Seruan Boikot: Starbucks Tegaskan Lagi Dukungan Kepada LGBT

Seruan Boikot: Starbucks Tegaskan Lagi Dukungan Kepada LGBT

Ekonomi Internasional Nasional Politik
Share the knowledge

Sejumlah perusahaan kelas dunia diketahui mendukung LGBT (lesbianisme, gay, biseksual, dan transgender). Sebut saja di antaranya Facebook, Apple, Adidas, Coca-cola, dan… Starbucks. Lalu kenapa isu boikot terhadap Starbucks mengemuka lagi di Indonesia? Padahal Starbucks juga perusahaan yang pernah menyatakan dukungan terhadap para pengungsi Timur Tengah.

Jumat, 30 Juni 2017, seruan memboikot gerai kopi asal Amerika Serikat (AS) ini mengemuka lagi di tanah air. Alasannya seperti dilansir Republika, CEO Starbucks, Howard Mark Schultz, menegaskan lagi dukungannya kepada kaum LGBT.

Dalam pertemuan dengan para pemilik saham Starbucks, Schultz secara tegas mempersilakan para pemegang saham yang tidak setuju kepada LGBT untuk hengkang dari Starbucks. (http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/07/01/osd25f284-boikot-starbucks-tegaskan-identitas-bangsa).

Salah satu yang mereaksi pertama kali adalah Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Mereka meminta pemerintah mencabut izin operasional Starbucks di Indonesia.

Muhammadiyah Khawatir, sebagian keuntungan yang didapat Starbucks di Indonesia akan dipergunakan melegalisasi LGBT dan perkawinan sejenis. (http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/06/30/203048926/netizen.kritisi.seruan.boikot.starbucks.di.indonesia).

Suara.com Aa Gym Beri Bukti Starbucks Sumbang Dana untuk LGBT Images may be subject to copyright. Learn More Related images
Suara.com Aa Gym Beri Bukti Starbucks Sumbang Dana untuk LGBT Images may be subject to copyright. Learn More Related images

Starbucks Indonesia melalui Yuti Resani, Marketing Communications dan CSR Manager  PT Sari Coffee Indonesia, selaku pemegang lisensi Starbucks Indonesia, Januari lalu mengatakan, pihaknya menghargai keragaman dan kesetaraan, dan berkomitmen sejalan dengan kebijakan manajemen Starbucks pusat di AS.(http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/07/01/osd25f284-boikot-starbucks-tegaskan-identitas-bangsa).

Namun, ia juga tidak menampik ada hal-hal yang patut dihormati dalam menjaga hubungan bisnis di seluruh dunia. Yaitu, Starbucks Indonesia tetap menghormati budaya lokal setempat, menjaga kepercayaan di mana Starbucks melakukan bisnis di berbagai dunia. (http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/06/30/o2dj53330-mendukung-lgbt-ini-jawaban-starbucks-indonesia).

Postcomended   FDA Terima 127 Laporan Kejang, Diduga Terkait Rokok Elektronik

Para netizen, terutama di media sosial Twitter, pun ramai-ramai memperbincangkannya. Isu ini bahkan sempat menjadi trending topic dunia.

Akun @imanlagi bercuit,  banyak perusahaan lain yang akrab dengan masyarakat Indonesia yang lebih terbuka mendukung LGBT, namun tak pernah diserukan untuk diboikot. “Sebenarnya kalau soal dukungan terbuka utk LGBT, Apple, Adidas, atau Nike lebih total loh,” kata akun @imanlagi, mewakili banyak akun senada.

Postcomended   17 November dalam Sejarah: Dalai Lama ke-14 Pimpin Tibet di Usia ke-15

Sementara itu akun @Dhandy_Laksono menyayangkan alasan pemboikotannya lebih diarahkan pada isu LGBT-nya. Menurut sineas film dokumenter ini, harusnya pencabutan izin operasional dan pemboikotan Starbucks di Indonesia dilakukan karena alasan ancaman terhadap eksistensi petani kopi lokal. (http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/06/30/203048926/netizen.kritisi.seruan.boikot.starbucks.di.indonesia).

Menariknya, Starbucks adalah juga perusahaan yang gencar menentang sikap Presiden AS, Donald Trump, yang anti-imigran. Padahal imigran yang sedang “eksis” saat ini adalah asal Timur Tangah yang notabene muslim. Bukan kebetulan Trump adalah juga anti-LGBT.

Hal itu diekspresikan Starbucks dengan menyatakan akan mempekerjakan 10.000 pengungsi di seluruh dunia. Para pendukung Trump pun lantas menyerukan boikot atas Starbucks dengan tagar #BoycottStarbucks.

“Muncul #BoycottStarbucks karena mereka berniat mempekerjakan pengungsi, Anda tahu artinya? Saatnya untuk minum Starbucks,” ujar Shafeeq Younus, pengguna Twitter.

Perusahaan yang berbasis di Seattle ini memang memiliki sejarah panjang keterlibatannya dalam politik. Bukan kali ini saja Starbucks berada di tengah pusaran permasalahan besar. ***(ra)

Postcomended   9 Sepeda Downhill Terbaik dari 2017


Share the knowledge