Loading...
Internasional

Mengaku Murtad, Remaja Saudi Mencari Suaka hingga Bangkok karena Takut Dibunuh Ayahnya

Share the knowledge

 

https://www.independent.co.uk/news/world/middle-east/rahaf-al-qunun-petition-asylum-uk-saudi-arabia-family-un-bangkok-australia-latest-a8717156.html

Rahaf al Qunun, tengah, didampingi pihak berwenang Thailand dan UNHCR (gambar dari: independent.co.uk)

Dia perempuan Arab Saudi, namun penampilannya tak seperti wanita Saudi umumnya. Dia lebih  seperti laiknya perempuan Barat. Penampilannya ini berbanding sejajar dengan pengakuannya bahwa dia telah keluar dari Islam, diburu sang ayah, dan sedang memburu suaka.

Memakai jins ngepas, kaos oblong, dan tanpa penutup kepala, adalah penampilan Rahaf al Qunun –nama perempuan Arab Saudi tersebut– saat dia berada di Bangkok dalam pelariannya untuk mendapatkan suaka. Ketika berada di negerinya sendiri, remaja 18 tahun ini tentu terbungkus rapat.

Kini, dia takut dibunuh ayahnya karena telah murtad, padahal sang ayah dan saudara laki-lakinya menurut Kepala Imigrasi Thailand, Surachate Hakpan, Selasa (8/1/2019), telah berada di Bangkok, Thailand, dan ingin ingin bertemu putrinya. Tetapi Surachate mengatakan, ayah dan saudara laki-lakinya itu harus menunggu dan melihat apakah badan pengungsi PBB (UNHCR) akan mengizinkan mereka untuk melihatnya.

“Ayah dan saudara lelakinya ingin berbicara dengan Rahaf tetapi PBB perlu menyetujui pembicaraan tersebut,” kata Surachate kepada wartawan. UNHCR Selasa mengatakan pihaknya sedang menyelidiki kasus Rahaf setelah dia melarikan diri ke Thailand dengan mengatakan dia khawatir keluarganya akan membunuhnya jika dia dikirim kembali ke Arab Saudi.

Para aktivis semula khawatir pihak berwenang Thailand akan mengekstradisinya, namun kemudian negara ini mengizinkan Rahaf memasuki Thailand di bawah asuhan UNHCR. Phil Robertson, wakil direktur Human Rights Watch untuk Asia, mengatakan kepada Reuters, bahwa ayahnya telah berada di Thailand, namun dia belum mengetahui apa yang akan dilakukan ayahnya.

Postcomended   Adik Bintang "One Direction" Meninggal Dunia, Polisi: Kematiannya Tak Bisa Dijelaskan

Rahaf tinggal di sebuah hotel di Bangkok sementara UNHCR memproses permohonannya untuk status pengungsi, sebelum dia dapat mencari suaka di negara ketiga. Perwakilan UNHCR Thailand, Giuseppe de Vincentiis, dalam sebuah pernyataan mengatakan, pihaknya sangat berterima kasih bahwa pihak berwenang Thailand tidak mengirim kembali Rahaf ke negaranya.

Kasus ini telah menarik perhatian global terkait aturan sosial Arab Saudi yang ketat, termasuk persyaratan bahwa perempuan memiliki izin “wali” laki-laki untuk bepergian, yang menurut kelompok hak asasi dapat menjebak perempuan dan anak perempuan sebagai tahanan keluarga yang kejam.

Kehebohan baru ini terjadi pada saat Riyadh menghadapi pengawasan ketat yang luar biasa dari sekutu Baratnya atas pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi serta konsekuensi kemanusiaan dari perang Saudi di Yaman.

Rahaf diizinkan memasuki Thailand pada Senin (8/1/2019) malam setelah menghabiskan 48 jam di bandara Bangkok. Anggota parlemen dan aktivis di Australia dan Inggris mendesak pemerintah mereka untuk memberikan suaka kepada Rahaf.

Pemerintah Australia mengatakan telah meminta Thailand dan UNHCR untuk memproses klaim Rahaf dengan cepat, dan akan mempertimbangkan permohonannya untuk visa kemanusiaan begitu UNHCR membuat keputusan.

Postcomended   Gank Motor Selandia Baru Paling Menakutkan, Turut Jaga Pelaksanaan Ibadah Salah Jumat

Kedutaan Arab Saudi di Thailand membantah laporan bahwa Riyadh telah meminta ekstradisi. “Kerajaan Arab Saudi belum meminta ekstradisinya. Kedutaan menganggap masalah ini sebagai masalah keluarga,” kata kedutaan itu dalam sebuah posting di Twitter.

Kepala imigrasi Thailand mengatakan Senin bahwa kedutaan telah memberitahu pihak berwenang Thailand untuk kasus ini, dan mengatakan bahwa wanita itu telah melarikan diri dari orang tuanya dan mereka khawatir akan keselamatannya.

Seorang wanita di Inggris telah meluncurkan petisi online yang menyerukan kepada Menteri Luar Negeri Inggris,  Jeremy Hunt, untuk memberikan suaka kepada Qunun dan mengeluarkan sebuah dokumen perjalanan darurat untuknya. Dalam beberapa jam setelah meluncurkan petisi, mereka telah mendapatkan ribuan tanda tangan.

Mengapa Rahaf Takut Dibunuh Ayahnya?

Diakui atau tidak, aturan membunuh mereka yang keluar dari agama Islam alias murtad, ada dalam teks al-Quran dan hadits (Riwayat Bukhari), dan dianut oleh fikih klasik baik yang berlaku di tradisi Sunni atau Syiah.

Dikutip dari Republika, berdasarkan teks-teks yang ada di al-Quran dan hadist tersebut, sejumlah negara-negara Islam memberlakukan sanksi mati bagi murtad seperti Sudan, Yaman, Mauritania, Qatar, dan Iran. Sementara itu di Arab Saudi, meski tidak ada undang-undang tertulisnya, namun praktik di lapangan mengiyakan eksekusi murtad.

Postcomended   AS dan Israel Kompak Memutuskan Cabut dari UNESCO

Namun, sebagian ahli fikih pada masa kini mencoba mengkaji ulang sanksi atas murtad. Belum lama ini Majelis Tinggi Agama Maroko misalnya, mencabut fatwa sanksi mati untuk murtad. Lembaga yang dipimpin Raja Muhammad VI ini mendasarkannya pada teks Alquran yang menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan. “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).” (QS al-Baqarah [2]: 256)

Senada dengan Majelis ini, Dar al-Ifta Mesir berpendapat sanksi mati tak sejalan dengan keluhuran Islam. Rasulullah misalnya, kata Lembaga ini, tidak mengeksekusi Abdullah bin Ubay yang terang-terangan menyatakan pembangkangan. ***

Loading...


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Loading...
To Top