Lifestyle

Startup Hermeus Berencana Bangun Pesawat Lima Kali Kecepatan Suara

Share the knowledge

Pesawat hypersonic rancangan perusahaan Hermeus (gambar dari: https://www.geekwire.com/2019/hermeus-wins-seed-funding-hypersonic-aircraft-former-blue-origin-president-adviser/)

Pesawat hypersonic rancangan perusahaan Hermeus (gambar dari: https://www.geekwire.com/2019/hermeus-wins-seed-funding-hypersonic-aircraft-former-blue-origin-president-adviser/)

Satu startup AS berencana membangun pesawat berkecepatan lima kali kecepatan suara yang dapat menempuh New York – London dalam 90 menit. Padahal perusahaan pesawat supersonik terdahulu saja, Concorde, harus mengakhiri operasinya karena biaya operasional yang mahal.

Perusahaan dirgantara Hermeus Corporation yang berbasis di Atlanta, Amerika Serikat (AS), mengaku telah memperoleh “dana benih” (seed funding) dan investor swasta untuk mengembangkan pesawat penumpang komersial yang akan melakukan perjalanan pada kecepatan suara Mach 5;  lima kali lebih cepat daripada Mach 1.

Seed funding adalah pendanaan tahap awal dengan maksud mencari tahu potensi suatu produk/proyek. Jika proyek ini berhasil, diharapkan akan terjadi revolusi penerbangan transatlantik komersial.

Saat ini, perjalanan udara antara London dan New York membutuhkan waktu lebih dari tujuh jam. Pembuatnya berharap pesawat ini akan mampu menempuh jarak 4.600 mil, dengan kecepatan jelajah 3.300 mil per jam.

“Kami telah memulai perjalanan untuk merevolusi infrastruktur transportasi global, membawanya dari setara dengan dial-up, ke era broadband, dengan secara radikal meningkatkan kecepatan perjalanan jarak jauh,” AJ Piplica, CEO Hermeus yang juga salah satu pendirinya, mengatakan dalam sebuah pernyataan di situs web perusahaan.

Para pendiri Hermeus diketahui antara lain adalah mantan karyawan dari SpaceX; startup roket milik miliarder  Elon Musk, dan Blue Origin; perusahaan ruang angkasa milik boss Amazon, Jeff Bezos. Keempat pendiri Hermeus bekerja sama di Generation Orbit, di mana mereka bekerja pada pengembangan pesawat roket hipersonik dan X-Plane terbaru Angkatan Udara AS.

Postcomended   Kairo TerindikasiBantu Beijing Menahan Orang Uighur yang Berada di Mesir

Atas niat ini, Paul Bruce, dosen senior di Departemen Aeronautika di Imperial College London, Inggris, membunyikan nada peringatan. Dia mengatakan, tantangan terbesar untuk penerbangan hipersonik adalah daya dorong.

“Kami telah mengirim kendaraan kecil ke atas (ke ruang angkasa) dan menerbangkannya secara hipersonik menggunakan scramjet; jenis mesin jet yang canggih. Ini cukup eksperimental dan kami harus menempuh jalan yang panjang sebelum kami melihatnya dapat digunakan sebagai pesawat penumpang,” tegas Bruce.

Bruce menjelaskan, ada banyak kesulitan lain dengan terbang yang cepat secara rutin. Kemampuan teknik untuk mengembangkannya boleh saja dikuasai, namun kata dia akan muncul masalah lebih besar dalam hal keuangan dan mungkin masalah lingkungan.

Terbang dengan cepat, kata Bruce, akan membakar banyak sekali bahan bakar, sehingga akan jauh lebih tidak efisien daripada terbang perlahan. ‘Tetapi jika ada pasar untuk itu, saya tidak ragu bahwa kita bisa membangun salah satu dari jenis pesawat ini,” ujarnya

Salah seorang pendiri dan CEO Hermeus, AJ Piplica, mengatakan kepada CNN bahwa sebuah pesawat penumpang akan membutuhkan waktu satu dekade untuk berkembang. “Kami memiliki banyak penerbangan yang harus dilakukan dalam waktu tersebut. Kami akan memiliki setidaknya dua iterasi (perulangan produksi) pesawat yang lebih kecil yang akan kami bangun, uji, dan belajar darinya, dalam waktu (satu dekade) tersebut,” katanya.

Postcomended   Ketika Gajah Mada Menjadi Gaj Ahmada

Menurut Piplica, Jika suatu saat pesawat ini mulai beroperasi, harga tiketnya diperkirakan akan menelan sekitar 3.000 dollar AS (sekitar Rp 42 juta) untuk sekali jalan antara New York dan London.

Hermeus Corporation bukan yang pertama melakukan perjalanan hipersonik. Pada Juni 2018, Boeing meluncurkan rencana untuk pesawat penumpang hipersonik. Lockheed Martin dan Aerion Corporation juga tengah menjajaki membuat pesawat hipersonik.

Jika berhasil, pesawat Hermeus akan dua kali lebih cepat dari Concorde, pesawat supersonik yang melakukan penerbangan transatlantik terakhir pada Oktober 2003 dan melakukan perjalanan antara New York dan London dalam waktu kurang dari empat jam.

Belajar dari Concorde

Jika belajar dari Concorde, pesawat supersonik yang pernah beroperasi secara komersial, dia bekerja dalam lingkungan yang tidak efisien. Pada 1997, harga tiket PP London-New York mencapai 7.995 dolar AS (sekitar Rp 120 juta). Harga tiket ini 30 kali lipat harga tiket paling murah untuk rute yang sama menggunakan jet biasa.

Entah sudah balik modal atau belum, biaya pengembangan awal pesawat ini saja mencapai 70 juta poundsterling atau sekitar Rp 1,3 triliun. Ini tidak termasuk pembengkakan hingga 25,2 triliun selama pengembangannya yang tidak sesuai waktu. Akibatnya, jumlah produksi pesawat ini kecil.

Postcomended   Kampanye #Budayabeberes KFC Indonesia Picu Pro Kontra Seru Warganet

Hingga menyatakan berhenti beroperasi, hanya tujuh pesawat yang diproduksi dan ini tidak efisien untuk menutup biaya keseluruhan. Apalagi banyak sarat yang harus dipenuhi teknologi supersonik (apalagi hypersonik), yakni ledakannya yang memekakan telinga sehingga pesawat berkecepatan semacam ini hanya bisa digunakan dalam penerbangan lintas samudera.

Keputusan menghentikan penerbangan Concorde diambil setelah Concorde milik Air France jatuh setelah lepas landas dari Paris pada 25 Juli 2000, yang menewaskan 113 orang; satu-satunya kecelakaan dalam sejarah Concorde. Tiga tahun kemudian, tepatnya 24 Oktober 2003, Concorde melakukan perjalanan terakhirnya.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top