Ada Kejanggalan di Foto Sakit Setya Novanto, Ini Jawaban Golkar ... Nasional Tempo.co Foto Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Setya Novanto, yang tengah dirawat di rumah sakit dengan

Ada Kejanggalan di Foto Sakit Setya Novanto, Ini Jawaban Golkar … Nasional Tempo.co Foto Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Setya Novanto, yang tengah dirawat di rumah sakit dengan

Terisak bacakan pleidoi dan mengutip al-Quran di persidangan, adalah sesuatu yang memancing rasa haru. Namun sejumlah fakta persidangan terkait sang pembaca pleidoi, terdakwa korupsi e-KTP, Setya Novanto (SN), menyisakan kejanggalan-kejanggalan yang menggelitik saraf geli. Mantan Ketua DPR RI ini memang sudah sejak kasus “papa minta saham” selalu menimbulkan eforia tawa khususnya di kalangan warganet; hiburan yang harus dibayar senilai korupsi Rp 2,3 triliun.

Dalam beberapa sidang perkara perintangan penyidikan SN dengan terdakwa dr Bimanesh Sutarjo dan Fredrich Yunadi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan saksi-saksi dari RS Medika Permata Hijau, dalam sidang yang dimulai sejak Maret hingga April 2018.

Mereka adalah dua perawat bernama Indri Astuti dan Nurul Rahmah; Kepala Bidang Perawatan Medis, dokter Francia Anggraeni, Ketua Bidang Perawatan Medis; dua satpam bernama Abdul Aziz dan Masnyur; serta pengacara bernama Ahmad Rudyansyah; dr. Alia Shahab, yang sempat bekerja sebagai Plt Manajer Pelayanan Medik di RS Medika Permata Hijau; dr. Michael Chia Cahaya yang bertugas sebagai dokter Instalasi Gawat Darurat (IGD), dan juga Direktur RS Medika Permata Hijau, dokter Hafil Budianto Abdulgani.

Kesaksian mereka di persidangan terkait SN ini mengungkap kejanggalan-kejanggalan “unik” dan “ajaib”. Berikut ini adalah sejumlah kejanggalan tersebut:

1. Indri mengatakan benjolan di dahi Novanto hanya sebesar kuku. Ini berbeda dengan ucapan Kuasa Hukum SN kala itu, Fredrich Yunadi, yang menyebut dahi SN “benjol segede bakpao”.

2. SN kata Indri, berteriak minta obat merah dan dipasangkan perban di kepalanya, padahal tidak ada luka yang berdarah.

Postcomended   Pasar Karetan Mengajak Flashback ke Masa Lalu

3. Indri sempat melihat SN bisa berdiri tegak meski saat itu disebut mengalami kecelakaan. Saat SN tahu ada yang memperhatikan, SN langsung lemas ketika kembali ke tempat tidur.

4. Francia, dalam berita acara pemeriksaan (BAP) yang dibacaka Ketua majelis hakim Saifuddin Zuhri, menganggap visum yang dikeluarkan Bimanesh terhadap SN, aneh. Bimanesh selaku dokter spesialis, seharusnya tidak perlu membuatkan administrasi visum, karena yang membuat adalah petugas.

5. Masih dari BAP Francia, Bimanesh menggunakan logo RS Medika Permata Hijau dan kop surat tidak resmi serta nomor surat tidak dikenal sebagai surat administrasi. Format surat juga bukan standar Rumah Sakit Medika Permata Hijau. Bimanesh juga menggunakan stempel bukan RS Medika Permata Hijau. Padahal stempel tidak perlu, yang diperlukan adalah stempel dokter.

6. Alia Shahab sudah diminta untuk menyiapkan kamar perawatan bagi Novanto sejak pukul 11:00 (padahal kecelakaan terjadi malam hari). Ini dilakukan karena menerima telepon dari dokter Bimanesh yang menyebutkan SN memiliki riwayat penyakit hipertensi berat, jantung dan gastritis. Alia tidak langsung menuruti permintaan Bimanesh. Dia mendiskusikan kepada Direktur RS, Prof. Hafil Budianto yang sedang berada di Melbourne, Australia, yang memberi lampu hijau: asal kamar tersedia dan sesuai prosedur. Alia mengatakan, direktur perusahaan pemilik rumah sakit, Prof Hafiz, dan Manajer Umum, Rusmiyati, juga mempersilakan dengan alasan sama.

