Lifestyle

Sering Mimpi Jenis Ini? Waspadai Risiko Demensia

Chia-Hsin Ho / Creative Commons / Via Flickr: hsinho; /via Buzzfeed

Chia-Hsin Ho / Creative Commons / Via Flickr: hsinho; /via Buzzfeed

Terkadang kita bermimpi namun saat terbangun kita lupa apa yang kita mimpikan. Namun hampir semua orang dapat mengingat mimpi buruk yang paling mengerikan. Dikejar oleh seseorang atau sesuatu, terlambat untuk ujian besar, semua gigimu rontok, atau mimpi apa pun itu, yang membuatmu terbangun dalam kepanikan, adalah gejala yang harus diwaspadai.

Terlebih jika di dalam mimpi itu Anda menjerit, menendang, atau meronta-ronta, otak Anda bisa menghadapi risiko buruk. Sering mimpi buruk dapat disebabkan oleh “gangguan perilaku tidur REM” (disingkat RBD), suatu kondisi yang menyebabkan pasien secara fisik bertindak keluar mimpi kekerasan.

Laman Reader’s Digest mencuplik Live Science menyebutkan, para peneliti telah menemukan bahwa lebih dari 80 persen pasien RBD akhirnya mengembangkan penyakit neurologis, seperti Parkinson atau demensia (pikun).

Postcomended   Melahirkan Anak Lima Kali atau Lebih Dikaitkan dengan Potensi Tinggi Alzheimer

“Untuk beberapa alasan, sel-sel di area tidur REM adalah yang akan pertama mengalami masalah, dan kemudian penyakit neurodegeneratif menyebar ke otak dan mempengaruhi area lain yang menyebabkan gangguan seperti penyakit Parkinson,” kata John Peever, PhD, ahli saraf di Universitas Toronto yang memimpin penelitian ini kepada Live Science.

Gangguan perilaku REM, kata Peever, sebenarnya adalah prediktor (peramal) paling terkenal dari serangan penyakit Parkinson.

Dua penelitian dari 2013 juga menemukan bahwa lebih dari 80 persen pasien RBD mengembangkan gangguan neurodegeneratif dalam satu dekade, tetapi penelitian tersebut hanya mampu menunjukkan korelasi. Studi yang lebih baru, yang dipresentasikan di Canadian Neuroscience Meeting pada 2017, telah membuktikan hubungan sebab akibatnya.

Postcomended   Awas, Mendengkur adalah Indikasi Tersumbatnya Jalan Napas (2)

Dan sementara RBD menakutkan bagi mereka yang mengalaminya, kondisi ini dapat membantu dokter mengidentifikasi siapa yang paling berisiko mengalami gangguan neurodegeneratif lainnya.

Menurut Peever, langkah berikutnya dalam penelitiannya adalah mengembangkan terapi obat yang dapat mengobati pasien yang telah didiagnosis dengan RBD. “Terapi semacam itu kemungkinan tidak akan menyembuhkan pasien RBD, karena sel-sel otak yang menyebabkan gangguan itu sudah rusak,” katanya kepada Live Science, “Tetapi itu bisa mencegah penyakit menyebar ke seluruh otak.”

Para ilmuwan masih harus menghadapi jalan panjang sebelum mereka dapat benar-benar menghilangkan gangguan neurodegeneratif. Tetapi ada beberapa hal yang mereka ketahui dapat membantu mencegah kondisi ini.***

 

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top