Lifestyle

Rasa Pahit Adalah Sinyal Bahaya, Tapi Kenapa Manusia Suka Kopi?

https://globalhealthclinics.co.nz/is-coffee-unhealthy-or-not/

https://globalhealthclinics.co.nz/is-coffee-unhealthy-or-not/

Kemampuan kita mendeteksi rasa pahit berevolusi sebagai sistem peringatan alami untuk melindungi tubuh dari zat-zat berbahaya. Jadi mengapa kopi –minuman yang rasanya pahit– begitu populer di seluruh dunia? Dalam konteks evolusi, ini tidak masuk akal: kita harus meludahkannya.

Sebuah makalah yang diterbitkan di jurnal Scientific Reports menjelaskan bahwa orang-orang yang merasakan rasa pahit kopi lebih kuat meminum lebih banyak minuman. Untuk penelitian ini, tim ilmuwan internasional menyelidiki bagaimana orang-orang merasakan tiga zat pahit (kafein, kina, dan propylthiouracil atau PROP), sesuatu yang ditentukan oleh keberadaan gen tertentu, menurut penelitian sebelumnya.

Quinine atau kina adalah obat yang digunakan sendiri atau bersama obat lain untuk mengobati malaria. Sedangkan Propylthiouracil adalah obat yang digunakan untuk mengobati tiroid yang overaktif (hipertiroidisme).

Dilansir laman Newsweek, tim meneliti hubungan antara rasa pahit dan konsumsi minuman di lebih dari 400 ribu pria dan wanita yang menggunakan data genetik dari Biobank Inggris. Gen-gen yang terkait dengan persepsi kafein, kina, dan PROP diuji untuk asosiasi dengan berapa banyak kopi, teh dan alkohol yang dikonsumsi peserta.

Postcomended   Universitas Inggris dan AS Dominasi Peringkat Teratas, Cina Depak Singapura di Asia

“Anda akan berharap bahwa orang-orang yang sangat sensitif terhadap rasa pahit kafein akan minum lebih sedikit kopi,” Marilyn Cornelis, seorang penulis studi dari Fakultas Kedokteran Universitas Northwestern Feinberg, mengatakan dalam sebuah pernyataan. “Hasil berlawanan dari penelitian kami menunjukkan konsumen kopi memperoleh rasa atau kemampuan untuk mendeteksi kafein karena penguatan positif yang dipelajari (yaitu stimulasi) yang ditimbulkan oleh kafein.”

Pada dasarnya, kata Cornelis, orang yang memiliki kemampuan tinggi untuk merasakan kegetiran kopi belajar untuk mengasosiasikannya dengan “hal-hal yang baik”. Temuan menunjukkan bahwa mereka yang lebih sensitif terhadap kepahitan kafein –ditentukan oleh keberadaan gen tertentu– minum lebih banyak kopi, tetapi lebih sedikit teh (mungkin karena mereka terlalu sibuk minum kopi).

Postcomended   Neanderthal dan Denisovan Kawin Silang, DNA Mereka Ada pada Manusia Sekarang

Untuk dua zat lainnya, efeknya berlawanan: mereka yang lebih sensitif terhadap kina dan PROP (rasa sintetis yang berhubungan dengan senyawa dalam sayuran seperti kembang kol dan kubis) minum lebih sedikit kopi tetapi lebih banyak teh. Selain itu, mereka yang lebih sensitif terhadap PROP minum lebih sedikit alkohol, sedangkan persepsi yang lebih tinggi dari dua senyawa lainnya tidak memiliki pengaruh yang jelas.

Temuan menunjukkan bahwa variasi dalam persepsi rasa pahit yang dihasilkan dari perbedaan genetik dapat membantu menjelaskan mengapa beberapa orang memiliki preferensi untuk kopi, teh atau alkohol.
“Rasa telah dipelajari untuk waktu yang lama, tetapi kita tidak tahu mekanika lengkapnya,” kata Cornelis. “Kami ingin memahaminya dari sudut pandang biologis.”***

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top