Ekonomi

Rupiah Loyo, Asing Menjual Apapun yang Berkaitan dengan Indonesia

Getty Images

foto: Getty Images via Business Insider

Negara mana saja yang paing menderita ketika Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed), mulai menggulirkan kembali program pembelian obligasi pada 2013? Indonesia berada di dalamnya, di antara Brasil, India, Turki dan Afrika Selatan. Kelimanya masuk ke dalam “kelompok” Fragile Five. Apa yang membuat mereka sama? Lima tahun sejak 2013 itu, Indonesia dinilai rapuh lagi.

Negara-negara Fragile Five, seperti dilansir laman CNBC, ditandai oleh depresiasi mata uang yang besar, defisit neraca berjalan yang tinggi, dan ketidakstabilan politik dalam negeri. Mereka rentan pada kemerosotan harga komoditas dan kekhawatiran perlambatan Cina.

Mereka sebenarnya mulai pulih, terutama yang terlihat adalah India dan Indonesia. Perubahan dalam pemerintahan telah menyebabkan reformasi politik dan ekonomi. Investor mulai mengerumuni ruang ini dan arus masuk ke dana dengan eksposur ke pasar-pasar ini meningkat.

Namun krisis tampaknya telah memasuki fase baru: dollar menguat tak terkendali, ketegangan yang meningkat sejak Presiden Donald Trump berkuasa, kekhawatiran atas perang dagang penuh dengan Cina, atau meningkatnya suku bunga di AS. Kerusakannya jauh lebih luas.

CNBC menilai, krisis telah melanda negara-negara di seluruh dunia, mulai ekonomi di Amerika Selatan, hingga Turki, Afrika Selatan, dan beberapa ekonomi yang lebih besar di Asia, seperti India dan Cina.

Sejumlah negara-negara ini telah melihat mata uang mereka jatuh ke tingkat rekor, inflasi tinggi dan pengangguran, dan dalam beberapa kasus, meningkatkan ketegangan dengan Amerika Serikat.

Postcomended   Tercorengnya Nobel Perdamaian Si Anggrek Baja #StopKillingRohingyaMuslims

Pekan lalu, Argentina mulai mendekati Dana Moneter Internasional (IMF) untuk pinjaman darurat sebagai kejutan bagi pasar. Negara itu melihat mata uangnya jatuh lebih dari 50 persen terhadap dolar dan suku bunganya naik sebesar 60 persen.

Sementara itu, aksi jual di belakang percekcokan yang sedang berlangsung antara AS dan Turki atas rilis pendeta Amerika Andrew Brunson yang ditahan Turki, tidak hanya melihat lira Turki kehilangan 40 persen dari nilainya tahun ini, tetapi juga telah menyebar ke aset global lainnya. .

Pasar negara berkembang juga sangat terganggu oleh utang dan dolar yang lebih kuat yang membuat lebih sulit bagi mereka untuk membayar utang. Data terbaru dari Institute of International Finance menunjukkan bahwa utang di pasar negara berkembang termasuk Cina meningkat dari 9  miliar dolar AS pada 2002 menjadi 21 miliar dollar AS pada 2007 dan akhirnya menjadi 63 miliar dollar AS pada 2017.

Rapuh Lagi

Bloomberg menilai kriris di Indonesia mulai makin terasa sejak Mei 2018. Lima tahun setelah tamper tantrum 2013, Indonesia tampak rapuh lagi. Tahun ini, sebut Bloomberg, orang asing telah menjual apa pun yang berkaitan dengan negara Asia Tenggara ini.

Postcomended   Bakal Ada Gayus-Gayus Lainnya Lagi yang Tertangkap (2)

Indeks Komposit Jakarta turun 7,4 persen, membuat Indonesia, bersama dengan Filipina, menjadi salah satu pasar berkembang berkinerja terburuk di kawasan ini. Rupiah telah jatuh 3,6 terhadap dolar, sementara obligasi mata uang AS tidak jauh lebih baik daripada catatan Turki atau Argentina yang bermasalah.

Nilai investasi negara ini sekarang dinilai, dan kondisi eksternal telah membaik. Defisit neraca berjalannya saat ini menyempit menjadi 2 persen dari PDB dari 3,6 persen pada 2013, sementara cadangan devisa sekarang dapat mencakup 7,4 bulan impor dibandingkan sedikitnya lima tahun sebelumnya.

Namun ketika The Fed menaikkan suku bunga, Indonesia masih goyah, yang disebut sebagai kesalahan orang Indonesia sendiri bahwa negara sangat bergantung pada dana asing.

Pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu (31/8/2018), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah ke level terendah dalam tiga tahun terakhir. Bahkan rupiah menyentuh level terendah sejak krisis keuangan Asia pada 1998.

Berdasarkan data Reuters, rupiah menyentuh level 14.730 per dolar AS atau turun 0,3 persen dari level terendah sejak September 2015. Selain itu, rupiah juga sentuh posisi terendah 14.839 per dolar AS pada Jumat itu.

Postcomended   Ancaman Mengerikan Rubella Membuat MUI Berubah Pikiran

Mata uang negara berkembang termasuk rupiah, tertekan dalam beberapa hari terakhir termasuk lira Turki dan peso Argentina. Penguatan mata uang AS telah meningkatkan kekhawatiran atas kemampuan negara berkembang untuk melunasi utang dalam dolar AS. Hal ini mendorong Bank Indonesia (BI) untuk meningkatkan upaya intervensi di pasar obligasi dan valuta asing.***

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top