Paket Wisata Bromo - My Permata Wisata My Permata Wisata1200 × 630Search by image Paket Wisata Bromo

Paket Wisata Bromo – My Permata Wisata My Permata Wisata1200 × 630Search by image Paket Wisata Bromo

Pada mulanya adalah ajakan. Lalu tanggapan, disusul keberangkatan. Saat itu adalah pertama kalinya saya berwisata ke Jawa Timur. Saya bersama tujuh orang teman berangkat dari Magelang dengan destinasi utama Gunung Bromo.

Saya tiba di kawasan wisata Bromo sekitar pukul tiga pagi. Udara saat itu sangat dingin. Kabut masih sangat pekat hingga cahaya lampu-lampu tidak beranjak terlalu jauh. Dingin dan kabut itu agaknya sedikit terabaikan karena saya membayangkan sunrise yang akan ditemui beberapa jam kemudian.

Saya lalu berjalan menuju sunrise spot di kaldera barat Bromo. Perjalanan itu singkat namun berbatu dan berbau. Maklum, kotoran kuda seringkali berserakan di jalan. Kegelapan kurang membantu kami mewaspadai kehadiran mereka.

Setibanya di puncak, langit masih gelap. Di sana saya bertemu dengan empat orang wisatawan dari Austria dan Jerman. Ketika teman perjalanan saya bertanya pada mereka tentang alasan kedatangan mereka ke Bromo, padahal toh di Eropa sana juga banyak terdapat gunung  dan sunrise yang menakjubkan, mereka hanya menjawab dengan aksen Jerman yang kental, “It’s different here.”

Maka dari sana perjalanan saya menemukan kerangkanya: Apakah yang mengundang mereka ke sini, ribuan kilometer dari tempat asal mereka?

Hal pertama yang saya lihat adalah transisi. Langit yang gelap namun jernih menampakkan bintang-bintang beralih menjadi kemerahan. Kontur tanah yang tadinya siluet menjelma menjadi berwarna. Bromo dan Batok merona di muka, sementara bayang Mahameru nampak gagah di kejauhan. Entah mengapa, kemunculan bentuk tersebut mengundang emosi yang cukup kuat. Apa yang tampak di hadapan saya jelas adalah keindahan.

Ke Bromo Sendirian Naik Kendaraan Umum 2017 | Sang Vectoria Jenaka Dzofar450 × 349Search by image Tangga menuju kawah bromo

Ke Bromo Sendirian Naik Kendaraan Umum 2017 | Sang Vectoria Jenaka Dzofar450 × 349Search by image Tangga menuju kawah bromo

Hal kedua adalah hamparan pasir. Lautan pasir antara dinding kaldera dan kedua gunung di tengahnya memang terlihat wajar dari kejauhan, namun menampilkan suasana yang eksentrik ketika saya telah berada di tengahnya. Kabut waktu itu masih mengambang tipis. Pasir yang disela rumput-rumput tinggi masih terasa basah. Suasana itu seingat saya seperti latar salah satu adegan film bertemakan petualangan di angkasa luar. Asing, namun mengundang untuk dijelajah.

Postcomended   Sail Sabang 2017 Jadi Event Sail Terbesar di Tanah Air

Penjelajahan saya pertama bertemu  patok-patok tanda erupsi lava terjauh Gunung Bromo. Mereka yang dengan sendirinya tampak menonjol dan artistik di tengah monotonitas pasir dan rumput. Lalu ada Pura, satu-satunya bangunan menonjol di tengah hamparan pasir itu. Meskipun saat itu tiada aktivitas berarti terjadi di sana, kehadiran pura itu bagi saya telah memberikan representasi budaya yang sedemikian terikat dengan alamnya. Saya melihat alam yang bersanding dengan manusia dan kearifan lokal.

Kawah Gunung Bromo | bromotour.co.id Paket Wisata Bromo585 × 389Search by image Paket Wisata Ranu Kumbolo Bromo Tour

Kawah Gunung Bromo | bromotour.co.id Paket Wisata Bromo585 × 389Search by image Paket Wisata Ranu Kumbolo Bromo Tour

Terakhir, saya kembali melihat semua yang telah saya lihat, kini dari bibir kawah Bromo. Semua yang saya lewati dan mengecil seiring perjalanan ke puncak Bromo. Pada sisi yang lain, Bromo mengepulkan asapnya yang putih dan agak tebal dari kawahnya yang sayangnya tidak terlalu bersih. Botol bekas air mineral dan lembaran koran terhambur antara bibir kawah dan lubangnya. Sedih dan risih sih, tetapi apa yang ada di hadapan saya toh jauh lebih berharga dari gangguan itu.

