Internasional

Sebuah Dokumen Mengungkap, Dokter Penemu Sindrom Asperger Mengirim Ratusan Anak Yahudi ke Kematian

Nemu Aneh: Daftar Penemu dan Ilmuwan Terkenal Di Dunia Nemu Aneh Nemu Aneh

Nemu Aneh: Daftar Penemu dan Ilmuwan Terkenal Di Dunia Nemu Aneh Nemu Aneh

Pegiat anak berkebutuhan khusus (ABK) dimanapun pasti mengetahui sindrom Asperger. Namun sebuah pengungkapan yang berasal dari dokumen dari era Nazi, bakal mengagetkan mereka. Dokumen yang baru ditemukan itu menunjukkan bahwa Hans Asperger, penemu sindrom Asperger yang dikaitkan dengan autisme, ternyata secara aktif terlibat dalam program euthanasia rezim Nazi di Austria.

Dilansir BBC dan Telegraph pada Kamis (19/4/2018), Asperger selama beberapa dekade dianggap sebagai pahlawan di bidang perawatan dan penelitian autism. Dia disebut telah melindungi pasiennya dari rezim Nazi.

Namun analisis terhadap satu set dokumen penting dari era Nazi, yang sebelumnya dianggap hancur, menunjukkan ia tidak hanya berkolaborasi dengan Nazi tetapi “secara aktif berkontribusi” untuk program eugenics (pemuliaan ras) mereka.

Penelitian atas dokumen tersebut yang diterbitkan dalam jurnal Molecular Autsim, mengungkapkan bahwa Asperger merujuk pasiennya ke klinik Am Spiegelgrund di Wina. Padahal di klinik ini anak-anak dibiarkan mati kelaparan atau dengan diberi obat-obatan mematikan sebagai bagian dari tujuan “Reich Ketiga” dalam hal merekayasa masyarakat “murni” secara genetis melalui “pembersihan ras”. Namun penyebab kematian mereka tercatat sebagai pneumonia. Sebanyak 789 anak-anak disebutkan tewas di klinik Am Spiegelgrund.

Postcomended   Ketika Pilot Pesawat Tempur Berakrobat di Antara Balon-balon Udara

Dalam pidato pengukuhan di Universitas Wina pada 1980, tak lama sebelum kematiannya pada usia 74 tahun, ia mengatakan bahwa ia dicari oleh Gestapo (polisi rahasia era Nazi) karena menolak menyerahkan anak-anak kepada mereka.

Namun menurut sejarahwan medis Austria, Herwig Czech, dalam jurnal tersebut, Asperger berhasil mengakomodasi diri ke rezim Nazi, dan afirmasi kesetiaannya dihargai dengan peluang karir.”

Editorial dalam jurnal tersebut, yang ditulis oleh akademisi Cambridge, mengatakan, Asperger rela menjadi penggerak dalam mesin pembunuh Nazi, dan menjadi bagian dari mata dan telinga Reich Ketiga.

Sindrom Asperger pertama kali diidentifikasi oleh Asperger pada 1944. Dia mendiagnosis sekelompok anak-anak yang karakteristik psikologisnya berbeda sebagai “psikopati autistik”. Istilah “Sindrom Asperger” baru mulai diperkenalkan psikiater Inggris, Lorna Wing, pada 1981.

Postcomended   PT AP I Benahi Bandara Internasional Lombok

The National Autistic Society menyebutkan, orang dengan sindrom Asperger sulit untuk mengatakan kepada orang lain apa yang mereka butuhkan, bagaimana perasaan mereka, dan menemukan kesulitan untuk bersosialisasi dengan orang lain serta membuat teman baru. Mereka mungkin juga berjuang untuk memahami apa yang dipikirkan orang lain, dan bagaimana perasaan mereka.

Meskipun ada kesamaan dengan autisme, perkembangan bahasa orang dengan sindrom Asperger hampir normal dan sering kali memiliki kecerdasan bahkan di atas rata-rata.

Terkait dengan temuan mengenai siapa Asperger sebenarnya, Carol Povey, direktur di Pusat Autisme mengatakan, tidak ada seorang pun dengan diagnosis sindrom Asperger yang harus merasa tercemari oleh sejarah yang sangat mengganggu ini.

Asperger meninggal pada tahun 1980. Dia sempat menjadi direktur klinik anak-anak di Wina dan setelah perang diangkat sebagai ketua pediatri di Universitas Wina. Meskipun Asperger bukan anggota Partai Nazi, ia menikmati “promosi prematur” di bawah mentornya Franz Hamburger, yang menurut penelitian tersebut, pernah menggambarkan ideologi Sosialis Nasional sebagai pusat praktik pediatri-nya.

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top