7. Walaupun belum tentu akan dirawat pada 16 November 2017, nyatanya rumah sakit tetap menyiapkan fasilitas terbaik bagi SN

Yakni di kamar VIP yang terletak di lantai tiga (kamar 323). Bimanesh mengatakan, Ketua Umum Partai Golkar pada saat kasus terjadi itu, akan dirawat pada tanggal tersebut, meskipun belum pasti pukul berapa SN akan masuk.

Postcomended   Pariwisata Jawa Barat Bersolek Sambut Asian Games 2018

8. Fredrich sempat meminta agar Alia berjaga-jaga untuk menyediakan satu kamar VIP lainnya. Dari tujuh kamar VIP, ada tiga yang kosong ketika itu. Pukul 14.00, di hari SN kecelakaan malam harinya, Fredrich menelepon agar RS menyiagakan seorang perawat. Alia kemudian mengabarkan kepada dokter Bimanesh bahwa SN sudah siap masuk.

9. Diagnosis diubah dari penyakit jantung menjadi kecelakaan: Alia sempat berada di kamar 323 bersama Fredrich yang sedang mengecek persiapan kamar, ketika ada telepon masuk ke ponsel Fredrich. Usai menerima telepon, Fredrich berkata pada Alia, “Dok, ini nanti masuknya karena kecelakaan ya.” Alia bingung, bagaimana mungkin seseorang yang belum diperiksa dan ditemui, tiba-tiba bisa dibuatkan diagnosis harus dirawat inap karena kecelakaan.

10. Alia dihubungi dr. Michael Chia Cahaya yang bertugas sebagai dokter jaga IGD. “Dokter Michael bilang diminta pengacara SN untuk membuat surat pengantar agar terlihat seperti kecelakaan. Michael sempat mengancam, kalau tetap dipaksa oleh pengacara SN, dia akan meninggalkan ruang IGD.

11. Keluhan Michael disampaikan Alia ke Bimnanesh. Dokter senior ini mengatakan, dia yang akan mengurus semua permasalahan tersebut.

12. Bimanesh tetap masuk, padahal tidak memiliki jadwal praktik pada 16 November 2017 itu.

13. Bimanesh yang notabene bukan dokter IGD, menulis surat pengantar agar Novanto dapat dirawat. Bimanesh mengatakan kepada Alia agar tidak buka mulut soal kejanggalan prosedur ini. Sesuai SOP yang berlaku di RS, pasien bisa dirawat inap jika melalui jalur IGD dan poliklinik.

Postcomended   Ibukota RI Tak Akan Lagi di Pulau Jawa

14. Infus yang dipasang di tangan SN adalah infus untuk anak-anak. Dalam dakwaan yang dibacakan Jaksa KPK, Takdir Sutan, Bimanesh memerintahkan kepada perawat (Indri) untuk memasang infus di tangan SN. Namun Indri memasang jarum kecil ukuran 24 yang biasa digunakan untuk anak-anak. Jaksa Takdir dalam dakwaan yang dibacakan dalam sidang Kamis, 8 Maret 2018, mengatakan, “Jarum itu hanya sekadar ditempel saja, pura-pura dipasang infus.” Sementara dalam kesaksian pada 2 April 2018, Indri mengatakan memasangkan jarum infus anak-anak karena tidak menemukan pembuluh darah di tangan SN dengan menggunakan jarum untuk dewasa.

15. Direktur RS Medika Permata Hijau, dokter Hafil Budianto Abdulgani, saat bersaksi dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (16/4/2018), mengaku heran saat mendapat laporan bahwa SN langsung dibawa ke ruang inap usai kecelakaan, padahal umumnya korban kecelakaan dilarikan ke IGD.

16. Hafil juga heran, yang mendaftarkan SN untuk dirawat bukan pihak keluarga, melainkan pengacaranya, Fredrich Yunadi.(***/dari berbagai sumber)

Share the knowledge