Internasional

Sepasang Lesbian Malaysia Bakal Hadapi Hukuman Cambuk

Reli komunitas LGBT di Malaysia (yadim.com.my)

Dua wanita Muslim Malaysia terancam hukuman cambuk karena tepergok melakukan hubungan intim di dalam mobil. Untuk negara mayoritas Muslim seperti Malaysia, kasus seperti ini sangat jarang sehingga cukup menggemparkan. Malaysia cukup ketat dalam menetapkan aturan mengenai kaum LGBT, salah satunya adalah sensor film. Kecuali jika karakter pelaku LGBT di film tersebut bertobat atau mati. 

Petugas penegak hukum Islam di negara bagian timur laut Terengganu yang konservatif, menemukan dua wanita Muslim yang berusaha melakukan tindakan seksual di dalam mobil. Jaksa Muhamad Khasmizan Abdullah menyebutkan, mereka dipergoki petugas selama melakukan patrol pada April lalu.

Para wanita itu dituntut berdasarkan hukum syariah Islam yang dikenal sebagai musahaqah; yang melarang seks lesbian, dan dijatuhi hukuman masing-masing enam pukulan menggunakan tongkat rotan serta denda 3.300 ringgit Malaysia (sekitar Rp 11 juta) pekan ini setelah mengaku bersalah, kata jaksa.

Hukuman ini diberlaukan di tengah kekhawatiran seputar meningkatnya intoleransi terhadap komunitas lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) di Malaysia setelah para aktivis mengeritik beberapa pejabat karena membuat pernyataan homofobik dalam beberapa pekan terakhir.

“Hubungan seksual antara orang-orang yang berjenis kelamin sama dilarang dalam Islam. Itu adalah pelanggaran dan salah secara moral,” Jaksa Khasmizan, sambal mengatakan bahwa proses pencambukan akan dilakukan di dalam pengadilan.

“Di bawah aturan syariah, mereka akan dicambuk menggunakan rotan di punggung mereka dengan (mengenakan) pakaian mereka dalam posisi duduk,” ujarnya, seperti dikutip laman SCMP.

Postcomended   Wisata di Dubai

Thilaga Sulathireh dari kelompok hak asasi manusia (HAM) Justice for Sisters, mengutuk keputusan pengadilan tersebut sebagai bentuk penyiksaan. Dia mengatakan ada kasus-kasus sebelumnya dari pasangan lesbian yang ditangkap, tetapi tidak diketahui apakah mereka dihukum.

“Hubungan seks konsensual di antara orang dewasa bukanlah kejahatan. Ini adalah preseden dan akan meningkatkan diskriminasi terhadap orang-orang LGBT,” katanya.

Seorang menteri pekan lalu memerintahkan penghapusan potret dua pendukung LGBT dari sebuah pameran fotografi publik karena mereka mempromosikan kegiatan-kegiatan gay. Kontan hal ini memicu kritik dari kelompok-kelompok HAM.

Sodomi (untuk gay) adalah kejahatan di Malaysia, yang dapat dihukum hingga 20 tahun penjara, meskipun penegakan hukum jarang terjadi. Hukuman dengan tuduhan sodomi ini sangat efektif, dan ini pernah ditimpakan kepada Anwar Ibrahim atas nama perebutan posisi politis.

Isu Gay di Malaysia
Isu homoseksualitas di Malaysia lebih “maju” ketimbang di Indonesia. Sejumlah kasus telah menimbulkan pro kontra yang bahkan memancing baik ulama maupun tokoh masyarakat menghilangkan diskriminasi terhadap mereka.

Dikutip dari Wikipedia, Malaysia mempertahankan larangan pidana warisan era kolonial ini (termasuk seks oral) secara luas lebih luas termasuk heteroseksual dan homoseksual, dengan kemungkinan hukuman termasuk denda, penjara maksimal 20 tahun, hingga hukuman fisik. Khusus Muslim juga dapat dituntut di pengadilan Islam khusus.

Postcomended   Sedikit Belajar dari Bromo

Beberapa aturan baik formal dan informal yang pernah diberlakukan Malaysia terhadap kaum LGBT misalnya pada 2010, Badan Sensor Film Malaysia mengumumkan hanya akan mengizinkan film yang mengandung karakter homoseksual selama karakter tersebut “bertobat” atau mati. Pada 2005, kepala Angkatan Laut Malaysia (RMN) Mohd Anwar Mohd Nor menyatakan bahwa Angkatan Laut tidak akan pernah menerima homoseksual.

Pada 2001, mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad menyatakan bahwa negara akan mendeportasi setiap menteri kabinet asing yang berkunjung atau diplomat yang gay. Meskipun sang ayah bersikap keras, namun putri Mahathir, Marina Mahathir, pernah menyerukan diakhirinya diskriminasi yang berdasarkan orientasi seksual.

Pada Mei 2017, pawai kebanggaan LGBT yang diselenggarakan oleh Universitas Taylor yang direncanakan pada Juni dibatalkan karena tekanan Islam. Apalagi acara ini rencananya dilakukan di bulan Ramadhan, dan dianggap tidak sopan.

Peliknya pro kontra terhadap LGBT juga mendapat perhatian dari ulama Malaysia moderat. Perlis mufti Datuk Mohd Asri Zainul Abidin, dalam postingan di Facebook-nya Juli lalu meminta masyarakat menghormati komunitas LGBT. Dia menulis, homoseksualitas ditolak Islam karena menghancurkan tatanan alami ciptaan Tuhan.

Abidin mengatakan, meskipun homoseksual adalah “orang berdosa” yang harus dibawa kembali ke jalan yang benar, kelompok LGBT masih berhak mendapatkan hak mereka dalam pendidikan, bisnis, pekerjaan, keadilan, dan properti selama mereka tidak melanggar hukum apa pun.

Postcomended   SIAL INTERFOOD 2017

“Mereka yang berdosa, tidak berarti bahwa mereka ditolak haknya dalam hal-hal lain. Sama seperti seks terlarang atau homoseksualitas atau minum alkohol atau judi dan sebagainya,” jelas Abidin di Facebooknya itu.

Dosa-dosa ini, lanjut Abidin, ditolak dan ditinggalkan, tetapi mereka yang melakukan dosa tidak ditolak haknya yang diabadikan. “Terlebih lagi, dalam hidup di suatu negara, setiap warga negara memiliki hak khusus mereka,” ujarnya.***

 

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top