27 Resep SAMBAL Asli Nusantara yang Menggugah Selera Satu Jam900 × 489Search by image nisrina.co.id

27 Resep SAMBAL Asli Nusantara yang Menggugah Selera Satu Jam900 × 489Search by image nisrina.co.id

Dewasa ini, di Indonesia panganan pedas sedang naik daun. Berbagai makanan instan maupun tidak banyak dijual berdasarkan tingkat kepedasan. Menyukai panganan pedas ternyata dapat mengindikasikan bahwa Anda seorang masokis—dalam hal ini disebut juga dengan masokisme jinak. Orang  yang tidak merasakan sakit saat mengkonsumsi panganan pedas sebetulnya pada dasarnya sangat menikmati rasa pedas tersebut.

Kesukaan seseorang terhadap cabai atau sambal memang tidak sama satu dengan yang lain. Beberapa orang menyadari bahwa cabai baik untuk kesehatan. Di dalam cabai, terdapat capcaicin yang terbukti bisa mencegah tekanan darah tinggi, meningkatkan nafsu makan, dan berfungsi pula sebagai antibakteri.

Disitat dari DetikHealth, pedas yang dapat membakar lidah bagi beberapa orang berasal dari reseptor sensor TRPV1 yang merupakan protein untuk membuka respons pada suhu fisik dan molekul pedas dalam makanan. Ketika molekul berikatan dengan reseptor tersebut, maka akan timbul rasa terbakar pada lidah.

Sebagian ilmuwan memberikan beberapa alasan orang menyukai rasa pedas. Dalam anggapan beberapa ilmuwan, pedas disukai bukan karena rasa, sebab pedas tidak termasuk dalam 4 rasa dasar seperti halnya asin, manis, pahit dan asam. Pedas lebih digolongkan sebagai bentuk rasa nyeri.

Dalam fenomena masokisme jinak, seseorang tertarik untuk mengalami sesuatu yang berbahaya namun dengan cara aman. Selain mengkonsumsi sambal, menaiki wahana roller coaster juga merupakan salah satu cara. Sebagai salah satu cara menuntaskan hasrat terhadap bahaya, sambal adalah hal yang paling mudah dan sederhana untuk ditemukan.

Jika pedas merupakan bentuk rasa nyeri, maka menikmati sambal atau makanan pedas berarti menikmati rasa nyeri. Demikian juga, masokisme didefinisikan sebagai gangguan kejiwaan yang membuat orang menikmati rasa sakit, atau minimal tidak menganggapnya sebagai satu masalah.

Dr Paul Rozin, seorang psikolog makanan dari University of Pennsylvania mengklaim bahwa masokisme jinak dalam rasa pedas dapat dibuktikan melalui eksperimen.

Dalam eksperimen itu, Dr Rozin menyediakan makanan pedas. Tingkat kepedasan makanan tersebut terus ditambah hingga pada satu titik ekstrem. Di titik ekstrem itu, partisipan merasa tidak kuat melanjutkan. Saat dilihat pada level mana rasa pedas itu terasa paling nikmat, mayoritas partisipan memilih satu level persis di bawah level ekstrem.

Selain menunjukkan kecenderungan masokisme ringan, pada nyatanya mengkonsumsi makanan pedas juga berpengaruh terhadap berat badan dan tekanan darah. Bagi Anda yang sedang merasa sangat emosi, makanan pedas juga dapat membantu menstabilkan kembali emosi.***

Share the knowledge