North Korea leader Kim Jong Un smiles as he visits Sohae Space Center in Cholsan County, North Pyongan province for the testing of a new engine for an intercontinental ballistic missile (ICBM) in this undated photo released by North Korea’s Korean Central News Agency (KCNA) on April 9, 2016. Photo: REUTERS/KCNA

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, dilaporkan secara terbuka mengeksekusi bawahannya, seorang perwira militer berpangkat tinggi, sekitar sebulan sebelum menghadiri KTT dengan Presiden Donald Trump. Pejabat itu dieksekusi pada April (2018) lalu, karena memberi makanan tambahan kepada rekan-rekannya.Kim dilaporkan marah ketika menemukan fakta bahwa Hyon Ju Song (56), seorang letnan jenderal Tentara Rakyat Korea, telah memberikan beras tambahan dan ransum jagung untuk pasukannya di Stasiun Peluncuran Satelit Sohae, beserta keluarga mereka.

Pejabat ini, seperti dikutip dari International Business Times (IBT), dinyatakan bersalah dengan tuduhan mengambil keuntungan dari musuh, terlibat dalam tindakan anti-partai, dan menyalahgunakan otoritas, ditembak dengan 90 peluru oleh sembilan terpidana mati militer di Akademi Militer Kang Kon, yang terletak di ibukota, Pyongyang.

“Kami tidak lagi harus menderita dan mengencangkan ikat pinggang kami untuk membuat roket atau senjata nuklir,” kata pejabat itu sambil memeriksa persediaan minyak untuk stasiun peluncuran.
Si pejabat mengirimkan 900 kilogram bahan bakar, 590 kilogram beras, dan 730 kilogram jagung kepada tentara di Stasiun Peluncuran. Rupanya apa yang dia lakukan tidak disetujui Kim.

“Ini dianggap sebagai tindakan anti-Partai yang melanggar Sepuluh Prinsip untuk Pembentukan Sistem Satu Ideologi Partai,” kata sebuah sumber, seperti dilaporkan Fox News, yang diteruskan IBT.

Sumber lain mengutip bahwa Kim mengatakan, “Keracunan ideologis yang merupakan idola pribadi adalah merusak personel kepala di Tentara Rakyat. Kita harus mencegah kuman yang keracunan ideologis.”

Kim memiliki riwayat mengeksekusi orang-orangnya dengan cara yang sadis dan brutal. Pada Februari 2016, dilansir Reuters, kepala militer Korea Utara, Ri Yong Gil, dieksekusi atas tuduhan korupsi dan membentuk faksi politik.

Pada April 2016, BBC melaporkan, Menteri Pertahanan saat itu, Hyon Yong Chol, dieksekusi di depan ratusan penonton karena dilaporkan menunjukkan ketidaksetiaan kepada Kim dan tertidur selama acara yang dihadiri oleh pemimpin.

Pada Desember 2013, Kim mengeksekusi pamannya, Jang Song Thaek, karena menjadi kontra-revolusioner dan atas tuduhan korupsi. Dia dilaporkan tewas setelah ditelanjangi dan diumpankan ke sekelompok anjing lapar.

Aidan Foster-Carter, seorang peneliti senior Sosiologi mengatakan kepada The Independent, bahwa pembunuhan Jang Song Thaek telah menjadi episode terorisme negara.

Eksekusi yang dilakukan secara terbuka, kata Carter, menunjukkan bahwa militer dan Kim Jong Un sedang mencoba memperingatkan orang-orangnya untuk tidak memberontak, dan bagaimana hukuman buas dapat dilakukan.

Pada Mei 2015, seorang pejabat senior mengungkapkan kepada CNN bahwa Kim telah memerintahkan eksekusi terhadap bibinya dan istri Jang Song Thaek, Kim Kyong Hui, karena mengeluh tentang eksekusi suaminya.

“Kim Jong Un memerintahkan eksekusi mati terhadap bibinya, Kim Kyong Hui. Hanya unit pengawalnya, Unit 974, yang tahu ini. Sekarang pejabat senior juga tahu dia (Kim Kyong Hui) diracuni,” kata pejabat itu.***

Share the knowledge