Quarantine’s life – The longest 5 days in my life; Kisah Perjalanan Ke Indonesia yang Tidak Terelakan

Quarantine’s life – The longest 5 days in my life; Kisah Perjalanan Ke Indonesia yang Tidak Terelakan

Internasional Keluarga Trending Berita hari ini
Share the knowledge

Pandemik Corona yang menyesakan dunia ini cukuplah menjadi headline di media massa mainstream yang sarat mencari konten baru dalam hitungan detiknya demi traffic dan viewer bertambah dan bertambah lagi. Pernahkah terpikir oleh kita akan kepentingan kita pribadi yang tersandung akan tatanan dunia yang berantakan ini, tatanan dunia yang berpihak pada kepentingan ekonomi dan berbagai sudut pandang pemulihan dunia terhadap pandemic Covid-19 ini.

Berikut adalah cerita seorang Ibu rumah tangga biasa yang berusaha mengarungi dunia, lintas negara demi sebuah kepentingan pribadi dan rasa cinta terhadap keluarga sang ibu yang meninggal, bukan untuk traveling dan berselfie ria di negara Switzerland seperti yang pernah dilakukan oleh salah satu artis diva negara ini.

Quarantine’s life – The longest 5 days in my life :

Jauh2 hari sebelum ada Covid 19 pandemic, tiket utk pulang lebaran utk bertemu orang tua dan keluarga lainnya sdh dibeli. Ketika mulai ada outbreak corona virus, flight saya automatically cancelled oleh airlinesnya.

Akhirnya komunikasi dgn Jakarta hanya lewat video call dan bikin plan baru utk pulang sekitar akhir thn aja. Tau-tau dapat kabar mama masuk RumahSakit. Ga mau terulang lagi perasaan sesal yg dalam karena ga sempat ketemu bapak untuk terakhir kalinya 1 bulanan yang lalu, tiket baru pun dibeli last minute dengan harapan semoga masih sempat bertemu mama untuk membangkitkan semangatnya.

Tapi lagi-lagi, it’s all in God’s hand. Harapan utk ketemu mama in person juga tak dikabulkan Tuhan. Meskipun dg perasaan yg hancur lebur, hati dicoba untuk ikhlas dan tetap kuat menerima semua keputusanNya. Tapi gimana dengan tiket yg baru, should I then cancel tiketnya lagi mengingat sebenarnya semua negara mengeluarkan himbauan atau peraturan untuk ga kemana-mana ?

In the end, the unbearable pain of losing both parents dalam waktu yg berdekatan menimbulkan keinginan yg lain. Keinginan utk mendoakan kepergian 7 hari mama di rumah Jakarta bersama kakak-kakak dan keponakan, dengan harapan it will help in my mourning process and gradually ease the pain. Jadi mulailah pengumpulan informasi tentang dokumen apa aja yg harus diurus dan peraturan-peraturan apa yg harus dipahami.

Sempat bingung karena informasi yg didapat sepertinya berbeda-beda tentang dokumen yang harus diurus. Airlines bilang A, info dari depkes bilang B. info dr keimigrasian bilang C, info dr KBRI Belanda bilang D, keluarga teman yg tiba di Indonesia bilang E  Mengingat waktu yg mendesak, ga mungkin melakukan PCR test (spt yg diminta oleh salah satu instansi) krn hasilnya akan memakan waktu lebih dr 1 hari, ditambah pula harus bikin jadwal dulu. Health certificate pun (yg minimal katanya hrs ada) ga bisa dikeluarkan “hanya” oleh dokter karena harus dikeluarkan oleh instansi khusus yg ditunjuk pemerintah Belanda.

Sempat agak khawatir akan apa yg akan terjadi nanti kalau dokumen engga lengkap, apalagi terus dapat update terbaru mengenai kedatangan WNI ke Indonesia yg dikeluarkan oleh Depkes persis 1 hari sebelum berangkat yg isi pengaturannya lebih ketat. Dg mikir pasrah ya udah gimana nanti aja, akhirnya koper diisi dengan persiapan perlengkapan utk skenario yg tidak diinginkan, masuk karantina, meskipun tetap punya harapan bisa pulang ke rumah untuk isolasi mandiri.

