https://www.thesun.co.uk/wp-content/uploads/2017/09/nintchdbpict000350301355.jpg?strip=all&w=720

Apa jadinya jika manusia menelan lima kantung pil ekstasi? Perut meledak, lalu mati dalam genangan darah. Inilah yang terjadi pada remaja 18 tahun, Rebecca Brock. Peristiwa ini terjadi pada September 2015, di Pulau Ibiza, Spanyol. Akan tetapi polisi baru mengetahui fakta ada ekstasi di perut Rebecca setelah dirilisnya sebuah laporan toksikologi yang menemukan dua dosis mematikan obat MDMA Kelas A –nama kimia untuk ekstasi– dalam aliran darahnya.

Seperti dilansir Independent, mahasiswa hukum ini tewas di kamar hotelnya seusai merayakan ulang tahun temannya di “pulau pesta” tersebut. Ibunya, Margarita Brock, yakin anaknya dipaksa menelan pil tersebut.

Pasalnya kata sang ibu, kepada Pengadilan Coroner Nottingham, Inggris, anaknya itu pernah mencoba kokain bersama orang-orang yang dikenalnya, lalu mengatakan kepada adiknya bahwa dia tidak menyukai kokain, sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Postcomended   Demi "Dunkirk" Harry Styles Hapus Tato dan Potong Rambut

Ahli racun, Stephem Morley, mengatakan, “toksisitas” adalah penyebab kematian yang paling mungkin terjadi pada Rebecca. Namun petugas koroner Nottinghamshire, Mairin Casey, mengatakan, ada teka-teki kematiannya yang belum terjawab, yakni bagaimana paket ekstasi tersebut bisa berada di perutnya.

Sebab kata Casey, pihaknya tidak menemukan ada zat lain di tubuhnya yang bisa menyebabkan kematiannya. Casey menduga, Rebecca kemungkinan besar meninggal dalam waktu singkat setelah menelan obat-obatan terlarang itu.

Di dunia penyelundupan narkoba, menelan paket narkoba dalam jumlah mematikan adalah modus lama para pedagang narkoba. Modus ini sulit dideteksi secara fisik.

Postcomended   30 Butir Dumolid Disita dari Penangkapan Tora dan Istri: Dumolid Sering Disalahgunakan

Kepala Humas BNN, Slamet Pribadi, mengatakan kepada CNN Indonesia saat terjadi kasus Okeke Austin Chukuwuma (25) warga negara Nigeria yang menyayat perutnya sendiri untuk mengeluarkan puluhan paket sabu, pada Juni 2015, obat pencahar menjadi jalan bagi para penyelundup untuk mengeluarkan paket narkoba yang ditelan.

Mereka mengambil risiko mati demi menyelundupkan paket narkoba. “Kalau pecah itu orang langsung mati. Bandar melakukan beragam cara dan modus ini masih sering dipakai juga,” ujar Slamet.***