Tes Memakai Dompet Hilang Tempatkan Swiss di Nomor Wahid Kejujuran

Internasional
Share the knowledge

 

(gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=EUchpxVCLeQ)
(gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=EUchpxVCLeQ)

Studi terbaru mengetes, bagaimana orang-orang di 40 negara memutuskan mengembalikan atau tidak dompet yang hilang. Studi ini juga mengukurnya dengan jumlah uang tunai yang ada di dalamnya. Hasilnya, Peru, Maroko, dan Cina berada di tiga terbawah ihwal kejujuran.

Teori ekonomi klasik menunjukkan, semakin besar godaan semakin kecil kemungkinan seseorang untuk jujur​. Namun satu studi baru mematahkan anggapan itu. Keengganan kuat memandang diri sendiri sebagai “pencuri”  lebih besar daripada insentif keuangan.

Satu tim peneliti melakukan eksperimen besar yang mencakup 355 kota di 40 negara; salah satu investigasi paling ketat yang pernah dilakukan sejauh ini yang membawa emosi manusia ke persimpangan antara hasrat ekonomi dan psikologi.

Hasilnya, yang diterbitkan Kamis (20/6/2019) di Science, dan diteruskan laman AFP, mengungkapkan perbedaan ekstrem antar negara-negara tersebut. Dua negara Eropa, Swiss dan Norwegia, berada di puncak daftar kejujuran. Sementara itu tiga terbawah ditempati Peru, Maroko, dan Cina.

Meskipun tingkat kejujuran sipil sangat bervariasi antar negara yang diteliti, satu hal tetap sangat konstan: dompet dengan uang versus tanpa uang, mendorong tingkat pelaporan. Hasil ini tidak seperti logika di kepala banyak orang (bahkan ekonom): rata-rata kecenderungan global melaporkan dompet yang hilang adalah 40 persen, namu justru tumbuh menjadi 51 persen ketika dopetnya beriusi uang.

Postcomended   Moskow Tuding AS Mengalami "Histeria Anti-Rusia"

“Bukti menunjukkan bahwa orang cenderung peduli dengan kesejahteraan orang lain dan mereka tidak suka melihat diri mereka sebagai pencuri,” kata rekan penulis studi ini, Alain Cohn, dari Universitas Michigan di Amerika Serikat (AS).

Para peneliti dari Universitas Zurich dan Universitas Utah juga menjadi bagian dari penelitian ini. Para peneliti kemudian menyurvei sekelompok 279 ekonom profesional berkinerja terbaik untuk melihat apakah mereka akan secara akurat memprediksi hasilnya. Keakuratan prediksi mereka ternyata hanya 29 persen.

“Hasil kami menunjukkan bahwa bahkan para ahli cenderung memiliki intuisi sinis tentang motivasi orang lain, sering melebih-lebihkan peran insentif keuangan dan meremehkan peran kekuatan psikologis,” tambah Cohn.

Percobaan, yang menelan biaya 600.000 dollar AS ini tak tertandingi dalam hal besarnya. Lebih dari 17.000 dompet identik dijatuhkan di bank, lembaga kebudayaan seperti di teater dan museum, kantor pos, hotel, dan kantor polisi atau pengadilan.

Dompet itu akan diletakkan di atas meja oleh asisten peneliti, yang akan memberikannya kepada seseorang seraya  mengatakan bahwa mereka menemukannya di jalan tetapi sedang terburu-buru dan harus pergi.

Masing-masing dompet berisi daftar belanjaan, kunci, dan tiga kartu nama dalam bahasa lokal menggunakan nama laki-laki fiktif tetapi biasa serta alamat email, menandakan pemiliknya adalah penduduk setempat. Beberapa dompet tidak berisi uang, sementara yang lain berisi setara dengan 13,45 dollar AS, disesuaikan dengan daya beli  negara target.

Postcomended   18 Juni dalam Sejarah: AdSense Diluncurkan, “Jutawan AdSense” pun Bermunculan #SURUHGOOGLEAJA

Di tiga negara (AS, Inggris, dan Polandia), mereka mengulangi percobaan dengan lebih banyak uang: 94,15 dollar AS, yang mendorong tingkat pelaporan rata-rata 11 poin persentase dibandingkan dengan jumlah uang yang lebih kecil. Mereka juga menemukan, keberadaan kunci di dompet mendorong tingkat pelaporan sebesar 9,2 poin persentase di tiga negara.

Karena kunci lebih berharga bagi pemilik dompet tetapi bukan penemunya, ini mendorong pada keprihatinan altruisme. Altruisme adalah suatu sikap yang memberi perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri. Perilaku ini merupakan kebajikan yang ada dalam banyak budaya dan dianggap penting oleh beberapa agama.

Swiss di Puncak Kejujuran

Proporsi orang yang menghubungi pemiliknya melampaui 70 persen di Swiss dan Norwegia. Di ujung bertentangan adalah Cina, dengan kurang dari 10 persen orang mengembalikan dompet ketika kosong, meskipun persentase naik menjadi lebih dari dua kali lipat ketika mengandung yuan.

Kekayaan atau kemiskinan relatif negara ditemukan tidak cukup dalam menjelaskan perbedaan, kata Cohn, menambahkan bahwa pendidikan dan sistem politik dapat memainkan peran.

Postcomended   Kim Bongkar Fasilitas Uji Coba Rudal Sohae, Trump Bagai di Atas Angin

Secara keseluruhan, negara-negara yang lebih demokratis dan di mana warga negara merasa mereka adalah bagian dari proses pengambilan keputusan cenderung mendapat skor lebih tinggi pada kejujuran sipil.

Nilai-nilai budaya lokal yang menekankan norma-norma moral yang melampaui “in-group” seseorang, juga tampaknya terkait dengan tingkat pelaporan yang lebih tinggi.

Itu bisa menjelaskan mengapa negara-negara di mana ikatan keluarga secara tradisional sangat kuat, memiliki tingkat pengembalian yang lebih tinggi daripada negara-negara yang lebih individualis.***


Share the knowledge

Leave a Reply