Menjadi Intelektual Sejati : Okezone News Okezone News https: img-z.okeinfo.net content 2013 05 06 95 803001 zzwmKANtCF

Menjadi Intelektual Sejati : Okezone News Okezone News https: img-z.okeinfo.net content 2013 05 06 95 803001 zzwmKANtCF

Jumlah pendaftar perguruan tinggi semakin melejit tiap tahun. Kampus favorit, baik negeri maupun swasta, dibanjiri formulir pendaftaran. Kebanyakan dari mereka ingin mengubah nasib—setidaknya menggantungkan harapan anyar di masa depan. Universitas tak ubahnya seperti kawah candradimuka yang menyulap manusia dari zero to hero.

Fasilitas perguruan tinggi sepenuhnya berbenah menyesuaikan kebutuhan zaman. Bila dibandingkan tiga dekade lampau, potret universitas saat ini telah bertransformasi ke arah modernitas. Semua bangunan dipersolek cantik sesuai tren arsitektur abad ke-21. Konsekuensi logisnya, antara lain, sumbangan finansial yang semakin aduhai.

Bagi kelas menengah ke atas, urusan fulus bukan problem utama. Mereka dibiayai dari dompet orangtua. Sedangkan kaum menengah ke bawah, tak lagi merintih karena bejibun beasiswa tersedia di depan mata. Meskipun beasiswa itu diperebutkan, para pendonor tak kekurangan kuota, malah justru sisa sekian mahasiswa.

Anak muda yang kini akan dan sedang masuk universitas itu dikategorikan lahir di atas tahun 90-an. Mereka diklasifikasikan oleh Karl Manheim sebagai generasi milenial. Ciri khasnya tercitra jelas: melek teknologi dan terbuka terhadap perbedaan.

Secara sosiologis, mereka merupakan anak pascareformasi. Mereka relatif beruntung karena menikmati buah dari era pembangunan.

Yang menjadi persoalan adalah bagaimana kecenderungan mereka bila dikomparasikan dengan generasi sebelumnya? Pertanyaan klise semacam ini menarik digali karena keduanya hidup dalam dua zaman yang niscaya berbeda.

Postcomended   Bocah 8 Tahun Diperkosa dan Dibunuh, Ketegangan Hindu-Muslim Memuncak

Pembahasan kali ini akan menyoroti seputar tanggung jawab intelektual mereka terhadap disiplin ilmu yang digeluti. Terutama melalui menulis.

Menulis dan Mengada

Jamak orang membandingkan situasi tragis bangsa Indonesia dan Barat dalam perspektif literasi. Barat, terutama Amerika Serikat, telah mengalami era lisan, tulisan, dan audio-visual secara sistematis.

Sedangkan di Indonesia berkebalikan, yakni dari lisan langsung audio-visual. Kenyataan ini didasarkan atas tren penggunaan internet di Indonesia yang menempati lima besar dunia. Keadaan ini menjadi prestasi sekaligus rapor merah.

Lebih rinci lagi, dari survei kuantitas penggunaan internet itu, ternyata didominasi oleh generasi muda. Di jagat maya, ia tak menggunakan kesempatan kreatifnya untuk berbagi gagasan tertulis, tapi sekadar menikmati sajian video sebagai pemuas batin. Anak muda itu lebih menggemari berselancar di YouTube ketimbang membubuhkan pemikiran otentiknya secara tertulis.

Mengalamatkan kesalahan kepada generasi muda justru merunyamkan duduk perkara sesungguhnya. Ia tak patut dikambinghitamkan karena secara struktural anak muda itu hanya menjadi objek dari tatanan global yang semakin kompleks.

Ia serupa korban atas kegagapan teknologi yang tak dibentengi kecakapan pedagogik. Sekolah dapat dikatakan telat merespons ancaman tersebut melalui kurikulum dan atmosfer pembelajaran.

Terlepas dari sisi positif era audio-visual, patut dipertanyakan pula kemampuan literasi mereka. Penulis sempat melakukan observasi terbatas pada sejumlah kolega, yang telah menggondol gelar akademik, di jejaring sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan Blog. Dari pengamatan sejak tahun 2016 hingga 2018 awal, para pengguna itu cenderung mengeksploitasi diri secara narsis ketimbang tukar pikiran lewat media tulisan.

Postcomended   24 September dalam Sejarah: Presiden Iran Sampaikan Pidato Kontroversial di Universitas Columbia

Jumlah foto yang diunggah lebih dominan daripada publikasi tulisan. Kalaupun menulis, ia sekadar membubuhi keterangan foto secara deskriptif-naratif. Sementara buah pena yang serius dan mendalam hampir nihil dari dinding media sosialnya.

Perkara ini semata-mata bukan memberi parameter bahwa menulis adalah segalanya, sedangkan aktivitas dunia maya lain dianggap sepele. Bukan begitu.

Lebih jauh lagi, penulis mengecek publikasi tulisan di Google. Kalau tak ditebitkan di akun media sosialnya, barangkali dimuat di media daring lain. Ternyata, setelah dicek, sama saja. Tak satupun pokok pikiran mereka dipublikasikan di sana.

Hal ini menjadi ironi karena latar belakang akademik mereka relatif top bila diteropong secara nilai numerik. Namun, kenapa mereka tak menulis, atau setidaknya, memberi jejak intelektual?

Seyogianya seorang sarjana itu memberi wacana pengetahuan tertulis lewat media apa pun. Peran ini dianggap sebagai tanggung jawab intelektual. Ia dididik di bangku perguruan tinggi untuk, setidaknya, menyampaikan sudut pandangnya mengenai sesuatu. Terutama berkaitan dengan disiplin ilmu yang digelutinya selama kuliah.

Tanpa menulis, mahasiswa maupun para sarjana itu tak ubahnya seperti siswa berseragam putih abu-abu. Jangkauan dan geliat intelektualnya mesti berbeda. Bilapun fasilitas menulis dirasa kurang, bukankah alasan ini semacam pledoi irasional? Mereka telah dibekali telepon pintar dan laptop canggih, tapi, sekali lagi, kenapa tak menulis?

Postcomended   Singapura Pilih Presiden Wanita Melayu-Muslim Pertama

Persoalan sarjana tapi tak menelurkan gagasan tertulisnya masih menuai tanda tanya. Sebagian dari mereka menganggap sepele karena keterampilan menulis lahir dari bakat.

Ujaran seperti itu hanya muncul pada orang yang dirundung pesimis akut. Di samping itu, kehendak untuk menuliskan gagasan bukan sebuah kewajiban, melainkan tuntutan struktral seperti desakan instansi yang akan memberi insentif dan kredit memuaskan bagi tulisan yang dimuat.

Indonesia kini dibanjiri sarjana yang mentereng secara gelar akademik. Tapi, di balik warta fantastis itu, tersembunyi kemalasan untuk berbagi pikiran melalui tulisan kreatif. Apa mungkin ia lebih gemar berkomentar ketimbang menulis? Jangan-jangan ini potret sarjana lisan?

Share the knowledge