Untuk teman-teman yg udah bertanya gimana proses utk balik ke Jakarta atau apa yg terjadi sesudahnya, utk referensi kerabat atau keluarganya yg akan pulang ke Jakarta dalam waktu dekat ini, saya jawab disini aja sekalian apa yg saya alami last weekend. Please note: apa yg saya alami mungkin berbeda dg yg lainnya, karena semuanya sepertinya tergantung waktu dan situasi yg kita alami pada saat itu. Tapi kalau ada pertanyaan lebih lanjut pm aja, mudah2an bisa dibantu utk dijawab (via facebook comment : RED).

Hari Jumat tg 15 May 2020, jam 9:30 pagi sampai di Schiphol. Di Schiphol yg biasanya selalu ramai dan sibuk, situasinya termasuk sepi meskipun ga seperti haunted airport.

Di counter check in Garuda, petugas menanyakan hasil PCR test. Saya jawab saya ga sempat test dan tidak mungkin menunggu hasil PCR karena tujuan kepergian saya adalah karena meninggalnya orang tua dua hari yg lalu. Saya berikan Death’s certificate mama dr Rumah Sakit, bersama form deklarasi kesehatan yg sudah saya download sebelumnya dari website Garuda. Di belakang saya ada seorang perempuan bule yg dengan alasan apa saya kurang jelas yg ditolak utk check-in, sedang arguing dengan salah satu petugas.

Dengan lega saya akhirnya dapat boarding pass. Sebelum masuk ke gate saya bilang ke suami feeling saya bilang sepertinya saya akan dikarantina sesampainya di Jakarta. Lalu saya segera menghubungi keluarga di Jakarta yang akan menjemput minta tolong utk disiapkan HP dg internet ready. Setelah itu, masuklah saya menuju ke ruang tunggu. Sepanjang jalan hanya 1 dua toko yg buka, toko souvenir coklat-coklatan. Lainnya termasuk cafe dan restoran-restoran tutup. Sampai di ruang tunggu lumayan banyak orang dan hampir semuanya memakai masker.

Jam 12 kurang, boarding dan masuk pesawat. Saya lihat ada beberapa orang bule, beberapa yg kelihatan seperti pelajar/mahasiswa, dan dari obrolan kelompok mereka sepertinya ABK. Di dalam pesawat mbak-mbak pramugari extremely nice. Mereka juga pakai masker dan hand-gloves. Krn pesawat ga penuh, mbak-mbak pramugari dengan aktifnya menawarkan penumpang-penumpang untuk pindah ke deretan yg kosong supaya bisa tiduran during the flight. It was a pleasant flight considering the situation.

Pesawat landed di Soetta hari Sabtu tgl 16 May 2020, sekitar jam 6 pagi, or ahead of schedule. Ketika antri untuk turun pesawat dengar mbak-mbak pramugari bicara ke temannya bahwa ada sekitar 90 penumpang (kl ga salah dengar) yg setelah ini akan di rapid test dan kemudian dibawa ke Pondok Gede utk karantina.

Postcomended   Motley Crue Tuduh Kiss Curi Aksi Panggung Mereka, Media Curiga Ini Taktik

😷Okelah, pasrah aja. Sesudah taxi-ing penumpang dijemput oleh bus. Seturunnya dari bis, di pintu sebelum masuk ke dalam gedung sudah disambut beberapa petugas dg meja-meja yang memberikan form kesehatan dan data-data lainnya utk diisi. Habis itu kita baris untuk menunggu giliran rapid test. Di depan kita berjejer panjang beberapa meja-meja petugas medis. Dipanggil per 5 org utk ambil darah, kemudian disuruh tunggu hasinya disitu juga.

Hasil test saya negative dan saya kemudian dikasih beberapa form yg hrs saya simpan dulu. Setelah itu diarahkan utk ke counter imigrasi dan dibilang nanti akan diberi instruksi lbh lanjut. Dengar-dengar setelahnya katanya kalau hasil testnya positive, langsung diangkut dari airport utk dibawa ke isolasi atau Rumah Sakit 🙄 .

Sepertinya juga kalau sudah punya hasil PCR test negative yg dikeluarkan max dalam 7 hari sebelum tiba di Indonesia, bisa karantina mandiri.

Dari sana saya menuju imigrasi clearance dan ambil bagasi, dan lalu saya jalan menuju arah luar. Di ujung ruangan sebelum keluar ke hall penjemputan, ada beberapa tentara yg berdiri menghalangi jalan keluar. Kemudian kita berbaris sambil menunggu penumpang yg lain selesai.

