Internasional

Studi: Dengan Alasan Efisiensi, Nenek Moyang Manusia Menjadi Kanibal

Share the knowledge

Homo antecessor yang diduga kuat saling memangsa untuk memperoleh nutrisi mudah dan "murah" ( (gambar darihttps://www.youtube.com/watch?v=ID-44QMnfsA)

Homo antecessor yang diduga kuat saling memangsa untuk memperoleh nutrisi mudah dan “murah” ( (gambar darihttps://www.youtube.com/watch?v=ID-44QMnfsA)

Satu juta tahun yang lalu, nenek moyang kita pergi berburu dan saling memangsa karena kanibalisme adalah strategi bertahan hidup yang sangat menguntungkan. Hal ini terungkap dalam satu riset atas temuan fosil Homo antecessor. Salah satu alasannya, pemenuhan gizi yang mudah.

Para ilmuwan menyebutkan, Homo antecessor adalah spesies yang diusulkan dari gagasan manusia purba yang telah hidup antara 1,2  juta dan 800 ribu tahun lampau. Anggota spesies ini juga disebut “kanibal manusia tertua”.

Para peneliti dari Pusat Penelitian Nasional untuk Evolusi Manusia (CENIEH) Spanyol, dalam studi yang mengamati perilaku berburu mereka, mengatakan, fosil yang ditemukan di situs arkeologi berisi tanda-tanda kanibalisme yang tidak perlu dipertanyakan lagi.

Laporan dalam makalah yang diterbitkan dalam Journal of Human Evolution ini menganalisis kasus kanibalisme ini dalam kerangka pencarian makanan yang optimal; membandingkan antara perburuan manusia dan hewan lain dalam hal manfaat nutrisi yang ditawarkan, dengan upaya yang harus dikerahkan dengan membunuh dan memproses tubuh.

Dengan kata lain, pemburu manusia purba ini, kata tim, ingin mendapatkan manfaat maksimal dengan biaya minimum. “Kanibalisme adalah praktik manusia yang lama dan tersebar luas; namun, penyebab dan makna mengonsumsi manusia lain masih menjadi perdebatan hangat,” tulis penulis penelitian, Jesus Rodriguez, Ana Mateos, dan Guillermo Zorrilla.

“Beberapa penjelasan dimungkinkan untuk perilaku kanibalistik, mulai dari motivasi sosial dan budaya hingga murni bermotid pemenuhan gizi.” Dalam penelitian sebelumnya, arkeolog Inggris, James Cole, menghitung nilai gizi tubuh manusia dan menerapkannya pada catatan Palaeolitik.

Postcomended   Melantai di Bursa New York, Virgin Galactic Harapkan Munculnya Ribuan Astronot Baru

Temuannya, yang diterbitkan dalam Scientific Reports, menyebutkan, kanibalisme tidak harus hanya didorong oleh kebutuhan akan nutrisi, karena nilai kalori daging manusia tidak sekuat mangsa lainnya. Ini, kata Cole, mengindikasikan ada juga alasan sosial dan budaya untuk kanibalisme prasejarah.

Mengomentari studi terbaru, Cole, yang tidak terlibat dalam penelitian, mengatakan kepada Newsweek bahwa temuan ini membantu memperbaiki alasan kanibalisme di antara leluhur kuno kita, yaitu motivasi perilaku kanibalisme menggunakan teori pencarian makan yang optimal.

“Pendekatan semacam itu sangat unik dan menunjukkan bahwa meskipun ada masalah dengan lamanya waktu, kita masih dapat menghasilkan interpretasi baru dari perilaku kompleks yang dilakukan leluhur hominin kita,” katanya.

Postcomended   28 April dalam Sejarah: Musolini Dieksekusi bersama Wanita Simpanannya, Jenazahnya Diludahi

“Interpretasi nutrisi tentu saja tampaknya didukung dengan baik berdasarkan bukti yang disajikan dalam makalah ini. Meskipun, mungkin perlu diingat bahwa motivasi sosial atau budaya untuk kanibalisme mungkin tidak sepenuhnya terlihat secara arkeologis meskipun dalam hal ini sisa-sisa hominin tampaknya telah sepenuhnya dikonsumsi. ”

Dalam makalah terbaru, para ilmuwan di CENIEH melihat “Teori Mencari Makan Optimal”; yang mempertimbangkan biaya/manfaat perburuan, untuk sejumlah mamalia besar dan hominin. Mereka juga memperhitungkan pilihan dan kelimpahan mangsa.

Temuan menunjukkan manusia “terlalu terwakili” di lingkungan, yang berarti mereka kemungkinan ditemui pada tingkat yang lebih tinggi, seperti yang bisa diharapkan jika individu yang dikanibal milik kelompok yang sama dengan pengumpul,” tulis para ilmuwan.

Sementara nilai gizi mereka mungkin tidak sebagus fauna lain yang tersedia pada saat itu, kesempatan untuk bertemu dengan manusia lain membuat mereka makan enak.

“Analisis kami menunjukkan bahwa Homo antecessor, seperti predator lainnya, memilih mangsanya mengikuti prinsip mengoptimalkan keseimbangan biaya-manfaat, dan mereka juga menunjukkan bahwa, mengingat hanya keseimbangan ini, manusia adalah tipe mangsa ‘peringkat tinggi’,” kata Rodriguez dalam sebuah pernyataan.

Postcomended   11 Mei dalam Sejarah: Komputer IBM Kalahkan Grandmaster Catur Garry Kasparov

“Ini berarti, jika dibandingkan dengan mangsa lain, banyak makanan dapat diperoleh dari (sesama) manusia dengan biaya rendah.”

Bagi Homo antecessor, lebih mudah menemukan manusia daripada hewan lain. Salah satu penjelasan yang mungkin untuk tingkat pertemuan yang tinggi di antara manusia ini adalah bahwa mayat yang dikanibal adalah orang-orang dari anggota kelompok yang telah meninggal karena sebab yang berbeda.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top