Studi Berdekade-dekade: Optimisme Dapat Bantu Seseorang Hidup Lebih Lama

Lifestyle
Share the knowledge

 

Optimistis (gambar dari: afiftabsh.com)
Optimistis (gambar dari: afiftabsh.com)

Menurut satu penelitian yang mencakup beberapa dekade, orang yang optimistis lebih cenderung hidup sampai ulang tahun ke-85 bahkan melampauinya, bahkan ketika faktor-faktor yang berpotensi memperpendek umur, diperhitungkan.

Faktor-faktor yang berpotensi memperpendek umur itu seperti status sosial ekonomi, kondisi kesehatan, diet, dan apakah seseorang merokok atau minum. Menurut peneliti, mereka rata-rata bisa hidup 11-15 persen lebih lama, dan mencapai apa yang dikenal sebagai “umur panjang yang luar biasa”.

Para penulis makalah, yang diterbitkan dalam jurnal PNAS yang dimendefinisikan optimisme sebagai “mengharapkan hal-hal baik terjadi, dan keyakinan bahwa masa depan akan positif karena kita dapat mengendalikan hasil penting”. “Umur panjang yang luar biasa”, sementara itu, didefinisikan sebagai mencapai atau melampaui usia 85.

Para peneliti mempelajari data dari dua kelompok: 69.744 wanita dari Nurse’s Health Study (NHS), dan 1.429 pria dari Veterans Affairs Norming Aging Study (NAS).

Penelitian pada kelompok pertama telah berjalan sejak 1976, dengan peserta mengisi kuesioner dua tahun sekali. Pada 2004, para peserta mengisi survei tentang optimisme mereka, yang ditindaklanjuti pada tahun 2014.

Postcomended   Wali Kota Sangkal Isu Tutupnya Toko Kopi Legendaris Bogor

Sementara itu kelompok NAS dimulai pada 1961, dan responden menyelesaikan tes optimisme pada 1986. Peneliti memeriksa untuk melihat apakah peserta sampai 2016.

Dari total peserta NHS, 86 persen hidup sampai 85 tahun atau lebih, dengan optimisme yang terkait dengan kehidupan yang lebih lama. Demikian pula, 56 persen dari peserta NAS mencapai 85 atau lebih, dengan optimisme, lagi-lagi tampaknya menjadi faktor yang berkontribusi.

Para penulis menjelaskan: “Orang-orang yang optimistis cenderung memiliki tujuan dan keyakinan bahwa mereka dapat mencapainya. Dengan demikian, optimisme dapat menumbuhkan kebiasaan yang meningkatkan kesehatan dan meningkatkan resistensi (penolakan) pada impuls yang tidak sehat melalui keterlibatan yang lebih besar dengan tujuannya seseorang, pemecahan masalah yang lebih manjur, dan penyesuaian tujuan ketika mereka menjadi tidak terjangkau.”

Postcomended   Leonardo DiCaprio: Susi Pemimpin yang Dibutuhkan Seluruh Dunia

Orang-orang ini juga mungkin mengalami respons emosional yang tidak terlalu ekstrem terhadap situasi yang penuh tekanan, dan pulih lebih cepat dari situasi itu. Mereka juga lebih cenderung melihat kesulitan sebagai tantangan daripada ancaman, dan menolak imbalan langsung demi mencapai tujuan jangka panjang mereka.

Namun, para penulis mengakui bahwa para peserta survei ini –selain sebagian besar berkulit putih– memiliki status sosial ekonomi yang lebih tinggi daripada rata-rata orang Amerika, sehingga temuan mereka mungkin tidak berhubungan dengan populasi yang lebih luas.***


Share the knowledge

Leave a Reply