Buy me a coffeeBuy me a coffee
Internasional

Studi: Besaran Jejak Karbon Militer AS Lebihi 140 Negara

Share the knowledge

Militer AS sumbang jejak karbon lebih besar daro 140 negara. Pada 2017, Angkatan Laut (navy) AS saja membeli bahan bakar hidrokarbon (fosil) sebesar 2,8 miliar dollar AS. (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=7-2Vm7k0uW4)

Militer AS sumbang jejak karbon lebih besar daro 140 negara. Pada 2017, Angkatan Laut (navy) AS saja membeli bahan bakar hidrokarbon (fosil) sebesar 2,8 miliar dollar AS. (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=7-2Vm7k0uW4)

Militer AS menghasilkan lebih banyak emisi gas rumah kaca dibanding 140 negara. Jejak karbon mereka dimulai dari rantai pasokan perusahaan yang bergantung pada jaringan kapal kontainer global yang luas, truk dan pesawat kargo untuk memasok operasinya yang mengangkut bom hingga bantuan kemanusiaan dan bahan bakar hidrokarbon (fosil).

 

Studi ini ditulis Benjamin Neimark, Dosen Senior, Pusat Lingkungan Lancaster, Universitas Lancaster; Oliver Belcher, Asisten Profesor Geografi, Universitas Durham; dan Patrick Bigger, Dosen Geografi Manusia, Pusat Lingkungan Lancaster, Universitas Lancaster, melalui artikel via Newsweek yang dipublikasikan pertama kali oleh The Conversation.

Studi baru mereka ini menghitung kontribusi infrastruktur raksasa tersebut terhadap perubahan iklim. Disebutkan para peneliti tersebut, militer Amerika Serikat (AS) adalah salah satu pencemar terbesar dalam sejarah. Mereka mengonsumsi lebih banyak bahan bakar cair dan mengeluarkan lebih banyak gas yang mengubah iklim daripada kebanyakan negara berukuran sedang.

“Jika militer AS adalah suatu negara, penggunaan bahan bakarnya saja akan menjadikannya penghasil emisi gas rumah kaca terbesar ke-47 di dunia, berada di antara Peru dan Portugal,” sebut para peneliti.

Lebih lanjut mereka menjelaskan, pada 2017, militer AS membeli sekitar 269.230 barel minyak per hari dan mengeluarkan lebih dari 25 ribu kiloton karbon dioksida (CO2) dengan membakar bahan bakar itu. Angkatan Udara AS membeli bahan bakar senilai 4,9 miliar dollar AS, Angkatan Laut (navy) AS sebesar 2,8 miliar dollar AS, diikuti angkatan darat (army) sebesar 947 juta dollar AS, sementara Marinir sebesar 36 juta dollar AS.

Postcomended   Skizofrenia Dunia Maya

Emisi militer AS selama ini cenderung diabaikan dalam studi perubahan iklim. Sangat sulit untuk mendapatkan data yang konsisten dari Pentagon dan lintas departemen pemerintah AS. Faktanya, AS menuntut pembebasan tanggung jawab untuk melaporkan emisi militer sesuai Protokol Kyoto 1997.

Celah ini, kata penelitian tersebut, ditutup oleh kesertaan AS di Paris Accord, tetapi dengan pemerintahan Presiden AS, Donald Trump, akan menarik diri dari perjanjian ini pada 2020. Persetujuan Paris berada dalam kerangka UNFCCC yang mengawal agar reduksi emisi CO2 efektif berlaku mulai 2020. Persetujuan ini dibuat pada Konferensi Perubahan Iklim PBB 2015 di Paris.

Menurut para peneliti, studi mereka didasarkan pada data yang diambil dari beberapa permintaan Undang-Undang Kebebasan Informasi kepada Badan Logistik Pertahanan AS; agen birokrasi besar-besaran yang ditugaskan mengelola rantai pasokan militer AS, termasuk pembelian dan distribusi bahan bakar hidrokarbonnya.

Postcomended   Ekuador Beri Ultimatum Kucing pada Pendiri WikiLeaks

Militer AS telah lama memahami bahwa itu tidak kebal dari konsekuensi potensial perubahan iklim. Mereka mengenalinya sebagai “pengganda ancaman” yang dapat memperburuk risiko lainnya. Banyak pangkalan militer, meskipun tidak semua, telah mempersiapkan dampak perubahan iklim seperti kenaikan permukaan laut.

Militer AS juga tidak mengabaikan kontribusinya sendiri terhadap masalah ini. Seperti yang telah kami tunjukkan sebelumnya, militer AS telah berinvestasi dalam mengembangkan sumber energi alternatif seperti biofuel, tetapi ini hanya sebagian kecil dari pengeluaran untuk bahan bakar.

“Kebijakan iklim militer Amerika tetap kontradiktif. Ada upaya untuk ‘menghijaukan, aspek operasinya dengan meningkatkan pembangkit listrik terbarukan di pangkalan, tetapi tetap menjadi konsumen hidrokarbon terbesar di dunia. Mereka juga telah mengunci dirinya ke dalam sistem senjata berbasis hidrokarbon untuk beberapa tahun yang akan datang, dengan bergantung pada pesawat yang ada dan kapal perang untuk operasi terbuka,” papar penelitian tersebut.

Perubahan iklim telah menjadi topik hangat di jalur kampanye untuk pemilihan presiden AS  2020. Kandidat Demokrat terkemuka, seperti Senator Elizabeth Warren, dan anggota Kongres seperti Alexandria Ocasio-Cortez, menyerukan inisiatif iklim besar seperti Green New Deal. Agar semua itu efektif, kata para peneliti, jejak karbon militer AS harus dikemas dalam kebijakan domestik dan perjanjian iklim internasional.

Postcomended   Gelombang Panas hingga Topan yang Menerjang Jepang Bukan Bencana Biasa

“Studi kami menunjukkan bahwa tindakan terhadap perubahan iklim menuntut penutupan sebagian besar mesin militer. Ada beberapa kegiatan di Bumi yang sama merusaknya terhadap lingkungan seperti mengobarkan perang. Pengurangan signifikan terhadap anggaran Pentagon dan menyusutnya kapasitasnya untuk berperang akan menyebabkan penurunan besar permintaan dari konsumen terbesar bahan bakar cair di dunia ini,” kata penelitian itu.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply


Buy me a coffeeBuy me a coffee
Buy me a coffeeBuy me a coffee
To Top