Antropolog Temukan Spesies Orangutan Baru di Indonesia Netralnews.com775 × 477Search by image

Antropolog Temukan Spesies Orangutan Baru di Indonesia Netralnews.com775 × 477Search by image

Para ilmuwan yang telah bertahun-tahun kebingungan mengenai “kekhasan” genetik pada satu populasi kecil orangutan di Sumatra, akhirnya menyimpulkan bahwa mereka adalah spesies baru. Populasi kera besar ini dilaporkan ada setelah ekspedisi ke hutan pegunungan terpencil di sana pada 1997. Penelitian DNA menunjukkan, spesies yang ini “aneh” dibandingkan dengan orangutan lain. Temuan ini menggembirakan sekaligus mencemaskan. Kenapa?

Sejak saat itu, sebuah proyek penelitian telah mengungkapkan rahasia biologis mereka. Spesies ini telah diberi nama orangutan Tapanuli; spesies ketiga selain orangutan Borneo dan Sumatera. Ini adalah kera besar baru yang pertama, yang memakan hampir satu abad untuk dijelaskan.

Karya mereka yang diterbitkan di jurnal Current Biology, menyebutkan, tim –termasuk periset dari Universitas Zurich, Universitas Liverpool John Moores dan Program Konservasi Orangutan Orangutan– menunjukkan bahwa hanya ada 800 orangutan jenis ini yang tersisa, yang menjadikan mereka spesies kera paling terancam di dunia.

Postcomended   Hampir Semua Produksi Madu Dunia Terkontaminasi Pestisida yang Dihirup Lebah

Pada awal studi mereka, peneliti mengambil DNA orangutan ini yang menunjukkan bahwa mereka “aneh” dibandingkan orangutan lain di Sumatera. Para ilmuwan lalu memulai penyelidikan yang lebih teliti untuk merekonstruksi sejarah evolusioner hewan tersebut melalui kode genetik mereka.

Salah satu peneliti utama, Prof Michael Krützen dari Universitas Zurich, Swiss, menjelaskan kepada BBC News: “Analisis genomik benar-benar memungkinkan kita untuk melihat sejarah secara rinc. “Kita bisa menyelidiki jauh di masa lalu dan bertanya, ‘kapan populasi ini terpecah?’.”

Postcomended   Rotasi Bumi Melambat, Wilayah Khatulistiwa Terancam Gempa Besar pada 2018

Analisis total terhadap 37 genom orangutan lengkap –kode untuk pembuatan biologis setiap hewan– kini telah menunjukkan bahwa kera ini terpisah dari kerabatnya di Borneo kurang dari 700 ribu tahun yang lalu; sebuah potongan kecil sejarah pada masa evolusioner.

Sementara itu, Prof Serge Wich dari Universitas John Moores Liverpool, berfokus pada tansa panggilan orangutan ini, yakni berupa suara keras yang dibuat oleh kera jantan untuk mengumumkan kehadiran mereka. “Panggilan itu bisa terdengar hingga satu kilometer melalui hutan,” jelas Wich.

“Jika mendengar panggilan ini, anda bisa menggoda mereka, dan kami menemukan beberapa perbedaan halus antara populasi ini dan populasi lainnya,” ujar Wich lagi. Selain itu, teka-teki mengenai spesies “baru” ini bisa diamati pada perbedaan yang sangat halus namun konsisten pada bentuk tengkorak antara orangutan Sumatera, Kalimantan, dan Tapanuli.

Postcomended   Tinggal di Kawasan Polutif Meningkatkan Risiko Osteoporosis

Wich mengatakan kepada BBC News bahwa penelitian kolaboratif genetik, anatomis dan akustik, telah mencapai “terobosan menakjubkan”. “Hanya ada tujuh spesies kera besar, tidak termasuk kita,” katanya. Menambahkan satu (lagi spesies) ke daftar yang sangat kecil itu, sebut Wich, adalah sesuatu yang spektakuler dan menjadi idaman banyak ahli biologi.

Namun kata Wich, menemukan sesuatu yang baru dan kemudian segera juga menyadari bahwa spesies ini masuk dalam daftar terancam punah, sangat mencemaskan. “Kita harus memusatkan semua usaha kita sebelum kita kehilangannya.”***