Sambil menunggu ada beberapa penumpang yg marah-marah, krn ga mendapat informasi yang jelas dari tentara-tentara itu kita akan dibawa kemana dllnya. Akhirnya kita keluar dg dituntun tentara-tentara menuju tempat jemputan bis.

Di luar sempat ktm sm keluarga2 yg udh jemput tp ga bs ikut mrk pulang 😒Akhirnya sempat dikasih HP aja sambil bilang ke mereka sepertinya kita akan dibawa ke Wisma Atlet Kemayoran bukan ke Pdk Gede. Sampai di tempat bis, juga ga jelas kpn kita akan diberangkatkan dllnya. Jadilah kita hrs nunggu lagi, dan lagi-lagi ada penumpang yg marah-marah. Sesama penumpang akhirnya ngobrol, and terus kita berhitung.

Kl dr 1 pesawat memang ada 90an org dan harus dikarantina semua sesuai peraturan, kenapa yg nunggu bis hanya sekitar belasan orang? Let’s say ada penumpang yg sudah melakukan PCR sebelum kembali ke Indonesia, tapi apakah jumlahnya sampai lbh dr 50%? Jadi yg lain kemana? Terlanjur keluar nunggu di tempat lain? Atau memang langsung pulang tanpa terawasi? Jadi sepertinya memang ada kendala koordinasi di lapangan. Karena petugas TNI sepertinya bertugas jaga ganti-gantian dan mungkin informasi dr komandannya berbeda beda atau antara Depkes, TNI,dan semua gugus tugas disana sebenarnya juga kurang info, akhirnya ga ada kejelasan yg bs diberikan utk kita para penumpang.

Tapi dengerin mereka dimarahin penumpang atau org tua yg mau jemput anaknya, kasihan jg jadinya  Mereka bilang bahwa mereka juga pengen pulang ke rumah krn sudah berhari-hari ga pulang, ada yang dari Medan dll tinggalnya yg jauh-jauh, tapi kan ga mungkin pulang krn situasi ini. Mereka bilang kita harusnya senang karena kita akan di swab gratis, karena kalau diluaran harus bayar 1 jutaan atau berapalah 😒 Akhirnya, setelah 1 bus diisi 17 org dengan physical distancing, bus pun berangkat dengan dikawal oleh polisi.

Sampai di Wisma Atlet Kemayoran sekitar jam 9:30 pagi. Turun dari bis melihat pintu gerbang masuk complek apartment yg dijaga oleh beberapa org tentara-tentara. Sempat ngobrol sama tentaranya lagi tanya-tanya. Dia bilang lebih baik menghadapi perang beneran karena musuh yg dihadapi itu beneran kelihatan ada di depan mata. Kalau kejadian kayak gini…😢Mereka juga bilang apartemen yg akan saya huni sudah penuh sampai sekitar lantai 20 padahal baru dibuka beberapa hari yg lalu  .

Sebelum masuk ke dalam gedung, ada beberapa meja2 lagi di depan pintu masuk building, juga banyak tentara-tentara, yang kemudian saya tau bhw dr form yg saya pegang itu kita sudah diassign lantai dan no kamar kita selama dikarantina. Kemudian saya dibilang utk naik ke kamar utk menunggu giliran di swab.

Baiklah, masuklah saya ke dalam lobby yg agak lumayan ramai. Mau naik ke atas nunggu antrian lift, eh dibilang koper hrs ditinggal dibaah ga boleh dibawa ke atas. Saya bilang ke Pak Tentara, semua perlengkapan saya ada disitu, ga mungkin dong saya naik ke atas ga bawa apa2. Belum lagi ada obat2an yg harus saya konsumsi. Pak tentara bilang tunggu dulu dia akan tanya komandannya (mungkin). Akhirnya dia balik dan bilang silahkan dibawa ke atas kopernya Bu. Baiklah Pak, terima kasih.

