sumber: www.pwc.com

Ekonomi dunia diprediksi akan mulai mencapai ekulibrium baru. Ketika negara-negara maju mulai jenuh, negara-negara yang selama ini disebut negara berkembang atau pun negara dunia ketiga, akan mulai mengambil alih pertumbuhan. Hitung-hitungan ini dihelat PricewaterhouseCoopers (PwC), satu lembaga auditor kelas dunia. Tapi, apa artinya peringkat ini untuk rakyat Indonesia?

PwC dalam situs resmi Indonesia-nya menyebutkan, negara-negara berkembang akan mulai mendominasi peringkat utama ekonomi dunia pada 2030, dengan Indonesia berada di peringkat ke-5.

Posisi ini berada di atas Rusia, Jerman, Inggris, Prancis, Italia, serta Kanada, dan jauh berada di atas jirannya yakni Malaysia dan Thailand. Sementara di atasnya berturut-turut ada Jepang, India, Amerika Serikat (AS), dan Cina.

Posisi ini naik tiga langkah dibanding pada 2016. Sedangkan prediksi PwC untuk 2050, Indonesia bahkan menggeser Jepang menjadi di posisi ke-4. Negara berkembang lainnya yang menyodok di 10 besar adalah Brasil dan Meksiko.

Postcomended   Setop Menyebar Foto Jenazah!

Pemeringkatan ini dihitung berdasarkan Gross Domestik Product (GDP/PDB) terhadap Purchasing Power Parity (PPP). PPP adalah gambaran daya beli masyarakat terhadap nilai mata uang tertentu.

Berdasarkan ukuran itu, PwC antara lain menyimpulkan bahwa perekonomian dunia akan berlipat ganda pada 2042. Pada 2050, sepuluh besar negara ekonomi terbesar di dunia akan didominasi negara berkembang.

John Hawksworth, Kepala Ekonom PwC, menjelaskan, Indonesia akan berada di peringkat 5 di tahun 2030 dengan estimasi nilai GDP 5.424 miliar dolar AS, dan naik menjadi di peringkat 4 di tahun 2050 dengan estimasi nilai GDP 10.502 miliar dolar AS.

Posisi tersebut akan menjadikan Indonesia sebagai big emerging market mengingat posisi Indonesia merupakan negara dengan perekonomian terkuat di Asia Tenggara.

Postcomended   Perempuan Berpakaian Minim Hebohkan Arab Saudi

Dalam memproyeksikan nilai GDP ini, PwC juga memperhitungkan variabel demografi, tingkat pendidikan, dan modal investasi yang akan masuk ke negara-negara tersebut, sehingga muncullah nilai proyeksi GDP tersebut.

Seperti diketahui, pada 2030 Indonesia banyak disebut pakar akan mendapatkan bonus demografi, dimana penduduk produktif akan menjadi mayoritas.

Sementara itu seperti dikutip dari Republika, saat ini negara-negara maju mulai jenuh. Mereka mulai sulit mendapatkan ruang untuk tumbuh di negerinya sendiri dan karenanya mulai melirik Asia.

Awalnya, seperti halnya Amerika Serikat, berhasil mengatasi pertumbuhan yang jenuh di negerinya dengan melebarkan sayap ke Cina. Namun Cina kini juga tak seperti dulu lagi.

Investor internasional menyadari mereka tak mungkin bisa mengeruk keuntungan besar di pasar yang sudah matang. Alternatifnya adalah Asia Tenggara, kawasan yang masih dikategorikan emerging market.

Postcomended   Fair Use dalam Polemik Ngawur

Khusus Indonesia, selain akan memasuki era bonus demografi, juga sejumlah lembaga pemeringkat sudah menyatakan negeri ini layak investasi.***