YOO AH IN: HE'S THE GUY: a collection of ideas to try about Celebrities | Typewriters, Press photo and Sungkyunkwan scandal pinterest.com690 × 920Search by image Secret Love Affair ~ Yoo Ah In ♡...omo...soooo good!!!

YOO AH IN: HE’S THE GUY: a collection of ideas to try about Celebrities | Typewriters, Press photo and Sungkyunkwan scandal pinterest.com690 × 920Search by image Secret Love Affair ~ Yoo Ah In ♡…omo…soooo good!!!

Pemerintah Korea Utara (Korut) kalap. Gara-gara ada diplomatnya yang kedapatan menonton drama televisi Korea Selatan (Korsel), mereka melakukan “pembersihan” besar-besaran terhadap para staf dan diplomatnya di Kedutaan Besar (Kedubes)-nya di Beijing, Cina. Pyongyang tidak main-main, pasalnya banyak pembelot Korut terinspirasi oleh drama Korsel yang beken dengan istilah K-drama itu.

K-drama telah memainkan peran penting dalam perseteruan dua Korea. Warga Korut dilarang keras menontonnya. Yang ketahuan bisa terancam dieksekusi mati. Pyongyang tak mau ambil risiko memperbanyak pembelot Korut karena terinspirasi K-drama.

Postcomended   Ras Mongoloid Tumbuh Pendek Karena Masalah Kurang Gizi

Pembelot top Korut, Thae Yong-ho, yang merupakan mantan duta besar Korut untuk Inggris pernah mengungkap bahwa rezim Kim Jong-un tidak mampu sepenuhnya mengontrol tayangan K-drama di negaranya sendiri.

”Dua hal yang gagal dikendalikan rezim adalah narkoba dan drama Korsel,” kata Thae.

Tindakan diplomat menonton K-drama dianggap kesalahan serius yang menyangkut ideologi, karena menunjukkan simpati pada Seoul.

Postcomended   Indonesia Nomor Wahid Gunakan Fitur "Stories" di Instagram

Kementerian Keamanan Negara Korea Utara serta Komite Pusat Partai Buruh Korea mengonfirmasi perihal pejabat kedutaan yang menonton drama televisi Korsel.

Diplomat yang ketahuan menonton tayangan K-drama itu adalah pemimpin bagian industri ringan di kedutaan, sebuah posisi yang sangat berpengaruh.

Tak hanya staf dan para diplomat, anggota keluarga mereka juga dipantau ketat. Aparat berwenang Pyongyang mencari materi yang mereka sebut “kotoran ideologis” di komputer, telepon genggam, dan perangkat lainnya milik staf, diplomat, dan anggota keluarga mereka.