Jadi, apa yang mengundang para wisatawan, terkhusus rombongan Austria-Jerman yang saya temui di sunrise spot  tadi? Kesempurnaan? Mungkin bukan. Saya sendiri yakin kalau di Eropa sana ada jauh lebih banyak contoh bagi kesempurnaan. Paling tidak, usaha masyarakat untuk mencapai disiplin dan keteraturan berada pada tingkat yang perlu diakui berada di atas kita, masyarakat Indonesia. Sampah-sampah tentu tidak akan dibiarkan berserakan. Pembatas kawah akan lebih baik dari beton yang sudah aus dimakan erupsi, angin, dan usia.

Postcomended   Sail Sabang 2017 Disupport Garuda Indonesia

Eksotisme? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Panorama matahari terbit di pegunungan di Eropa pun menawarkan eksotisme meski tentu tidak serupa. Lanskap vulkanik toh juga dapat ditemui di gunung-gunung api lain, bahkan yang jauh lebih tinggi dan bergejolak daripada Bromo yang kerdil dan tenang. Meski juga mengakui bahwa pemandangan yang saya lihat dari kaldera itu luar biasa indah, saya kira mereka tidak jauh-jauh datang hanya untuk keindahan itu.

Penerimaan. Saya kira mereka datang ke sini karena di sini ada penerimaan. Ada ruang untuk hidup berdampingan. Ada ruang untuk hidup bersama.

Bromo yang kurang signifikan nyatanya nampak indah kala bersanding dengan Batok yang mengerucut, kaldera yang membentengi hampir semua kelilingnya, dan Mahameru yang agung di latarnya. Padang pasir dan rumputnya adalah ruang yang menjadikan patok-patok bercat putih itu indah. Di sana pula mereka yang berjalan kaki, menaiki kuda, atau menumpang mobil jeep sama-sama mendapat tempat.

Masyarakat setempat sungguh dihargai dengan kesendirian pura di kaki Bromonya. Di sisi yang lain, Bromo selalu tampak tentram dan lebih sakral dengan puranya. Mereka, pura dan Bromo, seperti tidak mempersoalkan siapa yang ada lebih dulu.  Masing-masing tahu tempatnya dan bagaimana sikap yang tepat untuk menghargai keberadaan sesamanya. Kehadiran dalam porsi yang pas justru memberikan makna yang lebih kaya bagi kehadiran yang lain.

Maka saya teringat akan local wisdom. Kearifan lokal. Bangsa kita, masyarakat kita, alam kita, terlatih dan terbiasa untuk menerima. Apa yang baik dijadikan bagian dari apa yang sudah ada sebelumnya, kendati kadar kebaikan itu terkadang tidak cukup baik bagi semua pihak. Semua memang lebih lambat di sini, namun justru karena itu mampu melestarikan keindahan yang telah ada.

Postcomended   Ibukota RI Tak Akan Lagi di Pulau Jawa

Jika melihat situasi masyarakat kita sekarang, saya kira kita semua perlu kembali merenungi nilai-nilai tersebut. Isu-isu terkait intoleransi sedang marak-maraknya beredar. Masyarakat saat ini menjadi lebih sensitif terhadap perbedaan, lebih dari yang selama ini pernah saya alami dan rasakan. Pola pikir yang sehat diputarbalikkan oleh informasi ngawur yang tidak tentu muara kebenarannya; informasi yang disebarkan tanpa pemahaman akan konteks masyarakat saat ini.

Golongan-golongan kehilangan rasa percayanya terhadap satu sama lain. Mereka kehilangan kemampuan menerima yang sebenarnya bakat alami Indonesia.

Imajinasi saya tertawa ketika membayangkan Bromo dirundung Semeru atau bahkan kalderanya sendiri karena hanya bisa berbisik dengan kekerdilannya. Atau tonggak-tonggak penanda erupsi yang menyombongkan popularitasnya sebagai obyek foto kepada  lautan pasir yang menjadi latarnya.

Tentu semua itu kita katakan benda mati. Mereka tidak dapat berbuat dan bersikap, atau membenci, sebagaimana kita, manusia. Tetapi bukankah manusia yang dapat berbuat, seharusnya lebih baik daripada itu? Bukankah manusia lebih bisa menerima daripada mereka yang mati?

Sungguh, jika tidak lagi dapat menerima, saya kurang yakin alasan apa yang mungkin mengundang para wisatawan rela jauh-jauh datang dari negerinya ke Indonesia. Indonesia tanpa menerima hanya akan jadi kebanyakan.