Pengembangan Pesawat R80 Rancangan Habibie Tunggu... Autotekno - SINDOnews620 × 413Search by image ... Pengembangan Pesawat R80 Rancangan Habibie Tunggu Perpres

Pengembangan Pesawat R80 Rancangan Habibie Tunggu… Autotekno – SINDOnews620 × 413Search by image … Pengembangan Pesawat R80 Rancangan Habibie Tunggu Perpres

Kegagalan proyek pesawat N250 akibat hantaman krisis ekonomi 1998, bikin negeri ini gigit jari. Seorang pejabat di PT DI pada 2013 mengatakan, jika saja N250 sukses, maka tak akan ada 1500-an pesawat ATR buatan Prancis yang mengudara. Namun otak perancang N250, BJ Habibie, tak berhenti berpikir. Meskipun memerlukan 22 tahun, akhirnya Presiden ke-3 Indonesia ini mantap memperkenalkan produk “reinkarnasi” N250 yang tentunya jauh lebih canggih, yakni RegioProp 80 atau disingkat R80.

Entah disengaja atau tidak, model R80 diperkenalkan pertamakali kepada publik pada pameran teknologi di JIExpo Kemayoran, Jakarta, 7-13 Agustus 2017. Seperti diketahui, N250 terbang perdana pada 10 Agustus 1995.

Perusahaan yang menggawangi kelahiran R80 adalah PT Regio Aviasi Industri (RAI) yang merupakan perusahaan bentukan BJ Habibie bersama dengan putranya, Ilham Habibie.

Perusahaan ini mengaku siap memproduksi pesawat tersebut secara komersial pada 2024. Menurut Presiden Direktur PT RAI, Agung Nugroho, Kamis (28/9/2017) saat ini pihaknya mulai mempersiapkan pembuatan pesawat sesungguhnya (prototype/purwarupa) untuk pengujian secara langsung. Untuk uji coba ini, PT RAI merencanakan membuat empat pesawat.

Jika tahap ini berhasil, akan dilanjut ke tahap sertifikasi dari Kementerian Perhubungan. Setelah itu, barulah bisa diproduksi masal pada 2024 untuk mulai ditawarkan ke pasar pada tahun berikutnya.

Postcomended   Dengan Rp 100 Ribu Wajah Kita Bisa Nampang di Pesawat Rancangan Habibie

Untuk tahap awal ini kata Agung, PT RAI akan memanfaatkan fasilitas PT Dirgantara Indonesia (PTDI). PT RAI sendiri sedang berupaya membangun pabrik sendiri yang rencananya bertempat di bandara Kertajati, Jawa Barat.

Sejumlah maskapai penerbangan sudah melakukan inden. Mereka adalah Kalstar, Nam Air, Trigana Air, dan Aviastar. Total pesawat yang dipesan 155 unit.

Seperti diketahui, saat ini PT RAI tengah menggalang dana, termasuk dari masyarakat Indonesia, untuk pembuatan purwarupa (prototype) R80 yang diperkirakan mencapai Rp 200 miliar. Sedangkan total biaya pembangunan infrastruktur pabriknya mencapai 1,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 20 triliun.

Sesuai namanya, R80, pesawat ini mampu mengangkut penumpang 80-90 orang. Sedangkan huruf “R” merupakan kependekan dari Regional yang artinya bahwa pesawat ini dirancang untuk penerbangan skala regional berjarak pendek hingga menengah.

R80 dibangun dengan dimensi panjang 32,3 meter, lebar sayap 30,5 meter, dan tinggi 8,5 meter. Dirancang mampu melesat hingga 330 knots atau sekitar 611 km/jam. Dalam sekali terbang, pesawat ini mampu menjangkau 1.480 kilometer.

Seiring zaman, maka R80 juga dilengkapi teknologi fly by wire, suatu sistem kendali yang bersifat komputerisasi. Ada tiga alternatif untuk mesin, yakni buatan Rolls Royce Inggris, Pratt and Whitney Amerika Serikat (AS), atau General Electric AS.

Postcomended   Istri Temukan Suaminya Selingkuh, Qatar Airways Terpaksa Mendarat Darurat

Pesawat R80 ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan pesawat lain, antara lain ukurannya lebih besar dan hemat bahan bakar. Dibanding pesawat selihting seperti ATR buatan Prancis, bahan bakarnya lebih hemat 10-15 persen.

Dengan keunggulan tersebut, Ilham Habibie pernah memperkirakan, R80 mungkin akan dibanderol di harga 22-25 juta dolar AS per unit.

Penghematan bahan bakar ini menurut sang ayah, BJ Habibie, karena bypass ratio R80 dibuat 40. “Makin tinggi bypass, makin irit. Airbus dan Boeing, bypass ratio-nya 12,” ujar Habibie.

Pengiritan bahan bakar ini antara lain karena R80 menggunakan sistem baling-baling bukan jet. Dikatakan Ilham dalam satu wawancara dengan Detikcom, penggunaan bahan bakar pesawat yakni avtur, adalah yang paling membuat maskapai penerbangan yang menggunakan pesawat jet, pusing tujuh keliling.

Pasalnya untuk avtur mesin jet saja bisa menyedot ongkos operasional hingga 50 persen. “Jika maskapai menggunakan pesawat jet untuk jarak pendek, waduh itu luar biasa borosnya,” ujar Ilham.

Pembangunan R80 juga sejalan dengan beberapa negara yang saat ini menerapkan aturan irit bahan bakar terkait isu pemanasan global. Jika dibandingkan dengan ATR, Ilham mengatakan, ATR yang sama-sama menggunakan baling-baling adalah acuannya.

Postcomended   Diberi Nama Nurtanio, N219 Akan Dijual di Kisaran 6 Miliar

Namun kata Ilham, R80 akan berada di atas ATR, mulai dari kapasitas penumpang hingga kecepatan. ATR kata Ilham sampai saat ini belum bisa memproduksi pesawat yang kapasitasnya lebih dari 70 kursi.

Mesin R80 juga lebih cepat dari ATR namun lebih irit bahan bakar. Tentu kata Ilham tidak secepat jet, karena kalo sama dengaj jet artinya sama-sama boros bahan bakar.

Namun Ilham menyebutkan bahwa R80 sangat berbeda dengan N250. Selain dari ukuran juga sudah pasti teknologinya. Sedikit persamaan adalah pada sayap yang berada di atas badan pesawat dan juga sistem baling-baling.(***/Antara/Kompas/Detik)