Internasional

Sejumlah Spesies Serangga Tercancam Punah dalam Beberapa Dekade Mendatang

Share the knowledge

 

Kepunahan serangga dapat mengingdikasikan pada ancaman katastrofi di Bumi (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=vOjaM3amQ1A)

Kepunahan serangga dapat mengingdikasikan pada ancaman katastrofi di Bumi (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=vOjaM3amQ1A)

Jangan anggap remeh serangga. Penurunan drastis jumlah hewan ini dapat berimplikasi pada keruntuhan ekosistem Bumi. Satu studi memperingatkan, populasi serangga saat ini menurun secara drastis di seluruh dunia, dengan beberapa terancam punah.

Menurut laporan “Worldwide decline of the entomofauna: A review of its drivers”, yang diterbitkan dalam jurnal Biological Conservation, seperti dilansir CNN, bioma serangga disebut menurun sebanyak 2,5% setahun, tingkat yang mengindikasikan kepunahan luas dalam satu abad, laporan itu menemukan.

Disebutkan juga bahwa sebesar 40% serangga berisiko mati, dengan sepertiga spesies terancam punah. Jumlah ini dikatakan dapat menyebabkan keruntuhan ekosistem planet ini dengan dampak yang menghancurkan pada kehidupan di Bumi.

Laporan itu, yang ditulis bersama oleh para ilmuwan dari universitas Sydney dan Queensland dan Akademi Ilmu Pengetahuan Pertanian Cina, melihat lusinan laporan yang ada tentang penurunan populasi serangga yang diterbitkan selama tiga dekade terakhir, dan memeriksa alasan di balik angka yang turun tersebut untuk menghasilkan gambaran global yang mengkhawatirkan ini.

Penulis utamanya, Francisco Sanchez-Bayo, dari School of Life and Environmental Sciences di University of Sydney, menyebut studi ini sebagai ujian global pertama yang sesungguhnya dari isu ini.

Sementara fokus di masa lalu adalah pada penurunan keanekaragaman hayati hewan vertebrata, penelitian ini menekankan pentingnya kehidupan serangga pada ekosistem yang saling berhubungan dan rantai makanan. Serangga membentuk sekitar 70% dari semua spesies hewan.

Postcomended   Donald Trump: Kebakaran California Gara-gara Dedaunan Tidak Disapu

“Karena serangga berada di “basis struktural dan fungsional dari banyak ekosistem dunia sejak kemunculannya hampir 400 juta tahun yang lalu, dampak kepunahannya sedikitnya  akan menjadi katastropis,” menurut laporan itu.

Penyebab utama penurunan antara lain akibat hilangnya habitat, konversi ke pertanian intensif dan urbanisasi, polusi terutama dari pestisida dan pupuk, serta faktor biologis seperti akibat “patogen dan spesies baru yang diperkenalkan”, dan perubahan iklim.

Sementara sejumlah besar serangga spesialis, yang mengisi ceruk ekologi tertentu, dan serangga umum menurun, sekelompok kecil serangga yang dapat beradaptasi melihat jumlah mereka meningkat, tetapi tidak cukup dekat untuk menahan penurunan tersebut, laporan itu menemukan.

Makhluk yang Menguasai Dunia
Don Sands, ahli entomologi dan pensiunan ilmuwan Organisasi Riset Ilmiah dan Industri Persemakmuran, mengatakan, dia setuju “sepenuhnya” bahwa efek “dari bawah ke atas” dari hilangnya serangga itu serius. “Jika kita tidak memiliki serangga sebagai moderator populasi hama lain, kita memiliki populasi serangga yang merusak tanaman dan membuat mereka sulit untuk tumbuh,” katanya.

Dia menambahkan bahwa ekosistem pada tingkat ini harus seimbang. Itulah lapisan paling bawah. Dan jika kita tidak mengatasinya, kata Sands, seluruh kehidupan kita akan menjadi tak terukur. “(Serangga adalah) makhluk kecil yang menjalankan dunia,” katanya.

Postcomended   15 Agustus dalam Sejarah: Terusan Panama Diresmikan

Laporan penurunan serangga bukanlah hal baru: para peneliti telah memperingatkan fenomena ini dan dampaknya selama bertahun-tahun. Tahun lalu, satu studi menemukan bahwa populasi serangga terbang di cagar alam Jerman menurun lebih dari 75% selama studi 27 tahun, yang berarti bahwa kematian terjadi bahkan di luar area yang dipengaruhi oleh aktivitas manusia.

“Ini bukan area pertanian, ini adalah lokasi yang dimaksudkan untuk melestarikan keanekaragaman hayati, tetapi kita masih melihat serangga lepas dari tangan kita,” kata rekan penulis laporan itu, Caspar Hallman.

Penyerbukan Tanaman Terancam

Spesies yang mengandalkan serangga sebagai sumber makanan mereka, dan hewan pemangsa yang lebih tinggi dalam rantai makanan yang memakan spesies itu, cenderung menderita akibat penurunan ini, menurut para ilmuwan.

Penyerbukan tanaman  juga akan terpengaruh, bersama dengan siklus hara di tanah. Jasa ekosistem yang disediakan oleh serangga liar diperkirakan mencapai 57 miliar dollar AS setiap tahun di AS.

Sekitar 80% tanaman liar menggunakan serangga untuk penyerbukan, sementara 60% burung mengandalkan serangga sebagai sumber makanan, menurut penelitian. Sands mengatakan bahaya langsung dari penurunan serangga adalah hilangnya burung pemakan serangga, dan risiko burung yang lebih besar beralih dari memakan serangga menjadi saling memakan.

Di negara asalnya Australia, “burung-burung yang kehabisan makanan serangga saling memakan,” katanya, seraya menambahkan bahwa ini kemungkinan merupakan fenomena global.

Postcomended   Sejak Ditemukan Bocah 9 Tahun, Mata Rantai Manusia Semakin Saling Terhubung

“Karena serangga merupakan kelompok hewan paling banyak di dunia dan (beragam spesiesnya) di dunia dan memberikan layanan kritis dalam ekosistem, peristiwa seperti itu tidak dapat diabaikan dan harus mendorong tindakan tegas untuk mencegah kehancuran ekosistem alam,” sebut mereka.

Mereka menyarankan merombak metode pertanian yang ada, khususnya pengurangan serius dalam penggunaan pestisida, dan memikirkan substitusinya dengan praktik-praktik berbasis ekologi yang lebih berkelanjutan. “Kesimpulannya jelas: kecuali kita mengubah cara kita menghasilkan makanan, serangga secara keseluruhan akan menuju jalan kepunahan dalam beberapa dekade,” mereka menyimpulkan.***

 

 


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top