Nasional

Pyongyang Sebut Siswa Australia yang Dibebaskan adalah Mata-mata

Share the knowledge

 

Alex Sigley (gambar dari YouTube)

Alex Sigley (gambar dari YouTube)

Seorang mahasiswa Australia yang dibebaskan setelah ditahan di Korea Utara, dituding telah melakukan praktik spionase di negara tertutup itu, media pemerintah mengatakan Sabtu (6/7/2019). Mahasiswa ini sempat menghilang sekitar dua minggu yang lalu. 

Menghilangnya Alek Sigley (29) sempat memicu kekhawatiran mendalam tentang nasibnya, tetapi kemudian dia dibebaskan dan terbang ke Jepang, Kamis (4/7/2019), seprti dilansir laman AFP.

Kantor berita resmi Korea Utara, KCNA, mengatakan, Sigley mengakui bahwa dia telah memata-matai dengan mengumpulkan informasi internal mereka dan berbagi dengan orang lain dan berulang kali meminta maaf kepada mereka karena melanggar kedaulatan.

Dikatakan bahwa Sigley –salah satu dari segelintir orang Barat yang tinggal dan belajar di Korea Utara– telah ditahan pada 25 Juni karena mempromosikan propaganda terhadap negara itu secara online, termasuk di situs web spesialis NK News, yang menolak tuduhan itu.

“Atas permintaan kantor berita yang anti-DPRK seperti NK News, dalam banyak kesempatan (dia) mentransfer informasi yang dikumpulkannya saat bepergian ke setiap sudut Pyongyang menggunakan statusnya sebagai siswa internasional, termasuk foto dan analisis,” tulis KCNA, menggunakan inisial nama resmi Korea Utara (DPRK/Democratic People’s Republic of Korea).

Postcomended   Melantai di Bursa New York, Virgin Galactic Harapkan Munculnya Ribuan Astronot Baru

“Pemerintah DPRK telah bersabar demi kemanusiaan dan mendeportasinya dari tempat kami pada 4 Juli.”
Penahanan Sigley dilakukan hanya beberapa hari sebelum pertemuan puncak G20 dan pertemuan penting antara Presiden Donald Trump dan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un.

Laman sebelumnya, Trump terlibat erat dalam kasus mahasiswa Universitas Virginia, Otto Warmbier, yang dipenjara selama tur ke negara otoriter tersebut pada 2016.

Postcomended   6 November dalam Sejarah: Revolusi Iran, Khomeini Naik ke Tampuk Kekuasaan

Dokter mengatakan, Warmbier menderita kerusakan otak parah saat dalam penahanan, jatuh dalam koma dan meninggal beberapa hari setelah tiba kembali di AS pada usia 22 tahun.

Sigley jauh lebih akrab dengan Korea Utara dan berbicara bahasa Korea dengan lancar. Dia mengorganisasi tur ke negeri tersebut, dan mengelola sejumlah situs media sosial, yang biasanya memiliki aliran konten apolitis tentang kehidupan di salah satu negara paling rahasia di dunia ini.

Posting blog-nya terfokus pada Pyongyang setiap hari, mulai dari tempat makan hingga ulasan tentang aplikasi Korea Utara. Dia bahkan menikah dengan istri Jepang-nya di sana tahun lalu.

Chad O’Carroll, direktur NK News, mengatakan dalam sebuah pernyataan Sabtu bahwa kolom-kolom Sigley untuk situs itu “menyajikan pandangan hidup yang apolitis dan berwawasan luas di Pyongyang”.***

Postcomended   16 November dalam Sejarah: Muncul Pertamakali di Cina, Penyakit Ini Lalu Menyebar ke Negara Lain

 


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top