Lifestyle

Studi: Muslim Paling Puas dengan Kehidupannya karena Merasa Bersatu

Share the knowledge

Di dalam Islam ada istilah ukhuwah islamiyah dan juga silaturahim yang menimbulkan perasaan kesatuan dan ini memberikan perasaan kepuasan pada mereka (foto milik: John Lehmann / The Globe and Mail/via www.theglobeandmail.com)

Di dalam Islam ada istilah ukhuwah islamiyah dan juga silaturahim yang menimbulkan perasaan kesatuan dan ini memberikan perasaan kepuasan pada hidup mereka (foto milik: John Lehmann / The Globe and Mail/via www.theglobeandmail.com)

Satu studi lintas ilmu, boleh jadi untuk pertama kalinya mengukur keberhasilan seruan “ukhuwah islamiah” dalam ajaran Islam. Studi ini menyebutkan, Muslim merasa paling puas dengan kehidupan mereka dibanding agama lain, karena kesatuan dan keterhubungan yang dibingkai prinsip “Tauhid”.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa perasaan bersatu memprediksi kepuasan secara keseluruhan. Ketika para peneliti membagi 67.562 responden survei mereka berdasarkan agama, menurut mereka seperti dilansir laman Daily Mail, Muslim merasakan rasa kesatuan yang terbesar.

Penelitian ini, yang antara lain melibatkan ilmu agama, filsafat, dan psikologi, menyebutkan bahwa berbagai jenis keterhubungan (koneksi) menyebabkan perasaan kesejahteraan yang meluas.

Salah seorang ilmuwan yang terlibat penelitian adalah Dr Ed Deiner, profesor emeritus psikologi Universitas Illinois di Urbana-Champaign, Amerika Serikat (AS). Dia terkenal di kalangan akademik karena berhasil membuat skala untuk kebahagiaan yang dikenal dengan nama “Kepuasan dengan Skala Hidup”, disingkat SWLS.

Skala Dr Deiner ini terdiri dari lima pertanyaan yang dimaksudkan untuk menduga seberapa puas seseorang secara subyektif atas kehidupan mereka secara keseluruhan. Setiap pertanyaan mendapat peringkat seberapa kuat peserta tidak setuju atau setuju, dalam skala satu hingga tujuh. Semakin tinggi skor, semakin puas hidup Anda (seharusnya).

Sejumlah penelitian, termasuk survei Pusat Penelitian Pew 2016, menyebutkan, orang yang menggambarkan diri mereka sebagai “sangat religius” lebih cenderung mengatakan bahwa mereka “sangat bahagia” dengan kehidupannya. Sebagian besar (95 persen) orang AS yang sangat bahagia ini adalah orang Kristen: Protestan, Katolik, atau Mormon.

Postcomended   Kartel Narkoba Meksiko Menghalangi Penelitian Kelelawar Vampir

Tetapi spiritualitas, terlepas dari afiliasi dengan agama tertentu, juga terkait erat dengan kepuasan hidup, kesejahteraan, dan –pada pasien kanker– optimisme. Psikolog telah mendarat pada gagasan “kesatuan” sebagai benang merah yang mengalir melalui orang-orang spiritual dari semua agama.

Dalam laporannya Daily Mail menulis, bapak psikoanalisis, Sigmund Freud, pun berpikir bahwa semua manusia sangat membutuhkan untuk kembali ke “kesatuan” berada di dalam rahim ibu mereka, terhubung dengan segala cara kepadanya.

Lebih banyak psikolog kontemporer juga mengemukakan kesatuan sebagai ciri kepribadian. Semua konsep kesatuan ini tampaknya berkorelasi dengan kepuasan hidup yang lebih besar, yang pada gilirannya terkait dengan kesehatan mental dan fisik yang lebih baik.

Para peneliti di Universitas Mannheim di Jerman ingin menguraikan bagaimana kesatuan mempengaruhi kepuasan hidup lintas agama. Mereka menyurvei lebih dari 67.000 non-siswa (menggunakan sampel siswa diperkirakan membatasi dan memiringkan data tentang perasaan ‘kesatuan’ dan kepuasan hidup yang dilaporkan sendiri) yang kebangsaannya tidak jelas, tentang afiliasi keagamaan mereka, dan menggunakan pertanyaan yang dibuat untuk menilai seberapa terhubung dan terpenuhi yang dirasakan para orang dewasa ini.

Postcomended   Neanderthal dan Denisovan Kawin Silang, DNA Mereka Ada pada Manusia Sekarang

Menurut penelitian baru, yang diterbitkan dalam jurnal American Psychological Association, di antara semua kelompok, Muslim kemungkinan besar percaya bahwa mereka terhubung dengan sesuatu yang lebih besar daripada diri mereka sendiri.

Kedua adalah orang-orang Kristen yang menganggap diri mereka bukan Katolik atau Protestan melaporkan kepercayaan kesatuan rata-rata terbesar, diikuti oleh umat Buddha dan Hindu. Sementara itu ateis merasa paling tidak terhubung dengan orang lain atau kekuatan yang lebih tinggi. Model matematika yang dirancang para peneliti menegaskan hubungan yang kuat antara kesatuan dan kepuasan hidup.

“(Hasil) jelas menunjukkan bahwa arah kausal dari hubungan antara keyakinan kesatuan dan kepuasan hidup, adalah sejalan dengan asumsi yang berasal dari literatur: keyakinan akan kesatuan adalah penentu yang signifikan dari kepuasan hidup dari waktu ke waktu, namun tidak ada efek terbalik dari kepuasan hidup pada keyakinan kesatuan,” tulis penulis studi Dr Laura Marie Edinger-Schons, seorang psikolog Universitas Mannheim.

Prinsip Tauhid

Tujuan Buddhisme adalah Nirvana, yang pada kenyataannya dicapai dengan menghilangkan penderitaan, yang dianggap berakar pada keinginan untuk kemelekatan. Keyakinan inti agama Hindu adalah kebenaran.

Tetapi satu-satunya prinsip terpenting dalam Islam adalah prinsip ‘Tauhid”; kepercayaan pada konsep kesatuan monoteisme yang tak kasatmata, atau tentang satu Tuhan pemersatu. Jadi, mungkin tidak mengherankan bahwa Muslim merasakan rasa kesatuan yang terbesar.

Postcomended   Dunia Mendadak Berpaling ke Negeri Kecil Kaya Minyak Ini

Sulit untuk mengukur bagaimana rasa spiritual kesatuan dan koneksi mengubah otak dan tubuh kita, tetapi kita tahu bahwa koneksi sosial (silaturahim) yang kuat mendorong semuanya dari umur panjang ke sistem kekebalan tubuh yang lebih baik, empati yang lebih besar, dan lebih sedikit kecemasan dan depresi. Dan mungkin rasa keterhubungan spiritual datang dengan hal yang sama.

“Studi ini memperluas pengetahuan tentang psikologi agama, mengungkapkan tidak hanya tingkat rata-rata keyakinan kesatuan dalam kelompok-kelompok agama yang berbeda, tetapi juga mengeksplorasi pengaruh keyakinan ini pada kepuasan hidup sambil mengendalikan efek afiliasi agama,” tulis para peneliti.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top