Urmaşii lui Tutankhamon sunt...europenii! jurnalul.ro Experti de la Centrul de genealogie a ADN-ului din Zurich au reconstruit ADN-ul prelevat din ramasitele mumificate ale conducatorului egiptean si l-au comparat cu cel al barbatilor europeni...

Urmaşii lui Tutankhamon sunt…europenii! jurnalul.ro Experti de la Centrul de genealogie a ADN-ului din Zurich au reconstruit ADN-ul prelevat din ramasitele mumificate ale conducatorului egiptean si l-au comparat cu cel al barbatilor europeni…

Sebuah sarkofagus (peti mati mumi) yang disimpan di museum Universitas Sydney, Australia, selama lebih dari 150 tahun, baru diketahui berisi mumi pada 2017. Padahal sebelumnya sarkofagus tersebut diklasifikasi sebagai kosong.

Ketika para ilmuwan Australia membuka peti mati berusia 2.500 itu pada tahun lalu, dilansir BBC, mereka terkejut menemukan sisa-sisa kaki dan tulang manusia. Para peneliti mengatakan sisa-sisa jasad itu dalam kondisi telah rusak, mungkin oleh perampok makam.

Dr Jamie Fraser mengatakan, penemuan itu, yang baru dipublikasikan, merupakan momen luar biasa. “Apa yang kami lihat benar-benar luar biasa mengherankan; salah satu momen di mana Anda tidak bisa membantu tetapi ikut menarik napas dan tertahan sejenak,” kata arkeolog Museum Nicholson Universitas Sydney ini.

Postcomended   Media Asing Soroti Peristiwa Keracunan Massal Miras Oplosan: Pelarangan Menimbulkan Pasar Gelap Miras Ilegal

Sarkofagus tersebut adalah salah satu dari empat koleksi asal Mesir yang dibawa pada sekitar tahun 1860 oleh pendiri museum. Sebuah buku pegangan museum itu menglasifikasikannya sebagai kosong.

Fraser mengatakan, objek yang “tampak suram dan tidak mencolok” itu hanya mendapat sedikit perhatian dari para ahli Mesir. Mereka lebih tertarik mempelajari sel-sel peti mati lainnya, yang tampak lebih mengesankan dan memiliki mumi lengkap. Ekskavasi atas isi peti mati itu telah diakhiri minggu lalu.

Para ahli akan mencoba untuk mengidentifikasi mumi, yang sudah “sangat hancur” dan diacak-acak oleh perampok makam pada satu waktu dalam sejarah. Hanya sekitar 10% bagian-bagian tubuh yang tersisa di peti mati.

Dikatakan Fraser, tanggal berhuruf hieroglif yang tertera pada sarkofagus menunjukkan bahwa sarkofagus itu berasal dari sekitar 600 SM, dibangun untuk seorang wanita bernama Mer-Neith-it-es, yang diduga seorang pendeta atau sekadar pemuja.

Postcomended   Mensos Ajak 50 Penghafal Al Quran Doakan Pahlawan dan Keselamatan Bangsa Tahlil di Kompleks Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMPNU) Kalibata

Dari hasil CT-scan dan ekskavasi sarkofagus yang selesai minggu lalu, diketahui terdapat beberapa tulang, perban, fragmen resin, dan lebih dari 7.000 manik-manik dari selendang upacara pemakaman.

Fraser berharap tes radiokarbon akan membuktikan bahwa jasad tersebut mati sekitar 600 SM. Jika ya, kemungkinan jasad ini memang pemilik peti mati tersebut, dan jika itu seorang wanita, sepertinya dialah Mer-Neith-it-es.

Temuan ini, kata para ahli, diharap akan memberi peluang penelitian lebih lanjut, pasalnya ilmuwan modern tidak melakukan tes fisik pada mumi yang lengkap. “Tetapi dalam kasus ini kami bahkan tidak dapat melakukan apa pun terhadap sisa-sisa yang belum disentuh oleh perampok makam,” kata Fraser. Jadi, dengan melakukan proses penggalian, imbuh Fraser, pihaknya berharap dapat menstabilkan jasad yang tersisa dan melestarikannya dengan benar.

Postcomended   21 Mei dalam Sejarah: Suharto Lengser Keprabon

Prof John Magnussen, seorang ahli radiologi dari Universitas Macquarie yang berkesempatan mengamati peti mati, setuju bahwa temuan ini memang luar biasa. “Apa yang tadinya bisa saja dianggap tumpukan kotoran dan puing-puing, akhirnya menjadi temuan arkeologi yang nyata”, katanya.(***/bbc)