Studi: Lautan Dunia Lebih Berbadai, Perubahan Iklim Berperan Meski Belum Dipahami

Internasional
Share the knowledge

Peristiwa gelombang tinggi bakal lebih sering terjadi (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=74pnrYPozcU)
Peristiwa gelombang tinggi bakal lebih sering terjadi (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=74pnrYPozcU)

Lautan dunia telah menjadi lebih bergejolak selama 33 tahun terakhir dengan gelombang lebih tinggi dan angin lebih kuat. Studi terbaru oleh ilmuwan di Universitas Melbourne ini menyebutkan, ada kemungkinan besar perubahan iklim berperan, meskipun belum dipahami.

Penulis studi Ian Young, seorang profesor teknik kelautan, mengatakan, lautan yang belakangan ini lebih deras dapat meningkatkan kemungkinan banjir di kawasan pesisir yang memperburuk erosi, sehingga meningkatkan kerentanan bagi pemukiman di kawasan ini.

“Ada kemungkinan besar bahwa perubahan iklim berperan, tetapi bagaimana tepatnya ini bekerja masih belum sepenuhnya dipahami,” tambahnya, seperti dilaporkan laman CNN. Fenomena cuaca termasuk El Nino, North Atlantic Oscillation dan Pacific Decadal Oscillation juga disebut dia dapat memengaruhi kondisi laut.

Greenland, pulau di Kutub Utara dengan 80% datarannya berupa paparan es, menurut studi itu mencair lebih cepat dari yang diperkirakan para ahli. Rekanan muda dan peneliti Agustinus Ribal menganalisis data tentang kecepatan angin dan tinggi gelombang dari 31 satelit yang berbeda, dikalibrasi terhadap 80 pelampung laut, antara tahun 1985 dan 2018.

Postcomended   Gara-gara Foto Diapit Dua Wanita Kulit Hitam, Boss Fesyen "Vogue" Undur Diri

Dia menemukan tinggi gelombang dan kecepatan angin meningkat di seluruh dunia, dengan kenaikan signifikan pada angin dan gelombang ekstrem. Perubahan terbesar ditemukan di Samudra Selatan, di mana angin ekstrem meningkat 3,3 mil per jam, atau total 8% selama periode 33 tahun. Ketinggian gelombang ekstrem tumbuh 30 sentimeter atau 5%.

Kecepatan angin ekstrem juga meningkat di Pasifik khatulistiwa dan Atlantik, serta Atlantik Utara, sebesar 0,6 meter per detik. “Meskipun peningkatan 5% untuk gelombang dan 8% untuk angin mungkin tidak banyak, jika dipertahankan di masa depan, perubahan pada iklim kita akan berdampak besar,” kata Young kepada CNN.

Menurutnya, dampak potensial dari kenaikan permukaan laut yang disebabkan oleh iklim telah dipahami dengan baik (yang mengakibatkan banjir). Peningkatan permukaan laut, kata dia, hanya membuat kejadian banjir akan lebih serius dan lebih sering.

Postcomended   Bahrain Bela Australia, Oman Merasa Saatnya Akui Israel: Ada Apa dengan Arab?

Young juga mengatakan, lautan yang lebih hangat di planet ini akan berpotensi pada banjir pantai dan erosi pantai. “Perubahan ini juga penting untuk desain struktur pantai dan lepas pantai dan bahkan (menimbulkan) pecahnya lapisan es Antartika,” kata Young.

Gerd Masselink, seorang profesor geomorfologi pesisir di Universitas Plymouth, Inggris, memuji metodologi yang sangat kuat dari penelitian ini. “Ini sebagian besar mengonfirmasi gambaran yang telah dibangun (oleh para ilmuwan) selama 10 tahun terakhir,” kata Masselink.

Namun, studi ini tidak membuktikan hubungan dengan perubahan iklim, dia menekankan seraya menjelaskan bahwa ada sistem iklim yang sangat kompleks yang mengendalikan cuaca, yang bervariasi dari satu dekade ke dekade bahkan tanpa tren seperti perubahan iklim.***


Share the knowledge

Leave a Reply