IN PICTURES: Mohammed bin Salman meets Macron at Élysée Palace - Al ... Al Arabiya IN PICTURES: Mohammed bin Salman meets Macron at Élysée Palace

IN PICTURES: Mohammed bin Salman meets Macron at Élysée Palace – Al … Al Arabiya IN PICTURES: Mohammed bin Salman meets Macron at Élysée Palace

Wajah asli Arab Saudi tak bisa disembunyikan. Sementara rakyat Saudi terlalu berharap banyak pada kepemimpinan reformatif Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman. Hasilnya, pemerintah monarki absolut ini gerah ketika para aktivis Saudi menyerukan terus-menerus kesetaraan bagi perempuan. Delapan aktivis ditangkap dengan tuduhan merusak keamanan nasional dan dicap “pengkhianat” oleh koran-koran pro-pemerintah.

Tindakan keras itu telah menarget para pembela hak-hak perempuan terkemuka Arab Saudi, termasuk aktivis yang memimpin protes pertama terhadap larangan mengemudi beberapa dekade lalu.

Penangkapan ini mengejutkan, karena dilakukan hanya enam minggu sebelum rencana larangan mengemudi bagi perempuan akan dicabut. Gambar para aktivis yang ditangkap itu diedarkan di media-media pro-pemerintah. Kelompok-kelompok hak asasi manusia menyebut ini sebagai kampanye kotor untuk membungkam panggilan bagi hak-hak perempuan.

Para aktivis terus-menerus menyerukan untuk mengakhiri larangan mengemudi dan menekankan ini hanyalah langkah pertama menuju kesetaraan. Sebagian dari tuntutan mereka termasuk membuang sistem mahram (perwalian).

Hukum perwalian Saudi mengharuskan perempuan untuk meminta persetujuan dari wali laki-laki untuk bepergian, menikah atau mendapatkan paspor.

Seorang wanita Saudi berusia 33 tahun yang tak bersedia disebut identitasnya, yang terlibat dalam kampanye melawan hukum perwalian mengatakan tentang sesama aktivis perempuan Saudi, bahwa tidak ada agenda tersembunyi mereka terhadap pemerintah. “Kami tidak meminta hak politik; kami meminta hak asasi manusia.”

Postcomended   Buku 40 Tahun Alumni Swara Maharddhika

Dalam sebuah wawancara dengan “60 Menit” di CBS, belum lama ini, Putera Mahkota Saudi mengatakan dia percaya bahwa wanita dan pria adalah sama. “Kita semua manusia, dan tidak ada perbedaan,” katanya.

Penahanan para pendukung hak-hak perempuan ini seperti melanjutkan sebuah pola dalam setahun terakhir ini, ketika pihak berwenang mengunci puluhan pembangkang dan musuh-musuh, termasuk aktivis hak asasi, ulama, pengusaha, dan para pangerannya sendiri.

Namun berbeda dengan penangkapan sebelumnya, penangkapan aktivis hak perempuan ini disertai publikasi identitasnya di media pada Jumat (18/5/2018). Satu harian Saudi diketahui memuat foto-foto Loujain al-Hathloul dan Aziza al-Yousef, dua aktivis, di halaman depannya.

“Saya mulai melihat pernyataan bahwa mereka pengkhianat dan pantas dihukum,” kata Hala al-Dosari, pengacara hak asasi manusia (HAM) Saudi yang sudah lama dekat dengan banyak para aktivis yang ditahan, seraya mengatakan dia sangat khawatir.

Ini bukan pertama kalinya para aktivis ditangkap atau menjadi sasaran kampanye fitnah, katanya. Tetapi sebagian besar dari mereka yang ditahan selama beberapa hari terakhir telah diperingatkan berulang kali oleh pihak berwenang bahwa mereka seharusnya tidak berbicara tentang larangan mengemudi atau terlibat dalam kegiatan publik lainnya, kata Dosari.

Postcomended   Di India, Mobil Toyota Bakal Jadi Suzuki dan Sebaliknya

Selain Hathloul dan Yousef, para tahanan itu termasuk Madeha al-Ajroush dan Aisha al-Mana, yang mengambil bagian dalam protes pertama terhadap larangan mengemudi pada 1990, dan Eman al-Nafjan, seorang profesor universitas dan blogger.

Kristin Smith Diwan, seorang cendekiawan di Institut Negara Teluk Arab di Washington, mengatakan, ada kemungkinan pimpinan Saudi mencoba mempertahankan posisi “sentris” dalam diskusi nasional setelah periode perubahan yang cepat ini.

Atau, imbuh Diwan, penangkapan mungkin dimaksudkan untuk mengisolasi kepemimpinan dari kritik kalangan ultrakonservatif religius yang marah pada keputusan untuk mengizinkan perempuan mengemudi; untuk menunjukkan bahwa pemerintah tidak akan memberi peluang feminis liar memimpin.

Skeptis? Tangkap!
Ketika kerajaan mengeluarkan keputusan kerajaan tahun lalu yang mengumumkan bahwa perempuan akan diizinkan mengemudi tahun 2018, aktivis hak-hak perempuan dihubungi oleh istana kerajaan dan memperingatkan agar tidak memberikan wawancara kepada media atau berbicara di media sosial.

Mengikuti peringatan tersebut, beberapa wanita meninggalkan negara itu untuk jangka waktu tertentu dan yang lainnya berhenti menyuarakan pendapat mereka di Twitter.

Ketika para aktivis ditekan untuk diam, Putra Mahkota Mohammad bin Salman, memosisikan diri sebagai kekuatan di balik reformasi kerajaan. Alih-alih senang, kampanye reformasi sang putra mahkota, menurut Human Rights Watch (HRW), tetap menjadi kegelisahan dan ketakutan para reformis Saudi asli yang berani melakukan advokasi publik untuk HAM atau pemberdayaan perempuan”.

Postcomended   Pulau Macan, Destinasi Tepat Bagi Wisatawan Asian Games 2018

“Pesannya jelas bahwa siapa pun yang mengekspresikan skeptisisme tentang agenda putra mahkota, akan menghadapi waktunya untuk di penjara,” kata Sarah Leah Whitson, direktur Timur Tengah HRW.

Tahun lalu, Mohammed bin Salman (32) mengawasi penangkapan puluhan penulis, intelektual dan ulama reformis yang mengritik kebijakannya. Dia juga meluncurkan penyelidikan anti korupsi November yang secara luas dipandang sebagai sarana mengonsolidasi kekuasaan.(***/reuters/alaraby.co.uk)

Share the knowledge