© istock (via https://test.psychologies.com/tests-moi/tests-relationnels/Quel-est-votre-rapport-a-l-altruisme)

© istock (via https://test.psychologies.com/tests-moi/tests-relationnels/Quel-est-votre-rapport-a-l-altruisme)

Tindakan tanpa pamrih dari sikap dermawan mengaktifkan wilayah penghargaan pada otak, membuat cahaya hangat kebaikan menjadi hal yang sangat nyata, menurut para peneliti Inggris.
Dengan menganalisis pemindaian otak lebih dari 1.000 orang yang membuat keputusan yang baik, para psikolog di Universitas Sussex telah menegaskan bahwa bahkan ketika tidak ada imbalan apa pun, bersikap baik akan membuat Anda merasa baik.

Penelitian yang diterbitkan dalam NeuroImage tersebut menganalisis hasil pemindaian otak dari penelitian yang sudah ada, tetapi untuk pertama kalinya membedakan antara altruisme (kebaikan) sejati, dan kebaikan strategi yakni; perbuatan baik yang mengharapkan imbalan.

“Studi besar ini memicu pertanyaan tentang orang-orang yang memiliki motivasi berbeda saat melakukan kebaikan kepada orang lain: kepentingan pribadi yang nyata versus cahaya hangat altruisme,” kata Dr Daniel Campbell-Meiklejohn, pimpinan penelitian dan Direktur Social Decision Laboratorium di Universitas Sussex, dalam sebuah pernyataan.

“Kita tahu bahwa orang dapat memilih untuk bersikap baik karena mereka suka merasa seperti  ‘orang baik’, tetapi orang juga dapat memilih untuk bersikap baik ketika mereka berpikir mungkin ada sesuatu ‘di dalamnya’ seperti imbalan, atau pun demi meningkatkan reputasi,” kata Campbell-Meiklejohn.

Apa yang memotivasi kita untuk bersikap baik, kata Campbell-Meiklejohn, adalah hal yang menarik dan penting. Jika, misalnya, suatu pemerintahan dapat memahami mengapa orang mungkin memberi padahal tidak ada imbalan apa pun, maka mereka dapat memahami cara mendorong orang untuk menjadi sukarelawan, menyumbang untuk amal, atau mendukung orang lain di komunitas mereka.

Campbell-Meiklejohn dan timnya menemukan bahwa bersikap baik memberi kita sesuatu yang membuat kita lebih bahagia, dengan area penghargaan dari otak menggunakan lebih banyak oksigen ketika orang-orang bertindak bukan atas dasar kebaikan strategi.

Tetapi area-area ini juga menyala untuk tindakan altruisme, dan area tertentu di korteks cingulate anterior subgenual lebih aktif untuk altruisme daripada untuk kebaikan strategi. Jadi ada sesuatu yang memuaskan secara unik dengan menjadi altruistik.

Penelitian juga menunjukkan bahwa menghargai orang untuk perilaku yang mereka antisipasi sebagai altruistik, mungkin sebenarnya merugikan. “Mengingat bahwa kita tahu ada dua motivasi yang tumpang tindih di otak, badan-badan amal harus berhati-hati untuk tidak menawarkan sesuatu imbalan, karena ini dapat merusak rasa altruisme,” kata Jo Cutler, salah satu penulis studi tersebut.

“Mengirim hadiah kecil sebagai imbalan atas sumbangan bulanan seseorang dapat mengubah persepsi si donor tentang motivasi mereka dari asalanya bersifat altruistic menjadi transaksional. Dengan demikian, kegiatan amal juga dapat secara tidak sengaja menggantikan perasaan cahaya hangat itu dengan perasaan memiliki kesepakatan yang buruk,” imbuh Cutler.

Masalah yang sama, kata Cutler, juga bisa berlaku ketika kita berpikir tentang interaksi antara keluarga, teman, kolega, atau orang asing dengan basis satu lawan satu. Sebagai contoh, jika setelah seharian bekerja membantu seorang teman pindah rumah, mereka memberi Anda lima dolar, Anda akhirnya bisa merasa kurang dihargai dan kurang mungkin untuk membantu lagi.

“Namun, pelukan dan kata-kata yang baik bisa memicu cahaya hangat dan membuat Anda merasa dihargai,” ujar Cutler.***

 

Share the knowledge