Internasional

Studi Forensik Terbaru: “Darah Kain Turin” Diduga Palsu

In this pool photo taken Sunday, June 21, 2015, and made available Monday, June 22, Pope Francis prays in front of the Holy Shroud, the 14 foot-long linen revered by some as the burial cloth of Jesus, on display at the Cathedral of Turin, Italy, Sunday, June 21, 2015. Francis visited the long linen with the faded image of a bearded man, during his two-day pilgrimage to Turin. (L’ Osservatore Romano/Pool Photo via AP)

Satu studi forensik meragukan kebenaran “Kain Kafan Turin”; studi yang mungkin akan tidak disukai para pegila kisah misteri sekaligus mungkin sebagian umat Nasrani. Studi forensik teknologi tinggi terbaru tentang aliran darah pada Kain Kafan Turin, menunjukkan bahwa darah pada kain dari abad pertengahan tersebut kemungkinan besar adalah palsu.

Kain misterius ini awalnya dipercayai sebagian umat Kristiani sebagai kain penguburan Yesus. Hasil penyelidikan, di mana para ilmuwan menggunakan relawan dan manekin, dan menggunakan teknik canggih seperti Bloodstain Pattern Analysis (BPA), diterbitkan dalam edisi terbaru Journal of Forensic Sciences.

Gereja Katolik Roma belum mengambil posisi resmi pada keaslian kain. Kain ini mengandung gambar yang terbalik seperti film negatif, tentang seorang lelaki dengan luka-luka penyaliban. Gambar ini menunjukkan bagian punggung dan depan seorang pria berjenggot, yang lengannya bersilangan di dadanya. Hal ini ditandai dengan apa yang tampaknya menjadi rembesan darah dari luka di pergelangan tangan, kaki, dan bagian sisi tubuh.

Kain Kafan Turin dalam posisi vertical (Pinterest)

Para peragu mengatakan, kain –yang berukuran 14 kaki, 4 inci x 3 kaki, 7 inci (4,4 x 1,1 meter)– merupakan pemalsuan sempurna dari abad pertengahan. Tes penanggalan karbon pada tahun 1988 menempatkannya di antara tahun 1260 dan 1390, tetapi beberapa telah menantang keakuratannya.

Postcomended   13 Oktober dalam Sejarah: Penemuan Kata "Allah" dan "Ali" dari Pemakaman Viking Kuno, Diumumkan

Penelitian terbaru ini terbatas pada aliran darah yang dihasilkan dari beberapa luka: tangan kiri, lengan bawah, luka di sisi yang dikatakan Alkitab disebabkan oleh tombak, dan noda darah di dekat pinggang.

Dalam simulasi penelitian ini, sebuah tabung kecil dimasukkan ke dalam pergelangan tangan seorang sukarelawan penelitian untuk mensimulasikan darah yang menetes dari luka di mana sebuah paku penyaliban akan dimasukkan. Manekin digunakan untuk simulasi terjadinya luka “tombak” di tubuh bagian samping.

Postcomended   Ingin Memengaruhi Selera Musik Anak? Lakukan Sebelum Usia 10

Menggunakan instrumen seperti penemu sudut balistik, penelitian menunjukkan bahwa arah dan perilaku rembesan/aliran darah tidak sesuai dengan yang dibuktikan dalam foto-foto resolusi tinggi dari kain kafan. Kain itu disimpan dalam tempat khusus di Katedral Turin dan hanya dipajang pada kesempatan langka.

“Ketika relawan berada di (berbagai posisi berbaring), gerakan aliran darah tidak pernah cocok dengan Kain Kafan,” kata studi tersebut. “Dengan asumsi bahwa noda merah pada linen Turin sebenarnya adalah darah dari luka penyaliban, hasil eksperimen menunjukkan bahwa dugaan pola yang mengalir dari berbagai area tubuh tidak konsisten satu sama lain,” katanya.

Keakuratan tes penanggalan karbon 1988 yang dilakukan pada sampel kecil kain oleh universitas di Amerika Serikat, Inggris dan Swiss, ditantang oleh beberapa penganut inti-keras yang mengatakan bahwa restorasi di abad-abad lalu telah mencemari hasil.

Postcomended   Dua Lagi Kardinal "Dipecat" Paus: Bagaimana Para Ulama Bisa Memiliki Sisi Erotisme?

Sejarah Kain Kafan Turin panjang dan kontroversial. Setelah pertama kali muncul di Timur Tengah dan Prancis, kain misterius ini dibawa oleh bekas keluarga kerajaan Italia, Savoy, ke tempat tinggal mereka di Turin pada 1578. Pada 1983, mantan Raja Umberto II mewariskannya kepada mendiang Paus Yohanes Paulus.

Kain Kafan itu lolos dari kehancuran pada 1997 ketika api membakar Kapel Guarini di katedral Turin di mana kain ini disimpan. Seorang petugas pemadam kebakaran mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkannya.(***/reuters)

 

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top