Sejumlah tanaman ganja yang pernah disita aparat di Indonesia. Foto oleh Rahmad (Antara) – https://kumparan.com/maria-duhita/pro-dan-kontra-ganja-di-indonesia

Masalah ganja di Indonesia belum juga tuntas. Setelah kepergian Yeni Riawati—istri Fidelis Ari—isu ganja seperti menguap begitu saja. UU Narkotika belum direvisi karena berbagai kalangan saling berseberangan dalam melihat penggunaan ganja sebagai obat.

Memang menurut Menteri Kesehatan, Nila Moeloek, ganja berfungsi sama seperti morfin. Ia tidak menyembuhkan melainkan hanya mengatasi rasa sakit yang diderita pasien. Nila mengatakan, hingga saat ini belum ada penelitian yang dilakukan terkait manfaat ganja untuk pengobatan. Menurutnya, belum ada pula rencana Kementerian Kesehatan melakukan penelitian meskipun sudah ada usulan dari sejumlah kalangan.

Tuntutan untuk merevisi UU Narkotika tersebut mencuat setelah Badan Narkotika Nasional (BNN) menangkap dan menahan Fidelis Ari. Beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) menilai, Fidelis tidak seharusnya ditangkap karena menanam ganja untuk pengobatan isterinya yang mengidap kista tulang belakang.

Postcomended   KPK Lelang Mobil Sitaan dari Para Koruptor

Analis Kebijakan Narkotika LBH Masyarakat Yohan Misero mengatakan, legalisasi bisa dilakukan melalui revisi Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Sebab, saat ini UU tersebut tidak mengakomodasi penggunaan ganja untuk kesehatan. Bahkan, pasal 8 UU Narkotika justru melarang pemanfaatan narkotika golongan I untuk kesehatan.

Yohan juga mendorong agar pemerintah melakukan penelitian untuk membuktikan manfaat daun ganja untuk kesehatan. Ia meyakini, teknologi serta sumber daya manusia saat ini mampu untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas. Mentri Nila menanggapi segala tuntutan itu.

“Ya, silakan (mengusulkan). Tapi belum nanti saya cek. Tapi menurut saya belum ya,” kata dia kepada Kompas.com. LSM yang menuntut pelegalan ganja untuk kesehatan hingga kini belum menerima kabar baik dari kementerian kesehatan beserta jajaran pihak berwenang.

Beberapa opini masyarakat menyiratkan bahwa ada dukungan besar tentang legalisasi ganja. Menurut para pendukunngnya, keberadaan ganja justru merupakan pemantik kerativitas. Ganja dianggap tidak pernah membunuh para penggunanya—tak seperti produk kesehatan yang mengandung zat yang membunuh.

Postcomended   Happy Five, Obat Resep Dokter yang Disalahgunakan

Salahsatu yang mendorong pelegalan ganja sebagai obat adalah Lingkar Ganja Nusantara atau LGN. Dalam gerakannya, LGN mengklaim untuk tidak mengajak masyarakat untuk memiliki, menanam, memelihara, nemiliki, menyimpan, dan menggunakan ganja untuk alasan apapun yang tidak dibenarkan pemerintah.

Pada tahun 2014, LGN sempat bertemu dengan BNN dan Kementerian Kesehatan RI untuk mulai mengadvokasi proses riset terhadap ganja di Indonesia. Riset ini nantinya akan menjadi salah satu bahan rujukan untuk pertimbangan revisi terhadap UU no 35 tahun 2009 yang kerap menyandung mereka yang menggunakan ganja untuk kebutuhan penelitian dan kesehatan.

Hingga kini, perdebatan legal tidaknya ganja untuk pengobatan masih berlangsung. Kementerian kesehatan masih pada posisinya yang melarang ganja untuk tujuan apapun. Tentu komunitas semacam LGN juga masih akan berjuang, melakukan penelitian dan sebagainya. Sebagaimana pula penelitian US National Library of Medicine yang menyatakan bahwa ganja memang memiliki efek positif—terutama untuk meredakan rasa sakit pada otot.***

Postcomended   Diduga Anti-Vaksin, Anak Artis ini Terserang Campak (1)