Sampai di lantai tujuan unit apartemen saya. Untuk yang kemarin bertanya2, silahkan nilai sendiri dari  fotonya ya.. yg jelas untuk saya it’s a decent place. Memang ga besar tapi bersih. Saya pikir it looks fine kalo memang saya harus dikarantina 2 minggu disana misalnya. Gedung ini kan baru 2 tahunan, krn dipake utk Asian Games 2018. Setiap 1 unit diperuntukkan utk 3 org, ada small living room, 2 kamar tidur dan 3 ranjang tidur. Yg kemarin nanya ada TV atau ga, ga adalah..ini khan tempat darurat bukan hotel.

Kamar mandinya bersih, jangan khawatir, bukan WC jongkok, tp ga ada perlengkapan apapun..not even sabun cuci tangan atau tissue. Ada dapur kotor di bagian luar yg sepertinya utk tempat jemuran, tp hanya ada sink dan ga ada kompor atau perlengkapan apapun juga. Ga ada tempat sampah, sapu atau pel. Akhirnya saya meminta bala bantuan dari keluarga utk kiriman keset, disinfectant dan keperluan tambahan lain. Untung bisa telpon karena ada wifi tapi signalnya amat sangat lemah dan jadi percuma karena ga bs diakses. Ada AC di setiap kamar tidur. Tapi di kamar tidur saya AC nya senin kamis, alias kadang nyala kadang mati, dan setiap saat kita hrs gantian turn it back on 😌

Hari ke 1 dan ke 2:
Setiap hari dikasih makan 3x, pagi, siang, malam. Plus tajil utk buka puasa dan air minum yg bisa diambil sendiri dibawah. Sore di hari pertama, giliran penghuni lantai saya menuju lantai 3 untuk di swab. Yg nanyain sakit atau ga, jawabannya sakit. Krn itu khan hidung kita dimasukin cotton buds panjang, yg hrs bisa mentok sampai di dalam hidung, trs habis itu diputar2 deh didalam sana sampai dpt samplenya 😒Tapi hanya beberapa detik aja sakitnya, dan hanya 1 sisi lubang hidung aja. Sakitnya ga dashyat banget tp ya tergantung tingkat toleransi sakit masing2.

Postcomended   Tunggangan James Bond: Kebut-kebutan dengan Bajaj di "Octopussy" (3)

Yg jelas ada beberapa kemungkinan, either keluar air mata nangis kyk sedih spt temen sekamar saya, atau bersin2 kyk roommate saya satunya lagi, atau dr posisi yg tadinya duduk kaki bisa akhirnya jd naik sendiri ke atas kyk saya 😷 .

Selesai itu kita balik kamar utk buka puasa. Hari ke satu dan ke dua kita dpt kiriman makanan dr keluarga atau teman2, plus makanan jatah dr pemerintah yg kita ambil dr lobby sblmnya.Malam pertama dan kedua disii dengan kuping terbuka dan tidur yg seadanya krn ada pengumuman2 yg secara konstan di broadcast dari pagi sampai pagi keesokan harinya lg, yg hanya distop sekitar 1atau 2 jam utk buka puasa.Dan ini berlangsung setiap hari. Jd tidur selalu deg2an dan kebangun2.

Setiap dua hari sekali dtg housekeeping utk melihat perlengkapan. Trs kita bilang kl dikamar saya AC nya ga berjalan dg benar, dia bilang akan kirim tekhnisi utk check. Ternyata hanya PHP, berhari2 ga dtg2. Ya sudlah, akhirnya roommate dr kamar yg AC nya nyala, buka pintu kamarnya, dan kita jg, spy dinginnya bisa mampir ke tempat kita. Kadang2 berhasil, kadang2 tidur dg keringatan. Baju tidur pun ganti,cuci dan jemur  Seprei sampai hari terakhir ga diganti2, meskipun pd saat saya dtg sepreinya kelihatan msh baru. Alhasil saya lihat di bagian paha suka gatal and saya ada bercak2 hitam mungkin krn sengatan bugs dr kasur atau mungkin jg krn keringatan kl tidur. Sapu harus pinjam dr housekeeping, ga blh disimpan, hrs dibalikin kl udh selesai. Utk sampah stlh minta, kita dikasih plastik sampahnya aja, ga ada tempatnya. Yowis akurapopo.

