Gua Jomblang sebelum dan sesudah banjir (sumber foto: Instagram)

Dampak pemanasan global telah melahirkan siklon tropis Cempaka, badai yang menurut ahli bersifat anomali. Otoritas terkait menyatakan, selain telah memakan korban jiwa, kerugian sudah mencapai triliunan rupiah. Dahsyatnya siklon Cempaka bahkan telah mengakibatkan gua vertikal Luwang Jomblang di Gunung Kidul Yogyakarta yang berkedalaman 80 meter, dipenuhi air hingga permukaannya.

Cahyo Alkantana, pengelola kawasan Gua Jomblang, Rabu (29/11/2017), mengatakan, pihaknya akan menutup tujuan wisata ini hingga 3 hari ke depan. “Nanti kalau sudah dibuka, hanya licin saja karena endapan lumpur,” kata Cahyo.

Menurut Cahyo, gua Jomblang sudah dipersiapkan secara profesional termasuk telah dilengkapi early warning sytem terhadap bahaya banjir.

Selain Gua Jomblang, lokasi wisata populer lainnya yang hilang ditelan genangan banjir adalah Gua Pindul yang terletak di daerah sama dengan Gua Jomblang.

Sementara itu Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan seperti dilansir Kompas, dampak siklon tropis Cempaka telah menyebabkan bencana banjir, longsor dan puting beliung di sejumlah daerah di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah (Jateng) dan Jawa Timur (Jatim).

Postcomended   Kawah Sileri Sudah Renggut Ratusan Nyawa

Banjir masih merendam di beberapa tempat seperti di Pacitan, Magetan, Wonogiri, hingga Klaten. Korban jiwa sejauh ini mencapai 19 orang.

Yogyakarta, Wonogiri, Pacitan, dan Ponorogo, kata Sutopo melalui keterangan tertulisnya, Rabu (29/11/2017), adalah daerah yang paling terdampak badai. Pasalnya, jarak wilayah ini paling dekat siklon ini.

Kerugian dan kerusakan ekonomi sementara ini diperkirakan mencapai triliunan rupiah. Siklon tropis ini diperkirakan baru akan menjauhi dari wilayah Indonesia pada Kamis (30/11/2017).

Postcomended   Gempa Jepang: Suaranya Terdengar hingga Batas Angkasa

Siklon tropis Cempaka disebut sebagai siklon terbesar yang pernah terjadi di Indonesia. Hal ini seperti disebutkan Ketua Program Studi Meteorologi ITB, Armi Susandi, kepada CNNIndonesia.com, Rabu (29/11/2017).

Menurut Armi, siklon Cempaka tidak akan bergerak ke daratan. “Selalu terjadi di laut, (sebab) di darat tak ada tekanan rendah,” jelasnya.

Penyebab terbentuknya siklon Cempaka adalah ketika terjadi pertemuan udara bettekanan rendah, di atas 1000 milibar, dengan temperatur permukaan laut 26,5 derajat celcius.

Kondisi ini memunculkan pola tarikan yang berputar; dan ini kata Armi bersifat anomali sebagai gejala pemanasan global. Karenanya kata Armi, Cempaka merupakan siklon tropis baru yang sebelumnya hanya kecil saja.

Kendati Cempaka dilaporkan akan menjauh pada Kamis, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bakal munculnya badai baru. Badai bernama Dahlia ini sudah terbentuk pada Rabu (29/11/2017) pukul 19.00 di barat daya Bengkulu.

Postcomended   Usai Cempaka dan Dahlia, Siklon Berikutnya Mungkin Berawalan Huruf E

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Mulyono Rahadi Prabowo, mengatakan, siklon tropis Dahlia bakal lebih kuat dan lebih awet dibandingkan Cempaka, dengan kecepatan 12 km/jam ke arah timur tenggara.

Namun Tidak berarti siklon Dahlia bakal lebih besar dari Cempaka. Cempaka menimbulkan dampak besar karena tempat lahirnya yang sangat dekat dengan daratan.(***/cnnindonesia/kompas)

#guapindul #bejiharjo #karangmojo #gunungkidul #banjir 🙏

A post shared by Chandra Setya Negara (@chandrachered) on

Share the knowledge