweets?

Is Twitter Censoring Positive Replies to Donald Trump’s Tweets … Infowars800 × 420Search by image Is Twitter Censoring Positive Replies to Donald Trump’s Tweets?

Cuitan di media sosial boleh jadi akan mulai mencatatkan peran pentingnya dalam sejarah geopolitik dunia, ketika para pemimpin dunia menyatakan perang terhadap negara lain melalui cuitan di akun Twitter. Setidaknya hal ini diyakini oleh Korea Utara (Korut). Ciapan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, di akun Twitter-nya akhir pekan lalu, dianggap Pyongyang sebagai “deklarasi perang”.

Menteri Luar Negeri Korut, Ri Yong-ho mengatakan, seperti dilansir The Guardian, “Seluruh dunia harus mengingat dengan jelas bahwa AS adalah yang pertama kali mengumumkan perang terhadap negara kita.”

Ri sedang merujuk secara khusus pada cuitan Trump, Minggu (24/9/2017), yang memperingatkan bahwa pemimpin rezim Korut, Kim Jong Un, tidak akan eksis lebih lama lagi.

Hal ini lalu dijadikan alasan bagi Pyongyang untuk mengancam akan menembak jatuh pesawat pengebom AS bahkan ketika terbang di wilayah udara internasional. Ancaman ini tampaknya juga terkait pesawat pengebom AS yang akhir pekan lalu wira-wiri di atas perairan semenanjung Korea.

Vipin Narang, seorang ahli showdown Semenanjung Korea di Massachusetts Institute of Technology, mengatakan, Pyongyang benar-benar membenci penerbangan pesawat pembom B-1B. Ini jelas membuat Pyongyang gugup atas kemungkinan adanya serangan kejutan dari AS. 

Dilansir BBC, unjuk kekuatan pasukan militer itu untuk menunjukkan “keseriusan” AS terhadap perilaku Korut yang disebut Pentagon sebagai “sembrono”, seraya menyebut bahwa program senjata Korut merupakan sebuah “ancaman serius”.

Postcomended   Acho Dimejahijaukan: Tahan Membeli Apartemen Sebelum Aturan Jelas

Dalam pidato pertamanya untuk PBB Selasa lalu, seperti diberitakan The Guardian, Trump juga telah memperingatkan bahwa jika AS dan sekutunya diserang, ia akan “benar-benar menghancurkan” Korut.

Berbicara kepada wartawan melalui seorang juru bahasa di luar sidang Majelis Umum PBB di New York, Minggu (24/9), Ri mengatakan, PBB dan komunitas internasional berharap bahwa perang kata-kata antara kedua negara tidak akan berubah menjadi “tindakan nyata”.

“Namun, akhir pekan lalu Trump mengklaim bahwa kepemimpinan kami tidak akan lama lagi, dan oleh karena itu pada akhirnya ia menyatakan perang terhadap negara kita,” simpul Ri. “Mengingat fakta bahwa pernyataan ini datang dari seseorang yang memegang kursi kepresidenan AS, ini jelas deklarasi perang.”

Karenanya Korut berdalih memiliki hak untuk membuat tindakan kontra, termasuk hak untuk menembak jatuh pesawat pembom AS, bahkan ketika melintas di luar udara Korut.

Ini bukan pertama kalinya Pyongyang menuduh AS menyatakan perang. Dengan alasan itu pula, pada 1969 Korut telah menembak jatuh pesawat pengintai Angkatan Laut AS yang menewaskan 31 prajuritnya. Lalu pada 1994 Korut juga menembak helikopter militer AS yang menewaskan pilotnya.

AS pun buru-buru membantah bahwa itu deklarasi perang. Namun kembali menegaskan bahwa ancaman AS adalah opsi militer jika Korut mengambil tindakan-tindakan lebih lanjut yang “provokatif”.

Menanggapi perang sesumbar itu, Sekretaris Pers Gedung Putih, Sarah Huckabee Sanders, mengatakan, Tujuan kami masih sama: terus mendorong denuklirisasi Semenanjung Korea secara damai,” katanya. Jikapun AS akan menghukum Korut, kata Sarah, opsi yang paling maksimum hanyalah sanksi diplomatik dan ekonomi.

Sekjen PBB, Antonio Guterres, memperingatkan, retorika yang memanas hanya akan meningkatkan risiko konfrontasi. “Kebisingan bicara dapat menyebabkan kesalahpahaman fatal,” kata juru bicara PBB, Stephane Dujarric, kepada wartawan. “Satu-satunya solusi untuk ini adalah solusi politis.”***

Postcomended   Ada Ancaman Pembunuhan Ahok di Balik Pemblokiran Telegram

Share the knowledge