Hari ke 3 dan selanjutnya:
Kita mulai tau kode2 pemanggilan utk yg hasilnya positive (dan hrs dievakuasi utk ) dipindahkan, utk yg dipanggil giliran swab, atau yg dipanggil krn udh blh pulang.
Singkat cerita di hari ke 3 kita mulai mengamati terjadinya pelonjakan jumlah kedatangan calon penghuni. Kita dpt info bhw belasan bis akan masuk setiap harinya dr kemarin. Yg terjadi akhirnya adalah, lobby menjadi ramai. Ga ada physical distancing. Dg ratusan penghuni, lift yg beroperasi hanya dua ( krn yg 2 lagi masih under maintenance) bayangin aja antrean naik turun lift, lama banget. Dan di dalam lift ya cheek to cheek gitulah. Makanan mulai terlambat, baik untuk sahur ataupun untuk buka puasa. Air minum botol jatah mulai susah. Kalaupun ada dr yg tadinya ukuran botol besar 1,5 ltr, berubah jd botol2 kecil dan akhirnya dijatahin setiap ambil, 1 org hanya bisa ambil 2 botol. Yg lbh bikin sedih, air keran mulai mati, nyala, mati lg mulai dr hari ke 3  Penghuni mulai tambah banyak keliaran dilorong2, lobby, dan di area dlm halaman gedung. Alarm mulai bunyi2 krn smoke detector menangkap asap2 yg dikeluarkan oleh org2 yg merokok di kamar atau di lorong2 gedung ..dlm 1 hari pernah saya hitung bunyi sampai 20 an kali. Ditambah kemudian ada pengumuman bhw tower saya ini telah menjadi Red Zone krn ditemukan ratusan org yg positive hasilnya 😒 Pdhl selama ini saya dengarnya tower 4 dan tower 7 yg diperuntukan utk org2 yg sudah positive Covid 19. Akhirnya tentara mulai jadi galak. Dilakukan penyemprotan di lantai saya, mungkin jg di seluruh lantai. Dengar2 penghuni kamar di seberang saya hasil swabnya positive jadi dia harus dievakuasi. Melihat petugas dg pakaian pelindung komplit 😷 Kemudian pengiriman barang apapun dr luar dihentikan, ga blh lg masukin atau keluarin barang apapun. Semua diperintahkan masuk kamar, ga blh berada di lobby atau luar kamar. Lift ga blh dipakai kl ga perlu, apalagi kl mau ada evakuasi. Makanan akan diantar ke setiap lantai. Tp pada akhirnya jadi suka telat atau ada yg kehabisan  Mungkin cateringnya ga siap dg adanya pelonjakan penambahan jumlah penghuni .Tentara broadcast lg sambil suaranya mulai kencang, kl ada yg msh ngerokok di dalam atau keliaran ga jelas diluar kamar akan ditindak:( Situasi mencekam terasa mulai hari ke 3 itu ketika supply makanan mulai susah, air ga ada, dan setiap saat deg2an dengerin pengumuman apakah nama kita dipanggil utk segera turun dg membawa semua perlengkapan dan koper kita (yg berarti kita positive Covid 19 dan akan saat itu jg dievakuasi dr situ) atau ditunggu petugas kesehatan di dpn lift (yg artinya sm juga, bhw kita akan dipindahkan krn positive Covid 19.

Postcomended   Tobarium: Parfum dari Sumatera Utara yang Mendunia

Kemudiaan org2 mulai teriak2 protes,krn org2 mulai gelisah ga ada air dan mungkin jg krn lapar. Jd tambah khawatir krn ga kebayang gimana kl terjadi kerusuhan. Lalu dengar2 lg ada demo krn banyak yg minta keluar or dipulangin krn situasi di dlm bikin mrk takut malah akan tertular. Untuk para TKI saya baru kemudian tau bhw pemerintah menyediakan bis per jurusan keluar Jabodetabek. Kl di Jabodetabek ya pulang dg cara sendiri aja.Ga tau knp feeling saya bilang temen2 TKI yg didulukan pemberitauan hasilnya. Mungkin krn setiap hari at least puluhan lg yg dtg, ber bus bus. Dari pengumuman kita tau bahwa tingkat hunian sudah sampai ke lantai 25, dlm beberapa hari aja. Utk mahasiswa2 atau org2 dg alasan lainnya yg balik ke Ind, sepertinya blm bs cepat hasilnya.

Pertama dikasih tau hasil dlm 1-7 hari. Jd setiap saat selama 4 hari, setiap ada pengumuman saya dan roommate selalu deg2an. Trs lama2 saya pikir, kl memang saya memang amit2 hasilnya positive ya udh akan saya jalani aja proses karantina lbh lanjut dimanapun yg pemerintah rujuk, krn saya ga mau jg amit2 jadi carrier tanpa gejala trs nularin keluarga.. Toch sblm dtg kan jg udh siap utk itu sbnrnya. Tp yg bikin gelisah knp hasilnya lama …Ga papa kl ga ada drama saya pakai diare dan maag akut segalalah, trs makanan suka telat dtgnya, makan pagi krn dikirim lewat imsak jadinya kemakan utk buka puasa, trs pas buka puasa makanan telat lg juga, jd akhirnya kita antisipasi simpan utk dimakan pas sahur besoknya….jadi kebalik2 waktunya😒 Plus drama air mati sama sekali seharian selama dua hari dan malam banget baru bisa nyala lg..Plus ini yg sedih banget, pupus sudah harapan bisa keluar utk doa sama2 keluarga di rumah di 7 hari kepergian mama 😒

But then, jadi kemudian mikir berapa besar biaya yg harus pemerintah tanggung untuk melakukan ini semua, usaha untuk memutus rantai pertularan spy tetap banyak warganya yg sehat  Brp banyak tenaga dan daya upaya yg diberikan oleh tenaga2 medis dg resiko tertular oleh para penghuni di seluruh complex Wisma Atlet ini? Berapa banyak tenaga dan rasa lelah para tentara2 yg harus selalu berjaga2 di garis terdepan mengatur supaya tidak terjadi kericuhan selain juga hrs melakukan kerjaan receh kyk nganter2 makanan atau jadi kyk mbak2 di mall yg ngasih tau kl mas2 Grab udh nunggu dibawah? Dan mereka semua itu jumlahnya puluhan dan shift2an  In total berapa ratus org yg telah mengorbankan dirinya sendiri dan meinggalkan keluarga masing2 hanya supaya kita para penghuni di seluruh Wisma Atlet dan RS disana bisa tetap sehat dan selamat keluar dari sana?:( Kalau mikir itu jadinya malu sendiri kl mau ngeluh 😒

Di saat seperti itu, saya berterima kasih sekali atas kata2 penghiburan dan penguatan dan penawaran bantuan dr teman2 dan keluarga besar baik lewat telp, message, atau pengiriman makanan dllnya. Saya hargai sekali jerih payah all of my dearest teman2 dan keluarga besar yg akhirnya melakukan operasi ‘pengeluaran’ dari sana sehingga akhirnya setelah 5 hari penuh usaha dan upaya perjuangan, saya bisa dijinkan keluar meninggalkan Wisma Atlet Kemayoran.

Tanpa bantuan kalian, I’m sure saya akan masih ada disana sekarang ..ga tau sampai brp lama. Semoga Allah SWT memberikan ganjaran yg berlipat2 atas bantuan kalian. Dan juga Tuhan selalu melindungi kalian semua, termasuk dokter2 yg telah membantu saya kemarin saat perut melintir banget. Saya hanya berharap teman2 ‘sependeritaan’ yg masuk bersama2 saya sejak minggu lalu dan bahkan yg sblm saya, dan yg sampai saat ini msh terdampar disana dan blm tau kpn bisa keluar, termasuk juga para tentara2 yg baik2 yg selalu berusaha menghibur dg menyanyi dan berjoged di depan saya, dan juga tenaga2 medis yg sangat helpful dan attentive, yg semuanya amazingly msh bisa ceria dan semangat considering the situation dan pressure yg mereka alami disana, semoga kalian semua selalu diberi kekuatan, kesabaran, kemudahan dan selalu dalam kondisi sehat2 selalu. Aamiin YRA 🙏

Bukan pekerjaan yg mudah untuk berada disana dlm waktu yg lama. I appreciate everything yg kalian lakukan untuk saya (dan penghuni lainnya). Terima kasih banyak semua. GBU all🙏

Mantan penghuni lantai 19 tower C2/ tower 9 Wisma Atlet Kemayoran

*Tulisan ini disajikan atas ijin pemiliknya , jika ada yang berkepentingan informasi lebih lanjut silahkan telusuri link pada kalimat ini. RED.

 


Share the knowledge

Leave a Reply

Specify Instagram App ID and Instagram App Secret in Super Socializer > Social Login section in admin panel for Instagram Login to work